Dunia Tanpa Tanya


Tidak ada yg absolut di dunia ini kecuali keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, menurut saya. Harusnya dalam iman, kita jalani saja segala perintah tanpa harus banyak tanya.

Kebayang gak betapa bingungnya Nabi Ibrahim dulu ketika diminta menyembelih Nabi Ismail, putra yang telah ditunggu sekian puluh tahun. Tanpa tanya Nabi Ibrahaim alaihissalam sami’na wa ato’na. Luar biasa sekali buat saya. Lalu betapa hebatny keimanan soleh/ah zaman Nabi terdahulu dalam mempertahankan agamanya, tak peduli rasa sakit mengancam dipelupuk mata, dan keajaiban berulang kali terjadi.

Tentu keimanan saya amat sangat jauh dari cerita-cerita tersebut, namun saya bisa membayangkan betapa ringan rasanya memiliki keyakinan, keimanan, yg begitu besar hingga tak lagi ada keraguan. Betapa menenangkannya hidup semacam itu. MasyaAllah..

Fikir bodoh dan pendek saya lantas melambung, andai hidup bisa tanpa banyak tanya seperti urusan keimanan. Andai apapun yang dihadapkan kepada kita dijalani saja tanpa banyak berpikir. Namun, rasanya salah juga menjalani segalanya tanpa tanya, kecuali keimanan kepada-Nya. Rasanya kok menyesatkan juga, seolah tidak ada usahaa untuk iqro dalam hidup ini. Sedang satu-satunya tujuan kita di dunia adalah untuk iqro dan pelan-pelan mengenal Tuhan.

Ah, entahlah. Ini hanya racauan yang entah keberapa kali yang kerap membawa saya pada kesimpulan-kesimpulan beresiko. Teringat pula kejadi baru-baru ini soal viralnya keputusan lepas jilbab seorang public figure. Pemikiran demi pemikiran ia lewati, titik demi titik ia capai hingga saat ini memutuskan untuk sebaiknya melepas hijabnya. Lalu terngiang diskusi bersama seorang teman, katanya pernah ia mendengar seorang Ustadz bertausiyah, perihal pemberian makan 3 bagian dalam hidup ini : qolbu, akal, dan jasad.

Ustadz berkata, semua harus diberi makan yang seimbang, jasad dengan makanan yang kita makan sehari-hari, akal dengan ilmu, dan qalbu dengan mempelajari cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Tidak boleh diubah prioritasnya katanya lagi. Haruslah qolbu diisi lebih dulu, lalu akal, kemudian jasad. Semacam menjadi pengingat untuk saya yang sempat menjalani fase bertanya tentang “Mengapa?”. Saya terus terang takut pada saat tersebut, karena merasa Tuhan tidak hadir menyertai, lalu ingin egois menjalani hidup tanpa pikir panjang dan tanpa pertimbangan apa-apa. Tapi iman, alhamdulillah masih tertancap cukup baik, hingga saya sadar, qolbu saya sedang kerontang, saya kelaparan.

Bagi saya, tanya sah-sah saja, selama tidak mempertanyakan keimanan. Alhamdulillah sejauh ini keimanan pada Allah SWT masih tertancap dalam-dalam, tak ada keraguan didalamnya. Tapi saya sangat sadar bahwa iman akan naik dan turun. Mungkin itu sebabnya banyak alim ulama yang mengajarkan kita untuk berdoa meminta ketetapan Iman, Islam, dan Ihsan. Lalu, ada pula yang menambahkan, berdoa meminta diterimanya amal, karena hey siapa yg bisa menjamin tulisan saya ini terlindung dari riya? Wallahuallam.

Entah nyambung atau tidak, tapi setidaknya saat ini saya yakin, saya tidak sedang meragukan Tuhan, tidak sedang mempertanyakan-Nya. Saya sedang mencoba menjalani hidup yang diberi tepat saat ini. Menikmati tiap hadiah yang sedang dicurahkan. Entah apa yang akan terjadi besok, maka terjadilah jika sudah qadarullah. Entah akan bagaimana saya esok, semoga saya bisa diberikan ketenangan dan kejernihan fikir juga hati dalam memutuskan dan menjalaninya. Siapapun mau berbuat apapun, situasi mau berubah seperti apapun, semoga saya bisa menjadi lebih matang, dan selalu dilingkupi dengan kesyukuran.

Bukankah semua yang terjadi adalah yang terbaik dari-Nya dan tidak akan melebihi kemampuan kita untuk mengembannya??

Ah, Allah, lagi-lagi saya jatuh cinta. Terima kasih atas segala kisah yang telah tertoreh. Meski luka tak mungkin tak meninggalkan jejak, meski memori tak serta merta akan lantas terhapuskan, saya ikhlas. Saya terima segalanya. Semoga penerimaan ini terus menyertai saya, semoga kelapangan hati terus menemani.

Tidak, saya tidak sedang mencari imbalan apa-apa. Saya hanya ingin hidup tenang dan nyaman dengan menerima kenyataan pahit yang telah digariskan untuk saya. Bukankah masih begitu berlimpah nikmat yang bisa saya hitung?

<b>Bogor, 23 Nov 2017, 0.26

Advertisements

It’s okay


Life may knock you down
People may push you to your very edge
You may disappoint yourself

It’s okay.
Shit happened.

You may fail to respond it well
It’s okay.

’cause you, are a work in progress
You learn from the failure you did in life

You may not succeed on your first trial
It’s okay.
You’re just human
Sometimes you fail to be a superman/woman

Just, don’t forget to learn
To get back up again after all those fall
To seek answer for your unanswered question
To keep on learning to be a better you.

You may not solve your own problem yourself
You, obviously, need God and admit that you just nobody without HIM
You may need other professional help
It’s okay.

You’re not crazy
You just want to be sane and make everything work again
Without forgetting how to cherish life

You sometimes feel lonely among all those people you called your people
You may still feel stupid to not feeling the life you used to enjoy to the fullest
It’s okay.

You just have your moment
Just like your previous moments in life
You’re on your way to take a big leap
Unfortunately this time you have to experience falling and failing in the same time

It’s so okay.
You’re a work in progress.
Nothing’s wrong with you
You just need a break to get back up again.

Bogor, 291017, 22.45

Meracau – Mencari Diri Yang Hilang


“When you lose touch with yourself, you lose yourself in the world.” – Eckhart Tolle

Kehilangan Diri Sendiri

Beberapa waktu lalu saya sempat mengalami fase dimana saya tidak tau saya harus apa. Saya tidak tau saya ingin apa. Saya seperti kehilangan arah, bingung harus kemana melangkah, dan bagaimana menikmati apa yang sedang dijalani. Dan persis seperti perkataan Exkhart Tolle diatas, saya merasa saya kehilangan diri saya.

Tentu bukan sekonyong-konyong fase ini menghampiri saya, ada satu dua kejadian yang membuat saya merasa demikian. Saya merasa kehilangan pegangan, kehilangan alasan untuk bertahan dan berbahagia. Saya tau saya salah, karena menggantungkan segalanya kepada makhluk, yang sangat bisa dipastikan cepat atau lambat akan membuat kita kecewa. Semestinya sejak awal Tuhan jadi satu-satunya tempat bergantung. Ya, bagaimana lagi, sudah terjadi. Saya salah.

Bagi saya, kehilangan diri sendiri itu mengerikan. Rasanya hampa dan entah bagaimana harus menjalani hidup yang seperti ini. Ini rasa kehilangan paling parah selama saya menikah. Atau setelah saya menikah?

Pernikahan – Transformasi Diri

Ah, bicara soal pernikahan, benar-benar bukan hal yang mudah, benar-benar tidak seindah cerita-cerita bedtime stories tentang putri cantik dan pangeran tampan yang akan hidup bahagia selamanya. Tapi tidak juga melulu sulit dan menegangkan, ada juga kisah-kisah manis terselip diantaranya. Ada beberapa tindakan yang saya lakukan demi kepentingan bersama, setidaknya begitu nilai yang ditanamkan pada diri saya melalui didikan orang tua dan bentukan lingkungan hidup berpuluh tahun ini. Tindakan-tindakan yang tanpa sadar membuat kita mengenyampingkan diri sendiri, meniadakan ego, dan berusaha untuk membuat semua berjalan seperti seharusnya.

Ternyata, tanpa disadari, saya perlahan merasa berubah menjadi saya yang baru. Saya yang tidak lagi banyak saya temukan tentang diri saya didalamnya. Padahal tidak ada yang memaksa saya berubah, namun kepekaan untuk menyeimbangkan jalannya kehidupan berumah tangga membuat saya berubah menjadi saya yang baru.

Rasa kehilangan saya terhadap diri sendiri ini sebenarnya belum tentu berarti saya benar-benar kehilangan diri sendiri. Bisa jadi sebenarnya ini adalah sebentuk denial atas transformasi diri yang baru yang berusaha bertahan hidup dalam rumah tangga dengan intervensi dari pasangan. Saya yakin dan percaya, setiap mereka yang menikah mengalami pergeseran diri semacam ini. Ada yang ekstrim, ada juga yang smooth.

Mereka yang pada akhirnya memilih untuk berpisah dengan pasangan adalah salah satu contoh dari keputusan atas kehilangan diri  yang luar biasa ekstrim. Ketidak bebasan, keinginan untuk kembali memutuskan segalanya tanpa harus mempertimbangkan orang lain tentu menjadi satu dari sekian alasan. Terutama, alasan untuk kembali menemukan kebahagiaan diri sendiri.

Bahagia

Bahagia. Lagi-lagi menjadi satu energi untuk mengambil keputusan. Bagi saya kemarin, bahagia menjadi ultimate goal yang harus ada dalam setiap fase kehidupan saya. Namun kini, bagi saya, kebahagiaan bukan segalanya. Mengingat perkataan WS Rendra, sebenarnya kebahagiaan dan kesedihan itu sama saja, mereka hanyalah sebentuk emosi yang diberi label yang disesuaikan dengan rasa dan dikeluarkan dalam bentuk ekspresi yang identik. Bahagia dan tidak bahagia ini yang membuat pikiran suka mengawang kembali ke masa lalu dan berkata “if only….”

Duh, beberapa waktu lalu saya benar-benar sering mengucapkan ini, sibuk berandai-andai kalau saja pilihan yang saya buat kemarin bukan ini. Kalau saja saya begini. Kalau saja saya tidak begitu. Padahal saya sebelumnya paling pantang merasa menyesal atas sesuatu yang telah saya putuskan untuk jalani.

Lalu saya berpikir lagi, kalau saya tidak memutuskan untuk mengambil jalan yang saat ini saya jalani, memangnya saya akan lebih bahagia? (lagi-lagi bahagia jadi parameter keberhasilan). Memangnya saya tidak akan menyesali jalan yang tidak saya ambil? Saya tidak akan bertemu dengan bayi lucu, lincah, dan luar biasa menggemaskan yang saya miliki saat ini donk. Saya tidak akan tinggal di Bogor dengan lingkungan baik yang saya dapatkan sekarang. Saya bisa jadi pun masih mencari-cari makna hidup saya ketika saya masih berpetualang sendiri, dan pada akhirnya mencari alasan untuk pulang kepada seseorang yang saya sebut pasangan.

Seperti percakapan dengan seorang teman beberapa lalu, ketika kamu memilih untuk bercerai, memangnya ada jaminan kamu akan menikah lagi dengan yang kamu cintai? Bisa jadi jodohmu di dunia berakhir pada mantan suamimu kemarin dan tidak ada lagi jodoh yang tertakdir untukmu hingga ajal nanti. Memangnya ketika kamu menikah dengan orang lain lantas dia tidurnya tidak akan mengorok, alih-alih bersenandung merdu? Memang kentutnya akan sewangi bunga mawar? Lalu ilernya akan bau kasturi? Memangnya kamu bisa jamin ketika kamu dengan orang lain lalu pasanganmu tidak akan melempar baju bekas pakai sembarangan, atau lupa menyiram bekas pipisnya, atau suka jorok dan tidak menjaga kebersihan rumah? Atau mungkin perilakunya pada orangtua juga keluargamu akan jauh lebih baik? Tidak ada yang bisa menjamin itu semua. 

Andai kamu berpasangan dengan orang lain, lalu kamu berpikir istrimu kelak akan selalu melayani setiap keinginanmu, selalu menjaga perasaan dan nama baikmu didepan keluarga dan orang lain? Sangat bisa jadi malah kualitas yang dimiliki istrimu kali ini tidak dimiliki orang tersebut.  Sangat mungkin orang lain yang kamu khayal-khayalkan lebih baik di beberapa sisi yang tidak pasanganmu miliki saat ini, tapi mereka juga akan punya kekurangan lain yang suatu hari akan kembali menjadi alasanmu untuk pergi dan berandai-andai lagi. Jadi lagi-lagi, tidak ada gunanya sebenarnya berandai-andai. Hanya mengganti masalah yang tetap akan ditemui dalam hidup berumag tangga. Tentunya berpisah jadi halal meski tetap tidak disukai Tuhan apabila keputusan berpisah dengan pasangan didasarkan pada aqidah yang sudah tidak sejalan dan lebih banyak mudharat daripada kebaikan. Itu hal prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar tentunya. 

Bersyukur

Ibu pernah berpesan, jangan sering mengeluh, nanti jadi jauh dari mudah bersyukur, padahal bersyukur mampu membuat nikmat berlipat ganda. Jadi, apa yang bisa saya ambil dari racauan panjang ini : Bahwa ini hanya penyesuaian terhadap transformasi diri, bahwa kesyukuran harus menjadi prioritas agar kehidupan bisa dijalani jauh dari kehampaan, bahwa suatu hari mungkin saya akan bersyukur telah berubah menjadi saya yang baru. Ya mungkin itu. 

Ah, sepertinya sudah terlalu panjang racauan ini. Maaf ya buat yang sudah terlanjur membaca dan tidak dapat apa-apa. Kabar baiknya, saya akan segera menjadi ibu dari Dua. Sudah pantaskah saya?

Jkt – Bogor, 310717
Gambar dr pinterest

Tentang CINTA


“If only we could be strangers again.” – Collateral Beauty

Sudah lama rasanya imaginasi saya tentang cinta tak lagi bisa berjalan seperti ketika dulu cinta hanya menjadi angan dan sesuatu yang tak terjangkau dalam kenyataan. Justru ketika cinta sudah disampaikan pada ikatan yang halal, seketika itu pula tersendat imaji untk mampu berkreasi tentang cinta. Mungkin karena definisinya sedikit berubah, mungkin juga karena cinta kali ini terasa seperti tidak perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Apa itu cinta? Saya sendiri tidak tau bagaimana cara menggambarkannya. Buat saya saat ini cinta ada pada si rupawan Selma, cinta adalah senyumannya, cinta adalah langkah kaki setengah berlarinya menyambut saya sepulang kerja, cinta adalah rengekannya meminta digendong, cinta adalah ocehannya meminta diperhatikan dalam berbagai kesempatan. Cinta seharusnya mendamaikan, seharusnya memberikan ketenangan bagi penikmatnya. Dan cinta bagi saya belakangan ini ada pada tiap tingkah dan laku si buah hati.

Dulu cinta bagi saya adalah orangtua, lalu berubah menjadi si gebetan yang hanya mampu dinikmati siluetnya dari kejauhan. Kemudian ia berubah menjadi suami, dan saat ini cinta saya temukan pada si malaikat kecil yang telah mendobrak banyak nilai dalam kehidupan berumah tangga.

Cinta bisa menghadirkan kekuatan bahkan ketika ia tidak berbuat apa-apa. Cinta bagi saya adalah kehadiran kita didalam binar mata mereka. Kekhawatiran yang muncul ditiap ketiadaannya. Yang pertama kali terlintas ketika bahagia. Yang selalu menjadi pertimbangan dalam setiap tindakan yang akan diambil. Jika dia belum menjelma menjadi seperti itu, bisa jadi dia bukan cinta.

Saya sangat percaya, cinta bisa tiba-tiba hadir pun mendadak hilang begitu saja tanpa bekas. Mungkin harap yang membuatnya  terasa menyakitkan dan membahagiakan. Berbeda dengan cinta antar pasangan, cinta kepada si buah hati belahan jiwa rasanya tidak bisa dibandingkan dengan apapun, meski semua orang tidak lagi percaya akan dia, sebagai ibu yang mengandung melahirkan dan membesarkannya, saya akan selalu punya setitik kepercayaan untuk selalu bisa memperbaikinya.

“Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi.”
― Dee Lestari, Perahu Kertas

Berbeda dengan ucapan Dee, saya takut menjadi pemimpi. Terus terang dalam berkeluarga saya tidak lagi punya mimpi yang muluk-muluk. Saya hanya ingin menjalaninya dengan baik, dengan niat yang baik, cara dan sikap yang baik. Saya hanya ingin bersyukur atas semua yang masih termiliki. Bersyukur atas jalan lahirnya bayi yang tak ternilai harganya dari Tuhan. Bersyukur atas segala pengalaman baik dan buruk yang telah membuat saya menjadi seperti hari ini.

Dulu saya berpikir, keluarga bisa tercipta dengan syarat harus ada cinta. Ternyata, tidak perlu. Jika pun kita meniadakan cinta, keluarga tetap akan terbentuk dan berjalan seperti apa adanya. Ya mungkin hampa saja hatinya, tapi kan ada cinta-cinta lain yang bisa mengisi kekosongan.

Saya ingin terus menjadi dunia bagi si buah hati yang begitu menawan hati. Saya ingin terus menjadi poros gravitasi tempatnya selalu kembali. Tentu tanpa meniadakan peran Tuhan. Jadi, soal cinta, untuk saat ini saya temukan banyak pada si mungil kesayangan yang segera menjadi kakak dari adik barunya. Untuk amanah cinta lain yang akan segera menjadi bagian dari Keluarga, semoga Tuhan terus memampukan saya untuk meluaskan kelapangan hati, menguatkan dari benturan-benturan yang mungkin akan terjadi, dan terus menjaga cinta agar tetap berada pada jalan-jalan kebaikan.

Cinta seharusnya tetap membawa kita lebih dekat pada Tuhan, menjaga dalam kebaikan, dan menjauhkan dari dosa.

Jakarta, 180717

Dulu saya pernah menjadi pemeran utama, menjadi lirik dalam musik yang diulik, menjadi tokoh dalam tulisan yang dirangkai, oleh mereka. Namun, kenyataan menghempaskan saya semena-mena, membuat saya sadar, sejak awal, saya tidak pernah ada bahkan dalam impiannya. Kehadiran saya tidak cukup. Tempat dimana saya seharusnya menjadi satu-satunya. Dan saya bisa apa? Hanya bisa tetap bertahan hidup meski tanpa energi cinta. Kali ini, Selma menjadi gravitasi saya.

Tentang Kekuatan Lain


Saya percaya ada dunia yg tidak terjamah oleh kita manusia. Yang tak kasat mata manusia, entah berbeda dimensi atau apa. Saya percaya ada jin, setan, dan malaikat, sebab berkali-kali mereka disebut dalam Al-qur’an, kitab yang saya yakini kebenerannya. Namun, soal pertolongan jin, sungguh membuat saya bergidik ngeri.

Saya takut, bukan takut akan penampakan yang bisa jadi seperti banyak film kita tafsirkan penampakannya. Ketakutan saya, lebih kepada menduakan Allah karena terjebak pada bantuan makhluk ciptaannya. Khawatir, diri jadi terjebak pada syirik, percaya kepada selain Allah.

Terlepas dari urusan Aqidah, ketika menemukan sekelompok orang yang percaya bahwa ada “makhluk” lain yang mengerjai manusia lain terdengar menyedihkan. Seolah tidak mau menerima kenyataan bahwa seseorang bisa berbuat keji diluar citra yang ditampakkan selama ini, atau seseorang mungkin mengidap penyakit yang dunia medis belum mampu menjangkaunya. Entahlah. Bagi saya, manusia benar dapat berbuat keji yang luar biasa, seperti kasus pembunuhan dan penganiayaan yang tak masuk akal yang belakangan sering kita dengar. Mereka nyata, dan sangat mungkin bukan karena pengaruh kekuatan makhluk dari luar sana. Lagi-lagi, karena sedang lupa pada Tuhannya hingga mereka gelap mata.

Untuk kasus-kasus penyakit yang mematikan, atau sebab-sebab yang tak masuk logika, memang tak jarang kita terjebak pada asumsi akan campur tangan jin yang diminta oleh seorang manusia yang sedang sakit hatinya. Namun, semoga pada akhirnya semoga kita tidak lupa untuk mengembalikannya pada Allah. Bahwa sesungguhnya tidak ada satu apapun yang dapat terjadi tanpa seizin-Nya.

Bagi saya, segala yang tak masuk akal, mestilah dikembalikan pada Allah semata, dan pertolongan sejatinya hanya diminta dari Allah semata. Tidak dari yang lainnya.

Wallahuallam.
just a thought

Bandung, 180617, 05.10

Tentang Bahagia


Sejak dulu hingga entah kapan, topik soal kebahagiaan rasanya tidak akan habis-habis dikupas. Sejatinya setiap manusia akan bertemu satu titik dalam hidupnya dan bertanya apa sesungguhnya bahagia itu. 

Tidak sedikit yang mematok standar tinggi untuk bahagia. Memiliki istri cantik solehah / suami rupawan dengan karir cemerlang, punya rumah dan kendaraan mewah, menjadi penguasa, punya keluarga sempurna, punya prestasi bertumpuk, dan checklist travel list yang hampir semua telah tercoret karena berhasil dikunjungi. Ada pula yang membuat standar sederhana, sekedar bisa makan berlauk besok, bisa punya uang untuk mudik, bisa berjumpa anak istri/suami setiap hari, dagangan habis terjual, menyelesaikn hutang, memasak makanan kesukaan orang tersayang dan lainnya.

Buat saya, mungkin dulu saya sempat mematok standar tinggi, tetapi makin kesini saya hanya ingin hidup cukup. Cukup rejeki ketika ada keperluan, cukup ketenangan dan kedamaian hati karena merasa masih bisa melakukan kebaikan dan tidak menyakiti orang lain, cukup cinta dari yang tersayang, cukup ilmu agar segala peran terlaksana dengn baik, cukup waktu untuk menambah kenangan manis di masa datang, cukup sehat untuk terus hidup jauh dari kekhawatiran, cukup maaf untuk mengikhlaskan segala yang tidak sesuai dgn usaha, dan tentunya cukup dekat dengan Allah agar jiwa selalu merasa damai. Sederhana sekaligus rumit. Rumit karena rasa cukup itu asalnya dari kelola diri sendiri.

Lagi-lagi kuncinya di Allah. Kedamaian dan kecukupan harusnya tidak lagi jadi khayalan yang terlalu rumit. Meski ibadah masih amat jauh dari tidak bercela, semoga Allah tidak pernah jauh-jauh dari hati.

Aamiin.
Bogor – Jakarta, 150617

Tentang TUHAN


Macet. Sibuk. Sesak. Lelah.

Perampokan. Penembakan. Pembunuhan. Penculikan. Penganiayaan.

Manusia benar-benar makhluk yang mengerikan. Mampu melakukan hal yang tidak diduga-duga, yang diluar akal sehat, dan diluar kewajaran nurani makhluk sosial. Demi perut, demi kaya, demi popularitas, demi cinta, demi kesenangan sendiri, norma-norma kewajaran jadi tidak diindahkan.

Mungkin mereka tidak punya Tuhan, mungkin mereka sedang lupa Tuhan, mungkin mereka jauh dari Tuhan. Yang aku yakini, ketika seorang manusia mampu menyakiti orang lain, sangat bisa dipastikan sedang tidak ada Tuhan dihatinya. Bukan, ini bukan soal keyakinan beragama, ini soal meyakini ada sosok yang lebih besar dan adikuasa akan kita yang selalu mengawasi dari atas sana.

Tak jarang kesal, karena keyakinan kita akan penglihatan Tuhan mengekang kita untuk balas dendam, untuk menyakiti mereka yang telah menyakiti kita. Kesal sekali. Karena keinginan yang begitu kuat untuk berbuat yang tidak-tidak harus dikalahkan oleh keyakinan akan keberadaan Tuhan. Oleh keinginan untuk tidak mengecewakan-Nya.

Sungguh urusan Tuhan ini tidak bisa diukur dengan apapun. Kita tidak pernah melihat wujudnya, tapi kita meyakininya, dan IA menjadi batasan atas segala tindakan yang ingin kita lakukan. Haruskah kita bersyukur akan kepekaan atas Tuhan Sang Maha Mengetahui atas segala? Kenapa keyakinan akan perbuatan baik yang dibalas setimpal terus menerus menggelayut. Kita yakini janjinya nyata padahal berasal dari DIA yang tak kasat mata.

Mungkin seharusnya syukur melingkupi, atas segala kebaikan hidup yang masih diberi. Lagi, IA berjanji pada manusia, bersyukurlah maka akan AKU tambahkan nikmatmu. Lagi-lagi percaya. Duh, mengesalkan sekali keyakinan semacam ini. Lagi-lagi Tuhan mampu memenuhi diri. Ke-Maha-annya lagi-lagi menumbuhkan kepercayaan yang menghujam dalam-dalam. Tuhan, dunia ini hanya sementara bukan? Akankah ENGKAU berbaik hati memberi sedikit nikmat surga kelak jika aku terus percaya pada-Mu??

Begitu kuat daya tarik-NYA, begitu tidak terhindarkan pesona-NYA.

Aku lagi-lagi terjebak janji baik Tuhan agar aku tetap menjadi orang baik.

Jakarta, 140617

Terima kasih, aku menulis kembali.

Tentang Ibu dan Alpukat


“Belajar jualan kan gak musti nunggu butuh” jawab saya di suatu waktu yang lalu kepada seorang teman.

Semenjak saya mencoba menjajaki dunia berdagang (jualan), saya paham bahwa tidak semua memulai karena butuh. Ada yang memulainya karena turunan dari keluarga pedagang yang dengan mudahnya menjadikan apa saja yang ditemui menjadi komoditi untuk diperdagangkan, ada pula yang berdagang karena ada kesempatan lalu menikmatinya, ada pula yang memang benar-benar tertarik sejak awal dengan dunia ini (semacam bertalenta untuk menjual produk), dan ada yang karena kondisi keuangan yang memaksa dirinya untuk berpikir keras untuk mencari cara menambah penghasilan hingga sebesar mungkin.

Minggu kemarin ibu datang.

Tepat keesokan hari saat suppliermengantarkan alpukat jualan saya langsung dari Garut. Lalu saya dengan semangat bercerita pengalaman berjualan, betapa bagusnya alpukat yang saya dapatkan tiap minggunya kepada ibu, juga betapa puas pelanggan yang telah mencobanya. Ibu pun meresponnya dengan turut berbahagia. Saya sangat senang dengan respon ibu kala itu. Ditambah lagi, kemarin ketika ibu berkata akan berkunjung ke Bogor, saya segera pesan beberapa produk khas lampung untuk dibawa serta. Dan laku keras. Saya berpikir saya sudah berbagi banyak momen bahagia dengan ibu.

Hari ini, saya baru saja mendengar cerita dari teteh pengasuh anak saya dirumah. Teteh yang sudah menganggap ibu saya seperti ibunya sendiri. Teteh bercerita bahwa kemarin ternyata ibu sempat sedih melihat betapa getol-nya saya berjualan.

Saya sontak terdiam. Kaget dan tidak menyangka.

Ternyata tanpa sadar saya sudah membuat ibu sedih. =( Teteh menjelaskan lagi, bukan karena waktu saya untuk bercengkrama dengan ibu menjadi berkurang, ibu bersedih melihat betapa lelah saya yang sehari-hari sudah bekerja, masih harus berbagi waktu mengurusi suami dan anak, lalu harus ditambah aktivitas berdagang (meskipun hanya mengantar ke sekitaran kompleks dan yang mengantarkan adalah teteh yang bekerja dirumah). Ibu merasa saya seharusnya bisa beristirahat lebih banyak. Ibu khawatir kalau-kalau kondisi kesehatan saya jadi terganggu karena kelelahan.

Tak terhindarkan lagi, saya langsung berkaca-kaca. Sedih karena membuat ibu jadi kepikiran.

Awal mula saya berjualan sebenarnya hanya karena ibu-ibu kompleks berdiskusi tentang membuka pasar pagi kecil-kecilan di kompleks, yang kami beri nama Sunday Market dan saya memutuskan untuk berpartisipasi. Pada saat yang sama saya bertemu dengan supplier alpukat yang saya jual saat ini. Awalnya dari coba-coba ehternyata nyandu. Jadilah saya teruskan saja. Dan makin hari produk yang saya tawarkan jadi makin rupa-rupa.

Aktivitas ini membuat saya lebih menghargai uang. Ternyata mencari keuntungan seratus ribu itu tidak mudah, sedang saya selama ini gampang saja ber-online shop beratus-ratus ribu yang tidak jarang produknya tidak benar-benar saya pergunakan dengan baik. Saya jadi lebih mengendalikan pengeluaran saya. Padahal sebenarnya gaji bulanan saya jauh lebih dari cukup untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.

Lalu saya sampai pada pemikiran untuk tidak menunda belajar berdagang hanya setelah saya berada pada kondisi tidak ada pilihan selain memilih jalur itu. Saya ingin memberi banyak hal yang terbaik untuk anak saya. Saya tidak tahu bagaimana nasib pekerjaan saya esok hari. Saya tidak punya jaminan bahwa kesehatan dan keberlimpahan rejeki saya dan suami akan terus seperti hari ini. Karena pertimbangan itulah saya jadi berpikir “Kenapa tidak?”.

Saya juga tidak tau akan sampai kapan saya konsisten untuk berjualan. Saya akan berusaha menjalaninya dulu, sembari meyakinkan ibu bahwa saya baik-baik saja, bukan karena paksaan orang maupun keadaan. Namanya saya, suka mencoba-coba. Kita lihat saja sampai kapan saya bertahan.

It’s okay ibu, I’m all fine. If tomorrow bad days come, I won’t be defeated. I’m not always happy, but it’s so easy to get back to be happy since Selma come around. Life won’t always be good nor bad, right ibu?

Bogor, 110317, 20.03


Tentang Cinta


Kalau cinta sudah teramat, segala kekurangan pun termaklumi, tapi kalau masih terasa berat, mungkin cintanya belum terlalu.



Status saya beberapa lalu. Entah bagaimana membawa saya pada pemikiran bahwa cinta Allah kepada kita, hambanya, itu sudah terlalu. Tidak peduli sejauh apapun kita berlari menjauh, Allah maklum dan tidak bosan-bosannya menunggu kita untuk mengingat kembali.


Lalu datang malu. Sibuk memikirkan kecintaan pada manusia yang terlalu hingga abai pada cinta teramat dari Allah untuk kita. Allah masih memberikan segala kebaikan lho, masih dengan begitu baiknya tidak membuka segala aib. Dan kita, masih saja keras kepala. Egois dengan tuntutan hak yang dirasa belum terpenuhi. Padahal kewajiban masih juga lalai dilaksanakan.


Cinta mana yang lebih sejati dari cintanya Allah? Dia Yang Maha Kuasa atas segala masih lagi dan terus memberi kita peluang untuk bertaubat. Masih saja kita sibuk mencari pemakluman, alasan demi alasan.


Malu.

Tidak lagi bisa berkelit.


Tau kan betapa tidak enaknya jika cinta kita yang luar biasa diabaikan? Hati-hati, Allah nanti mengganti cara mencintainya dengan perlahan pergi agar kita mencari. Ah jangan sampai lalai. Allah bukan pendendam memang, Allah hanya ingin mengembalikan kita pada hakikat hidup didunia untuk Iqra. Membaca. Belajar. Karena itu Allah terus cinta kita.


Bogor, 010317, 17.53

Picture by Gabrielle Nilsson

Tentang Menjadi Pengaruh Baik



No matter how educated, talented, rich, or cool you believe you are, how you treat people ultimately tells all.

Pagi ini rutinitas senin tak ubahnya awal minggu kerja lainnya. Bangun subuh yg sama, kereta yg sama, kepadatan yg sama, dengan karakter penumpang kereta yg itu-itu saja. 

Berkereta itu bisa mendadak bikin happy gak ketulungan disaat bisa mendapatkan duduk dari stasiun Bogor sampai dengan stasiun Sudirman, bisa juga mendadak bikin bete gak ketulungan disaat harus berdiri, kereta padatnya melebihi jakarta, ditambah lagi masih harus memekakan telinga dengan komen-komen nyinyir penumpang yang (saya rasa) jam terbangnya belum tinggi atau musti ambil kuda-kuda dan strategi ekstra untuk mengakali penjahat kelamin yang masih suka cari-cari celah untuk bisa bergesekan dengan lawan jenis (di gerbong campur). 

Nah, pagi ini, saya yang datangnya sedikit mepet dengan jam keberangkatan tentunya sudah tidak berharap bisa mendapatkan kursi. Saya berdiri sejak awal di depan penumpang bangku prioritas. Didepan saya duduk 3 orang penumpang : 1 ibu late 30/early 40 yang sedang tidak hamil, dan 2 org bapak-bapak yg terlihat masih segar bugar. 

Oh ya, sebelum saya lanjutkan, saya ceritakan sedikit kenapa semenjak melahirkan saya selalu naik gerbong campur meski potensi bergesekan dengan lawan jenis cukup besar. Saya yang (seperti penumpang lainnya) masih suka berharap dapat duduk selain merasa kesadisannya tidak separah gerbong wanita, saya merasa lebih tinggi kemungkinan untuk bisa duduk di gerbong campur. Kalau sudah terlanjur penuh biasanya saya berdiri di depan kursi prioritas dimana ada bapak-bapak yang duduk mana tau mereka berkenan berbagi kursinya dengan saya. Dan seringnya berhasil. Tentu ketika ada penumpang prioritas saya langsung memberikan kursi yang menjadi hak mereka. Hanya saja tidak jarang saya bisa menikmati kursi tersebut sejak awal hingga akhir. Karena biasanya jarang penumpang prioritas naik di gerbong tengah (gerbong 4-5 untuk kereta 8 gerbong) (ini juga berdasarkan hasil pengamatan berbulan-bulan naik kereta).
Nah berdasarkan kebiasaan saya tersebut, sampailah saya pada kondisi pagi ini. Sejak awal sampai dengan 1 stasiun berikutnya 2 bapak-bapak ini masih duduk sembari berjaga-jaga mana tau ada penumpang prioritas. Tidurnya tidur-tidur ayam karena sedikit khawatir dengan judgement yang diberikan penumpang disekitarnya melihat ada saya yang berdiri didepan mereka dan tidak ditawari duduk karena dinilai tidak masuk kategori penumpang prioritas (malah terlihat sangat segar bugar). Saya pun tidak meminta karena kursi itu menjadi hak mereka (selama tidak ada penumpang prioritas) yang sudah datang lebih awal. Sampai di stasiun kedua, datanglah seorang ibu-ibu yang sudah berumur yang membuat salah seorang bapak-bapak tersebut serta merta berdiri memberikan kursinya. Sisa 1 orang bapak yang masih tertidur ayam semakin tidak nyaman dengan posisinya yang duduk sendiri diantara ibu-ibu dan ditengah bapak-bapak lainnya yang sudah berdiri mengelilinginya. Tidak berselang lama, bapak tersebut pun ikut berdiri. Saya kira ada penumpang prioritas lainnya yang tidak tertangkap mata saya. Eh ternyata kursi tersebut diserahkan pada saya yang sejak awal berdiri dihadapannya.

Entah apa motivasi bapak tersebut hingga pada akhirnya menyerahkan kursinya pada saya, entah karena malu, entah terinspirasi bapak disampingnya, entah mungkin sudah merasa cukup duduk selama 2 stasiun (sekitar 20-30 menit). Apapun motivasinya, kedua bapak-bapak ini sudah menyampaikan satu pelajaran penting bagi saya. Untuk menjadi pengaruh yang baik. Kalau boleh memilih tentu mereka memilih tetap duduk. Kenapa tidak sejak awal berdiri? Ya karena mereka belum mendapatkan momennya. Apapun alasannya, yang terpenting adalah mereka tetap berujung pada berbuat kebaikan. Peristiwa semacam ini sering sekali terjadi disekitar kita. Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapinya? Mampukah kita menjadi leader mengawali kebaikan yang kemudian bergema membawa pengaruh baik bagi orang selanjutnya? It’s your choice. Memilih untuk menjadi leader seperti bapak pertama atau menjadi follower seperti bapak kedua. Pada akhirnya, kebaikan tetap menjadi ujung pilihannya.

Mungkin saya menganalisa kejadian sederhana ini dengan terlalu berlebihan. Ya, bisa jadi. Hanya saja, kejadian sederhana ini menjadi momen untuk saya bisa mendapatkan pelajaran ini. 

Bagi saya menjadi baik itu tidak bisa sekonyong-konyong berubah begitu saja semudah membalik telapak tangan. Menjadi baik membutuhkan tahap. Mungkin hingga akhirpun kita tidak akan mencapai kesempurnaan, tapi setidaknya kita sudah membuat progress menuju kebaikan. Progress not perfection 

Nah, kira-kira itu yang mau saya bagikan ke teman-teman. Semoga ada manfaatnya. Ah, glad to write back. Lama sekali blog ini terabaikan. Happy monday ya man-teman..

KRL Bogor – Jakarta, 141116, 07.07