Tentang Ibu dan Alpukat


“Belajar jualan kan gak musti nunggu butuh” jawab saya di suatu waktu yang lalu kepada seorang teman.

Semenjak saya mencoba menjajaki dunia berdagang (jualan), saya paham bahwa tidak semua memulai karena butuh. Ada yang memulainya karena turunan dari keluarga pedagang yang dengan mudahnya menjadikan apa saja yang ditemui menjadi komoditi untuk diperdagangkan, ada pula yang berdagang karena ada kesempatan lalu menikmatinya, ada pula yang memang benar-benar tertarik sejak awal dengan dunia ini (semacam bertalenta untuk menjual produk), dan ada yang karena kondisi keuangan yang memaksa dirinya untuk berpikir keras untuk mencari cara menambah penghasilan hingga sebesar mungkin.

Minggu kemarin ibu datang.

Tepat keesokan hari saat suppliermengantarkan alpukat jualan saya langsung dari Garut. Lalu saya dengan semangat bercerita pengalaman berjualan, betapa bagusnya alpukat yang saya dapatkan tiap minggunya kepada ibu, juga betapa puas pelanggan yang telah mencobanya. Ibu pun meresponnya dengan turut berbahagia. Saya sangat senang dengan respon ibu kala itu. Ditambah lagi, kemarin ketika ibu berkata akan berkunjung ke Bogor, saya segera pesan beberapa produk khas lampung untuk dibawa serta. Dan laku keras. Saya berpikir saya sudah berbagi banyak momen bahagia dengan ibu.

Hari ini, saya baru saja mendengar cerita dari teteh pengasuh anak saya dirumah. Teteh yang sudah menganggap ibu saya seperti ibunya sendiri. Teteh bercerita bahwa kemarin ternyata ibu sempat sedih melihat betapa getol-nya saya berjualan.

Saya sontak terdiam. Kaget dan tidak menyangka.

Ternyata tanpa sadar saya sudah membuat ibu sedih. =( Teteh menjelaskan lagi, bukan karena waktu saya untuk bercengkrama dengan ibu menjadi berkurang, ibu bersedih melihat betapa lelah saya yang sehari-hari sudah bekerja, masih harus berbagi waktu mengurusi suami dan anak, lalu harus ditambah aktivitas berdagang (meskipun hanya mengantar ke sekitaran kompleks dan yang mengantarkan adalah teteh yang bekerja dirumah). Ibu merasa saya seharusnya bisa beristirahat lebih banyak. Ibu khawatir kalau-kalau kondisi kesehatan saya jadi terganggu karena kelelahan.

Tak terhindarkan lagi, saya langsung berkaca-kaca. Sedih karena membuat ibu jadi kepikiran.

Awal mula saya berjualan sebenarnya hanya karena ibu-ibu kompleks berdiskusi tentang membuka pasar pagi kecil-kecilan di kompleks, yang kami beri nama Sunday Market dan saya memutuskan untuk berpartisipasi. Pada saat yang sama saya bertemu dengan supplier alpukat yang saya jual saat ini. Awalnya dari coba-coba ehternyata nyandu. Jadilah saya teruskan saja. Dan makin hari produk yang saya tawarkan jadi makin rupa-rupa.

Aktivitas ini membuat saya lebih menghargai uang. Ternyata mencari keuntungan seratus ribu itu tidak mudah, sedang saya selama ini gampang saja ber-online shop beratus-ratus ribu yang tidak jarang produknya tidak benar-benar saya pergunakan dengan baik. Saya jadi lebih mengendalikan pengeluaran saya. Padahal sebenarnya gaji bulanan saya jauh lebih dari cukup untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.

Lalu saya sampai pada pemikiran untuk tidak menunda belajar berdagang hanya setelah saya berada pada kondisi tidak ada pilihan selain memilih jalur itu. Saya ingin memberi banyak hal yang terbaik untuk anak saya. Saya tidak tahu bagaimana nasib pekerjaan saya esok hari. Saya tidak punya jaminan bahwa kesehatan dan keberlimpahan rejeki saya dan suami akan terus seperti hari ini. Karena pertimbangan itulah saya jadi berpikir “Kenapa tidak?”.

Saya juga tidak tau akan sampai kapan saya konsisten untuk berjualan. Saya akan berusaha menjalaninya dulu, sembari meyakinkan ibu bahwa saya baik-baik saja, bukan karena paksaan orang maupun keadaan. Namanya saya, suka mencoba-coba. Kita lihat saja sampai kapan saya bertahan.

It’s okay ibu, I’m all fine. If tomorrow bad days come, I won’t be defeated. I’m not always happy, but it’s so easy to get back to be happy since Selma come around. Life won’t always be good nor bad, right ibu?

Bogor, 110317, 20.03


Tentang Cinta


Kalau cinta sudah teramat, segala kekurangan pun termaklumi, tapi kalau masih terasa berat, mungkin cintanya belum terlalu.



Status saya beberapa lalu. Entah bagaimana membawa saya pada pemikiran bahwa cinta Allah kepada kita, hambanya, itu sudah terlalu. Tidak peduli sejauh apapun kita berlari menjauh, Allah maklum dan tidak bosan-bosannya menunggu kita untuk mengingat kembali.


Lalu datang malu. Sibuk memikirkan kecintaan pada manusia yang terlalu hingga abai pada cinta teramat dari Allah untuk kita. Allah masih memberikan segala kebaikan lho, masih dengan begitu baiknya tidak membuka segala aib. Dan kita, masih saja keras kepala. Egois dengan tuntutan hak yang dirasa belum terpenuhi. Padahal kewajiban masih juga lalai dilaksanakan.


Cinta mana yang lebih sejati dari cintanya Allah? Dia Yang Maha Kuasa atas segala masih lagi dan terus memberi kita peluang untuk bertaubat. Masih saja kita sibuk mencari pemakluman, alasan demi alasan.


Malu.

Tidak lagi bisa berkelit.


Tau kan betapa tidak enaknya jika cinta kita yang luar biasa diabaikan? Hati-hati, Allah nanti mengganti cara mencintainya dengan perlahan pergi agar kita mencari. Ah jangan sampai lalai. Allah bukan pendendam memang, Allah hanya ingin mengembalikan kita pada hakikat hidup didunia untuk Iqra. Membaca. Belajar. Karena itu Allah terus cinta kita.


Bogor, 010317, 17.53

Picture by Gabrielle Nilsson

Tentang Menjadi Pengaruh Baik



No matter how educated, talented, rich, or cool you believe you are, how you treat people ultimately tells all.

Pagi ini rutinitas senin tak ubahnya awal minggu kerja lainnya. Bangun subuh yg sama, kereta yg sama, kepadatan yg sama, dengan karakter penumpang kereta yg itu-itu saja. 

Berkereta itu bisa mendadak bikin happy gak ketulungan disaat bisa mendapatkan duduk dari stasiun Bogor sampai dengan stasiun Sudirman, bisa juga mendadak bikin bete gak ketulungan disaat harus berdiri, kereta padatnya melebihi jakarta, ditambah lagi masih harus memekakan telinga dengan komen-komen nyinyir penumpang yang (saya rasa) jam terbangnya belum tinggi atau musti ambil kuda-kuda dan strategi ekstra untuk mengakali penjahat kelamin yang masih suka cari-cari celah untuk bisa bergesekan dengan lawan jenis (di gerbong campur). 

Nah, pagi ini, saya yang datangnya sedikit mepet dengan jam keberangkatan tentunya sudah tidak berharap bisa mendapatkan kursi. Saya berdiri sejak awal di depan penumpang bangku prioritas. Didepan saya duduk 3 orang penumpang : 1 ibu late 30/early 40 yang sedang tidak hamil, dan 2 org bapak-bapak yg terlihat masih segar bugar. 

Oh ya, sebelum saya lanjutkan, saya ceritakan sedikit kenapa semenjak melahirkan saya selalu naik gerbong campur meski potensi bergesekan dengan lawan jenis cukup besar. Saya yang (seperti penumpang lainnya) masih suka berharap dapat duduk selain merasa kesadisannya tidak separah gerbong wanita, saya merasa lebih tinggi kemungkinan untuk bisa duduk di gerbong campur. Kalau sudah terlanjur penuh biasanya saya berdiri di depan kursi prioritas dimana ada bapak-bapak yang duduk mana tau mereka berkenan berbagi kursinya dengan saya. Dan seringnya berhasil. Tentu ketika ada penumpang prioritas saya langsung memberikan kursi yang menjadi hak mereka. Hanya saja tidak jarang saya bisa menikmati kursi tersebut sejak awal hingga akhir. Karena biasanya jarang penumpang prioritas naik di gerbong tengah (gerbong 4-5 untuk kereta 8 gerbong) (ini juga berdasarkan hasil pengamatan berbulan-bulan naik kereta).
Nah berdasarkan kebiasaan saya tersebut, sampailah saya pada kondisi pagi ini. Sejak awal sampai dengan 1 stasiun berikutnya 2 bapak-bapak ini masih duduk sembari berjaga-jaga mana tau ada penumpang prioritas. Tidurnya tidur-tidur ayam karena sedikit khawatir dengan judgement yang diberikan penumpang disekitarnya melihat ada saya yang berdiri didepan mereka dan tidak ditawari duduk karena dinilai tidak masuk kategori penumpang prioritas (malah terlihat sangat segar bugar). Saya pun tidak meminta karena kursi itu menjadi hak mereka (selama tidak ada penumpang prioritas) yang sudah datang lebih awal. Sampai di stasiun kedua, datanglah seorang ibu-ibu yang sudah berumur yang membuat salah seorang bapak-bapak tersebut serta merta berdiri memberikan kursinya. Sisa 1 orang bapak yang masih tertidur ayam semakin tidak nyaman dengan posisinya yang duduk sendiri diantara ibu-ibu dan ditengah bapak-bapak lainnya yang sudah berdiri mengelilinginya. Tidak berselang lama, bapak tersebut pun ikut berdiri. Saya kira ada penumpang prioritas lainnya yang tidak tertangkap mata saya. Eh ternyata kursi tersebut diserahkan pada saya yang sejak awal berdiri dihadapannya.

Entah apa motivasi bapak tersebut hingga pada akhirnya menyerahkan kursinya pada saya, entah karena malu, entah terinspirasi bapak disampingnya, entah mungkin sudah merasa cukup duduk selama 2 stasiun (sekitar 20-30 menit). Apapun motivasinya, kedua bapak-bapak ini sudah menyampaikan satu pelajaran penting bagi saya. Untuk menjadi pengaruh yang baik. Kalau boleh memilih tentu mereka memilih tetap duduk. Kenapa tidak sejak awal berdiri? Ya karena mereka belum mendapatkan momennya. Apapun alasannya, yang terpenting adalah mereka tetap berujung pada berbuat kebaikan. Peristiwa semacam ini sering sekali terjadi disekitar kita. Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapinya? Mampukah kita menjadi leader mengawali kebaikan yang kemudian bergema membawa pengaruh baik bagi orang selanjutnya? It’s your choice. Memilih untuk menjadi leader seperti bapak pertama atau menjadi follower seperti bapak kedua. Pada akhirnya, kebaikan tetap menjadi ujung pilihannya.

Mungkin saya menganalisa kejadian sederhana ini dengan terlalu berlebihan. Ya, bisa jadi. Hanya saja, kejadian sederhana ini menjadi momen untuk saya bisa mendapatkan pelajaran ini. 

Bagi saya menjadi baik itu tidak bisa sekonyong-konyong berubah begitu saja semudah membalik telapak tangan. Menjadi baik membutuhkan tahap. Mungkin hingga akhirpun kita tidak akan mencapai kesempurnaan, tapi setidaknya kita sudah membuat progress menuju kebaikan. Progress not perfection 

Nah, kira-kira itu yang mau saya bagikan ke teman-teman. Semoga ada manfaatnya. Ah, glad to write back. Lama sekali blog ini terabaikan. Happy monday ya man-teman..

KRL Bogor – Jakarta, 141116, 07.07

Soal Berbagi Peran di Lingkungan Tempat Tinggal


image

Gambar dari http://www.redeemerschoolwestfield.com/neighborhood.html

Bawaan nganggur jd malah produktif nulis. Yg biasanya cm jd tulisan di path, mending kita jadikan tulisan blog meskipun pendek2.

Masih soal berbagi peran, tapi kali ini peran kita dalam lingkungan tempat tinggal. Saya dan suami yg telah memutuskan untuk membangun keluarga di lingkungan tempat tinggal saat ini tentu sangat berkepentingan untuk melibatkan diri lebih jauh dalam silaturahim dan kegiatan lingkungan. Sedikit kendalanya adalah kami sama-sama bekerja, sehingga waktu untuk terlibat aktif dalam lingkungan terbatas pada weekend dan itupun ketika tidak bertabrakan dengan urusan lainnya yang kadang tidak bisa ditinggalkan.

Sedikit berbagi saja, saya memang bekerja di Jakarta, tapi pekerjaan saya bukan jenis pekerjaan yg menyita waktu dan ber-PR banyak diluar hari kerja. Bisa dibilang meski waktu weekdays saya habis dalam menempuh perjalanan Bogor-Jakarta-Bogor, tapi waktu saya lebih fleksibel dibanding suami yg bekerja di Bogor. Suami punya lebih banyak agenda yg lebih menyita waktu dan konsentrasi. Hal ini membuat saya memposisikan diri untuk menjadi lebih aktif memanfaatkan weekend dengan warga lingkungan tempat tinggal.

Kami menyadari betapa penting menjaga hubungan baik dengan tetangga sebagai orang yg paling dekat dan paling pertama bisa memberi pertolongan ketika terjadi sesuatu, meskipun sampai sekarang saya belum tergolong berhasil mengenal tetangga kanan kiri depan belakang dikarenakan sulit bertemu. Persis seperti kejadian minggu ini, saya mendapatkan pertolongan pertama dari tetangga ketika saya berada dalam kondisi kesehatan yg sedang kurang baik. Betapa sangat terbantunya saya dan suami, yg pada saat saat kejadian sedang berada ditempat bekerjanya.

Nah berkaca dari itu semua, saya berusaha untuk ikut berpartisipasi dalam arisan ibu-ibu kompleks. Meskipun hanya 1x/bln, setidaknya cukup untuk mengenalkan kepada warga setempat bahwa kami ada diantara mereka. Kebetulan saya orang yg suka berkenalan dan bertemu banyak orang, jadi tidak sulit untuk saya memaksa melibatkan diri. Untuk teman-teman yg mungkin kurang suka kumpul-kumpul, kalau boleh saran, tetap usahakan untuk hadir sesekali waktu di acara warga setempat. Sebenarnya tak beda dengan suami saya, dengan aktivitas yg cukup tinggi tak jarang suami pun lebih memilih untuk beristirahat dibanding ikut berkumpul, tapi tentu untuk acara-acara yg cukup serius macam membahas keamanan lingkungan pasti suami akan berusaha hadir. Disesuaikan saja, tidak perlu dipaksakan tapi tetap diberikan porsinya.

Disini sebenarnya peran kita dibutuhkan sebagai pasangan. Saya sangat sadar dengan kondisi aktivitas suami dan saya. Untuk itu saya brusaha lebih aktif lagi terlibat, juga sekaligus untuk menyampaikan pesan jika terkadang suami berhalangan hadir. Sebenarnya timbulnya omongan miring (gosip) dalam lingkungan seringnya karena kurangnya informasi. Kita sibuk berasumsi bahwa si keluarga A tidak suka bergaul, padahal ternyata karena harus merawat keluarga yg stroke dirumah yg tidak bisa lepas penjagaan. Keluarga B yg tidak pernah keluar rumah, padahal karena ada keterbatasan tertentu. Nah, fungsi saya sebagai istri ya salah satunya menjadi sumber informasi agar tidak terjadi salah asumsi macam diatas. Lingkungan kita perlu tau bahwa kita pun peduli terhadap apa yg terjadi disekitar, hanya saja keterbatasan waktu membuat kontak langsung kurang memungkinkan. Hasilnya? Tentu banyak hal positif yg membuat kita pun menjadi lebih nyaman dan semakin betah tinggal disini.

Pada dasarnya, kita tidak bisa menutup mata terhadap sekitar dan berharap suatu waktu ketika kita membutuhkan maka orang lain harus siap sedia menyokong kita kalau-kalau sampai jatuh dan butuh uluran tangan. Interaksi dalam lingkungan tempat tinggal (dan lingkungan lainnya : tempat kerja, teman main, dll) prinsipnya adalah take and give. Perlu ada usaha dan pengorbanan. Pengorbanan paling minimal adalah ya dengan menunjukkan kepedulian dengan menyisihkan sedikit waktu untuk lingkungan. Tapi, kalau kita ikhlas melakukannya maka tidak akan terasa seperti berkorban sesuatu yang seolah berat dilakukannya. Tidak ada yg sia-sia, apa yg kita usahakan insyaAllah akan berimbas baik kembali ke diri sendiri. Jadi, jangan lupa berbagi peran ya di lingkungan tempat tinggal. InsyaAllah banyak manfaatnya.

Ah, selamat hari sabtu sore dari saya anak kemarin sore yg suka sotoy tentang segala hal. Have a good weekend!!
Xoxo

Bogor, 090416, 15.47

Soal Berbagi Peran dalam Rumah Tangga


image

Dalam berumah tangga, berbagi peran sangatlah penting. Tidak bisa keduanya berlari, karena perlu ada yg berperan menjadi penyedia energi baru di tempat peristirahatan, tidak bisa pula keduanya berjalan santai karena lama-lama kita tergilas hidup yang terus berputar dan meminta kitamenyeimbangkan putarannya untuk bertahan.

Saya sebagai orang yg sangat berambisi melakukan banyak hal hebat dalam hidup, sejak awal menikah saya telah menyampaikan kesediaan saya untuk menjadi support system bagi suami.
“You go chase your career, I’ll be around to support you.”
Saya sudah memutuskan untuk menyesuaikan cita-cita dan pencapaian dalam hidup saya dengan pace karir suami. Alhamdulillah saya sudah merasa cukup nyaman dengan pekerjaan yg saya miliki meski tidak berjenjang karir. Dan yg memungkinkan saya berganti pekerjaan atau bahkan sampai berhenti bekerja adalah kebutuhan untuk menyeimbangkan karir suami dan eksistensi saya sebagai istri dan calon ibu dirumah.

Cita-cita saya sama sekali tidak pudar apalagi hilang, tetap terjaga didalam rencana jangka panjang saya. Hanya saja, ada penyesuaian eksekusi dengan mempertimbangkan kebutuhan bersama. Untuk saat ini, keleluasaan saya berikan kepada suami yang memang sedang dalam tahap perkembangan yang baik. Lebih menyenangkan karena suami memang benar-benar memanfaatkan waktu-waktunya dengan produktif tentu dengan tidak mengesampingkan kepentingan rumah tangga bersama. Saya bangga, suami terus berkarya, terus mencapai titik baru dalam hidupnya, meski terlihat seolah santai tapi suami sangat konsisten dengan rencana-rencana pengembangan dirinya.

So, did I lose anything by letting him chase his dream while I’m busy taking care of domestic matters?

Nope. Sama sekali tidak. Look what he gained. That’s for our family dignity as well. Saya bangga memperkenalkan sosok bapak yang bisa menjadi contoh untuk anak-anak kami kelak. Ketika suami kelak berhasil menggapai segala mimpi dalam hidupnya bukankah berarti itu jg keberhasilan saya untuk menjadi support system yg baik? Keep looking at the brightside supaya selalu happy dengan kehidupan, iya gak?

Jadi, balik lagi soal berbagi peran dalam berumah tangga, pada dasarnya ini soal berbagi kasih sayang melalu pemahaman terhadap keadaan satu sama lain, asal diiringi dengan keikhlasan, insyaAllah pemahaman untuk saling bergantian menjadi support system pun tidak akan sulit dijalani.

Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Begitu pula masa berkembangnya suami dan istri.

Buat suami kesayangan, good luck ya untuk segala hal yg sedang diusahakan. Good luck buat ujiannya. You know that I will always be around whenever you feel like you need to rest.:D

Bogor, 090416, 08.44

Terima kasih ibu..


Belakangan ini aku sering berpikir tentang ibu. Mungkin karena sebentar lagi aku pun akan menjadi ibu, atau entah karena perasaan sedikit menyesal karena merasa tidak pernah berbakti dengan maksimal selama masih diasuhnya.

Lebih dari satu dua kali, seringkali, memori masa kecil dulu terlintas diantara lamunanku. Aku bahagia, memiliki berjuta kenangan indah hingga dapat tumbuh sempurna seperti hari ini. Aku seolah baru menyadari, ternyata ibu telah membesarkanku dengan penuh bahagia.

Ibu, seingatku, dulu aku susah payah bertahan hidup mengalahkan semua penyakit yang sempat menghampiri. Kadang napasku satu dua, bahkan sejenak mati suri beberapa kali pada satu masa. Tak terbilang berapa jumlah jarum suntik yang musti aku hadapi setiap harinya. Sampai ketika tidurpun aku terpaksa harus engkau pangku demi kesembuhan. Adik yang masih terlalu kecil untuk menafsirkan kesedihan saja bisa mengingat betapa ibanya dia kala melihatku di masa itu.

Dokter berkata umurku tak akan lebih dari 6 tahun, hingga segala upaya kau lakukan untuk membahagiakanku. Bahkan tak jarang aku mendapat perlakuan lebih istimewa dibanding adik-adik yang lain. Tapi ternyata, Tuhan tetap menjadi pemegang kuasa atas hidup mati makhluk ciptaannya.
Dengan kepanjangan tangan malaikatmu, aku sampai pada umurku hari ini yang tak lagi terbilang muda.

Lamunanku pun sampai pada satu kesimpulan, terlepas dari kuasa-Nya yang masih memberikan hak hidup untukku, engkau berperan begitu besar atas hidupku hari ini. Setelah kutilik dan kembali kuingat-ingat, ternyata bahagia yang ibu bantu cipta yang membuatku berumur panjang. Ibu selalu membuat hidupku penuh harapan, penuh dengan keoptimisan masa depan. Ibu besarkan aku dengan penuh kehangatan kasih sayang, yang sering lupa aku syukuri karena tak pernah absen aku rasakan.

Ibu, sebentar lagi aku pun akan menyandang gelar yang rasanya terlalu mulia untuk disematkan padaku. Untuk menjadi ibu sepertimu. Sepertinya tak akan cukup waktu untuk bisa kudulang ilmu pengasuhanmu hingga aku dan adik-adik tumbuh sebahagia hari ini. Mampukah aku untuk setidaknya menjadi ibu sepertimu, ibu? Akankah aku mampu merapihkan dan menyembunyikan perasaanku sendiri kala ia menjerit untuk diteriakkan demi anak-anak yang tak perlu tau dari mana dan bagaimana bahagia dihadirkan? Mampukah aku terus memupuk harap dan bekerja keras menjadikannya kenyataan bagi anak-anakku yang bahkan mengharuskanku mengesampingkan mimpi sendiri? Mampukah aku terus berbagi kehangatan saat diri sebenarnya sedang terjebak dalam dinginnya malam? Mampukah aku untuk terus menjadi cahaya meski kadang harus kubiarkan diri ini habis terbakar?

Rasanya, begitu banyak kekuatan yang harus aku siapkan, begitu besar nyali yang harus aku kumpulkan untuk bisa menjadi seorang ibu. Dan rasa-rasanya tidak pernah cukup rasa terima kasih yang pantas aku dedikasikan atas perjuanganmu ibu.

Ini bukan hari lahirmu, bukan pula hari ibu, dan aku tak perlu hari istimewa untuk menyampaikan betapa bersyukurnya aku digariskan untuk menjadi anakmu ibu. Terima kasih atas semua kasih yang tak pernah henti engkau curahkan. Tuhan pasti tidak akan ragu dan tak akan merugi, untuk menyisihkan satu tempat terbaik di surga kelak ketika sampai akhir hayatmu.

10154389_10207599306396789_6971226324505644958_n

Sehat-sehat ya ibu, kakak sayang ibu.
Terima kasih Ibu…
Jakarta, 010216, 11.03

Tentang Kecintaanku


image

Aku mencintaimu sebanyak ini
*sembari melebarkan lengan menggambarkan simbol tak terhingga*
Kalau kamu?

Kamu hanya diam
Malas menanggapi kekanak-kanakanku

Aku menginginkanmu sekeras ini
*lalu kukepalkan tangan, kudekapkan kepelukan*

Sedikit menoleh, lalu kau melengos membuang wajah
“Drama apa lagi kali ini?”, gumammu.

Aku merinduimu serindu itu
*menanggapi serial korea yang begitu menyentuh hati*

Kudengar tarikan napasmu panjang
Sungguh tak penting, mesti itu yang terlintas dibenakmu

Hingga..
Kelak..
Sampai waktu ketika aku dan kamu tak lagi berada di dunia yang sama
Aku baru mengetahui, kau mencintaiku sebanyak rasa hilangmu atas ketiadaanku
Lalu kita merayakannya diatas sana
Hanya jika Allah masih menakdirkan kita dalam satu garis jodoh yang sama

Apa harus seperti itu?
Ah, menyesal bukan mainanku..
Aku takkan bosan menyampaikan kecintaanku padamu
Meski sampai hilang rasa kau akan kecintaanku.

Bogor, 040915, 22.36

(Masih) Tentang Kanker Payudara


image

overexposedandunderdeveloped.com

Terima kasih teman-teman yang sudah menyempatkan mampir dan membaca tulisan saya sebelumnya. Tulisan kali ini masih lanjutan pengalaman saya mengenai Kanker Payudara.

Saat pertama kali saya mendengar vonis dokter, saya sempat terdiam lama, mengawang-awang membayangkan akhir hidup yang seolah telah didepan mata. Setelah sejenak terdiam, saya lalu bertanya kepada dokter “Apa yang menyebabkan penyakit ini bersarang ditubuh saya ya dok?”. Saya coba menganalisa, apa yang salah dengan pola hidup saya? Sepertinya masih banyak teman diluar sana yang pola hidupnya lebih tidak karuan dan sehat-sehat saja. Dokter Walta menanggapi “It’s given. Bukan karena kamu telah melakukan pola hidup yang salah, kamu terpilih saja untuk dihinggapi penyakit ini.”. Tentu maksud dokter tidak semena-mena tanpa tendeng aling-aling penyakit itu begitu saja ada di tubuh saya, hanya saja karena penyebab kanker yang selama ini disebutkan amat beragam membuat tidak bisa dipatenkan pola hidup atau jenis makanan seperti apa yang benar-benar menjadi penyebab kanker. Saya rasa jawaban dokter juga bermaksud untuk mempermudah penerimaan pasien terhadap apa yang divoniskan terjadi padanya. Terima saja dengan lapang dada dan penuh keikhlasan agar selanjutnya bisa fokus pada cara mengobatinya dan mencegahnya muncul kembali, begitu mungkin kurang lebih yang dokter maksudkan.

Banyak sekali orang yang merokok tidak terkena kanker paru-paru, dan orang yang rajin berolahraga malah menjadi penderita kanker paru. Banyak orang yang menjauhi makanan berpengawet, ber-MSG malah diserang tumor ganas sedang disisi lain banyak pula yang tiap harinya jajan sembarangan ternyata sehat-sehat saja. Tentu dengan menjaga kesehatan akan mengurangi resiko terserangnya penyakit semacam ini, tapi kalaupun sudah dijaga dan masih pula ditakdirkan penyakit tersebut muncul di tubuh kita yasudah hadapi dan perbaiki. Bisa jadi sebenarnya kalau kita tidak menjaga kesehatan, penyakit semacam ini muncul lebih awal dan lebih kronis, who knows?

Lalu pertanyaan saya berlanjut, “Kalau begitu, apa yang bisa saya lakukan untuk mencegah tumor/kanker ini tumbuh dengan baik ditubuh saya?”. Dokter dengan cepat menjawab “Menikah, dan punya anak.”. Hah? Becanda aja nih si dokter, gumam saya kala itu. Kebetulan pula saat itu saya sedang ditemani (yang sekarang menjadi) suami saya, jadi sekalian ber-kode deh. “Beneran dok?”. Dokter pun menjelaskan bahwa setelah menikah biasanya hormone wanita menjadi lebih stabil, biasanya terlihat dari siklus menstruasi yang menjadi lebih teratur setelah menikah. Hormon kita (khususnya estrogen) (yang jadi makanannya sel kanker) pun jadi lebih stabil. Terlebih ketika punya anak, masa kehamilan 9 bulan membuat hormone estrogen yang sebagian berada di payudara dipinjam semua untuk menguatkan Rahim. Jadi setidaknya selama 9 bulan kehamilan, kita tidak perlu mengkhawatirkan soal sel kanker yang mungkin tumbuh memamah biak dengan baik. Begitu kurang lebih penjelasan dokternya.

Teman kantor di lain waktu pernah pula mengingatkan, berhubung saya sudah positif memiliki benjolan tumor/kanker, saya sangat tidak disarankan menggunakan obat-obat penstabil hormone seperti obat KB (pil/suntik), obat-obatan yang mengandung steroid, dsb. Obat-obatan semacam itu hanya akan menyuburkan tumbuhnya sel yang mudah bermutasi menjadi sel kanker. Sari kedelai pun tidak disarankan dikonsumsi, kabarnya sie juga bisa memicu pertumbuhan sel kanker terutama yang sudah jelas ada riwayatnya seperti tubuh saya. Ah, saya kurang tau benar atau tidaknya, selama masih logis dan diyakini benar berhubungan ya saya hindari saja. Walaupun tidak jarang pula saya langgar sie.

Tidak hanya pelajaran medis yang saya dapati, melalui perjalanan menghadapi penyakit ini saya juga merasa Allah sedang membantu saya untuk memilah-milah calon pendamping. Di saat-saat sulit pada waktu itu, suami saya terus menemani, mendukung saya dengan terus berada disekitar. Tidak kemana-mana. Allah seolah ingin berkata, apa yang kamu butuhkan dari pendamping hidup? Ekonomi yang mapan? Wajah yang tampan? Harta yang berlimpah? Atau yang mau menerimamu apa adanya dan tak pernah pergi meski aral melintang dihadapan? Melalui perjalanan ini saya menjadi semakin yakin, ia amat layak saya pilih menjadi suami. Terima kasih malaikat bumi. Terima kasih teman hidup kesayangan!

Dan hari ini, alhamdulillah saya masih hidup dengan sehat wal’afiat. Tulisan perpisahan yang dulu sempat saya siapkan untuk pembaca blog saya pun urung saya terbitkan. Ucapan perpisahan yang telah jauh-jauh hari saya rangkai, tak jadi saya sampaikan kepada yang terkasih. Namun saya tetap bersyukur, saya sudah pernah dan masih terus berbagi melalui tulisan di blog ini. Setidaknya ketika kelak ajal sampai entah dengan cara apa, teman-teman yang sempat berkenalan dengan saya bisa mengobati rindunya melalui tulisan-tulisan disini (yang semoga ada manfaatnya). Dan untuk teman-teman baru yang mungkin akan singgah di kemudian hari, semoga blog ini bisa menjadi sarana kita untuk berkenalan dan saling mendulang manfaat. Karena memang tujuan saya menulis adalah untuk mengabadikan momen dan pelajaran hidup.

Untuk kalian yang sedang berjuang diluar sana, jangan pernah lupa, Tuhan selalu menyediakan kekuatan yang cukup untuk setiap ujian juga orang-orang yang tepat untuk menemanimu melewatinya. Kita semua bisa jadi pemenang!

Jakarta 020915, 15.49

Tentang Ujian Hidup – (Episode – Kanker Payudara)


6992772-waiting-girl
Di waktu-waktu senggang saya sering menyambangi timeline facebook. Entah sudah berapa banyak media sosial yang saya gandrungi tapi facebook tetap jadi nomor satu soal penjagaan silaturahim. Sederhananya karena sudah banyak sekali pertemanan saya disana dengan berbagai rekanan dari berbagai acara dan berbagai belahan dunia. Mulai dari yang kenal dekat sekali sampai yang bahkan namanya pun tidak ring a bell karena mungkin hanya ketemu satu kali lalu kami berteman di facebook.

Timeline facebook tak jarang sering saya kunjungi untuk sekedar mendapatkan semacam flash update dari teman-teman mengenai hidupnya belakangan ini. Selain itu, sering pula saya jadikah semacam kanal berita dengan membaca link yang dibagikan oleh teman-teman tentang hal-hal bermanfaat pun berita terkini (termasuk opini maupun fakta teraktual). Penelusuran timeline ini yang membawa saya pada dua cerita tentang teman yang saya kenal dari beberapa kesempatan.

Sebut saja A, teman pertama yang saya kenal dari komunitas online penyuka dunia tulis menulis. Saya sama sekali tidak pernah bertemu dengan A, hanya saja kehangatan obrolan diantara sesama teman komunitas sudah cukup membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa A adalah seorang yang hangat, ceria, bertalenta, dan ternyata (setelah berkenalan dengan wajah aslinya via facebook) juga sangat aktif dan positif. A adalah seorang teman yang ramah dan ramai. Komentarnya tak jarang menggelitik saya dan teman lainnya, juga tidak satu dua kali menjadi inspirasi dan penyemangat kami sebagai sesame penulis gadungan yang hanya iseng-iseng saja menulis.

Saya baru tau setelah melihat beberapa postingan A di facebook, ternyata A mengidap kanker. Ah, sedih rasanya. Dan yang lebih membuat saya terharu melihat postingannya adalah bukan karena kesedihan yang dibagikan melainkan keberaniannya menantang kanker yang dipastikan akan kalah melawan semangat hidupnya. Hebat sekali! Sampai-sampai diposting juga foto ketika kemoterapi telah dijalani untuk kesekian kalinya hingga membuat rambut A rontok banyak dan harus dipangkas habis. Bagi saya, A tetap terlihat menawan dan memesona. Begitu banyak dukungan yang mengalir kepadanya, dan begitu ceria A menanggapi setiap doa dan dukungan. Hingga akhirnya, A dinyatakan cancer free! Kami semua yang merasa sebagai teman A pun ikut bersuka cita merayakan kebahagiaannya. Saya bisa bayangkan betapa bahagia dan penuh kesyukurannya A setelah melewati ujian ini.

Beranjak dari A, ada pula B, teman yang saya temui di salah satu acara international. B berkebangsaan Malaysia yang baru juga saya ketahui ternyata sedang berjuang melawan kanker. Beberapa bulan kebelakang B divonis mengidap kanker tertentu yang mengharuskannya menjalani terapi penyembuhan yang tak berbeda jauh dari A. B pun kehilangan mahkotanya yang indah, dan dengan bangganya B memposting fotonya dengan berbagai wig yang telah ia gunakan sehari-hari. Ah, hebat sekali mereka, hebat sekali A dan B yang berhasil mengalahkan kerasnya ujian hidup. Lalu saya teringat, mungkin saat ini tepat bagi saya untuk berbagi cerita saya pribadi tentang ujian hidup yang sebenarnya telah sering saya bagikan kepada beberapa teman melalui obrolan langsung.

Tersebutlah Oktober 2013, sesaat setelah medical check up rutin dari kantor dimana saya merasa ada yang salah dengan payudara saya. Entah dari mana asalnya, keberanian muncul begitu saja untuk memeriksakan diri dengan segala resiko diagnosa yang mungkin akan saya dengar. Kecemasan yang teramat sangat pada saat itu membuat saya merasa harus segera bertemu dengan dokter ahli yang tepat yang bisa memberikan penjelasan dari kekhawatiran saya. Setelah berkonsultasi kesana kemari dengan beberapa teman, saya akhirnya memutuskan untuk berkonsultasi dengan dr. Walta Gautama, dokter Onkologi di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading. Dokter yang saya rekomendasikan bagi siapapun yang membutuhkan. Beliau terbilang masih cukup muda namun yang saya suka beliau sangat informatif.

Setelah kunjungan pertama dan melalui pemeriksaan fisik, dokter menemukan terdapat beberapa benjolan yang perlu diperiksa lebih lanjut. Saya pun disarankan untuk melakukan USG mamae agar mendapatkan hasil yang lebih pasti melalui pembacaan foto usg yang bisa dipertanggungjawabkan. Berangkatlah saya beberapa hari selanjutnya ke RS MMC Siloam, Semanggi. Saya buat janji temu dengan dokter Radiologi. Pada saat pemeriksaan, beberapa kali dokter mem-freeze foto USG yang saya duga adalah foto benjolan yang perlu diperiksa lebih lanjut. Benar ternyata dugaan saya, ketika saya tunjukan kembali kepada dr. Walta, foto USG yang di-freeze adalah foto 3 benjolan yang dikategorikan sebagai berikut : 1 Fibroadenoma Mammae (FAM) dan 2 kista.

FAM disini adalah tumor jinak yang bagi saya yang awam diibaratkan seperti daging tumbuh (hanya saja letaknya di organ dalam tubuh) yang berbentuk padat tanpa rongga, sedangkan kista adalah daging tumbuh yang berongga, bisa berisi cairan bening atau darah, bisa juga semacam lemak. Sebelumnya saya telah terlebih dahulu diedukasi mengenai poin-poin apa saja yang perlu diperhatikan ketika ditemukan benjolan untuk kemudian dimasukkan dalam kategori jinak atau ganas/kanker. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Ukuran Benjolan
Apabila benjolan berukuran dibawah 2 cm, teman-teman tetap harus waspada tapi tidak perlu terlalu khawatir, namun apabila ukurannya diatas 2 cm meskipun hanya FAM, sangat disarankan untuk diangkat. Karena cepat atau lambat ukuran benjolan yang semakin lama akan semakin membesar akan mengganggu fungsi organ disekitarnya.

2. Penampang
Setelah diketahui ukuran benjolan, yang selanjutnya perlu diperhatikan adalah penampang benjolan, mulus (seperti kelereng) atau tidak (Bahasa saya gradakan). Apabila penampang tidak mulus, hal ini mengindikasikan adanya pertumbuhan pada benjolan tersebut. Pembacaan hasil seperti ini yang menjadi acuan benjolan dikategorikan sebagai kista.

3. Letak Benjolan
Letak benjolan juga menjadi pertimbangan penting atau tidaknya untuk segera diangkat. Bicara soal benjolan di payudara, benjolan yang terletak di hulu (di percabangan bagian atas) dan di jalur susu sebaiknya segera diangkat karena apabila benjolan tersebut ternyata tumbuh dengan ganas, akan sangat mudah untuk menyebar ke daerah lainnya melalui jalur susu.

4. Riwayat Penyakit Turunan di Keluarga
Selain itu, riwayat turunan di keluarga juga sangat mempengaruhi saran dokter terhadap diagnose penyakit kita. Apabila dalam keluarga (entah itu orangtua, nenek kakek, atau om tante) ada yang divonis memiliki tumor atau kanker, besar kemungkinan kita disarankan untuk segera mengangkat benjolan tersebut meskipun masih dalam kategori tumor jinak, untuk menghindari resiko benjolan tersebut ternyata adalah kanker yang mematikan.

5. Usia Pengidap
Apabila benjolan muncul diusia produktif (sekitar 20-40 tahun) masih mungkin disarankan untuk dibiarkan saja (tidak langsung diangkat), namun apabila benjolan ditemukan disaat kita berumur diatas umur produktif, sangat disarankan untuk segera diangkat, karena kondisi kebugaran tubuh kita telah menurun yang memungkinkan benjolan berkembang lebih cepat yang berakibat mematikan.

14Well_suleika-tmagArticle
Berdasarkan kategori-kategori diatas dan setelah menganalisa hasil foto USG saya, sampailah dokter pada kesimpulan bahwa 2 kista yang ditemukan cukup mengkhawatirkan sehingga perlu segera diangkat. Dan dokter memvonis saya kanker stadium 0 atau Ductal Carsinoma in Situ (DCIS). DCIS adalah munculnya sel-sel abnormal pada saluran susu di payudara yang dianggap sebagai bentuk paling awal dari kanker payudara. Status kanker stadium 0 yang diberikan pada 2 kista ini kurang lebih sebenarnya sama seperti tumor yang apabila diangkat bisa lantas menghentikan kemungkinan berkembangnya kista menjadi sel kanker sedini mungkin (meskipun tidak menutup kemungkinan akan tumbuh kembali di lain tempat di masa yang akan datang). Meskipun penjelasannya lumayan melegakan tapi kemungkinan bahwa kista tersebut telah berkembang dan menulari jaringan organ disekitarnya tetap membuat saya khawatir.

Berdasarkan diagnose tersebut dengan menimbang-nimbang berbagai kemungkinan dimana kista ini adalah jaringan sel kanker yang sedang dalam pertumbuhannya, dokter akhirnya menawarkan untuk operasi pengangkatan dengan 3 tahap operasi dibawah ini :

1. Pengangkatan benjolan yang selanjutnya dianalisa patologi di laboratorium disaat saya masih terbaring di meja operasi

2. Apabila hasilnya tidak baik yaitu ditemukannya sel kanker, operasi dilanjutkan dengan pengambilan sampel organ sebesar 2 cm disekitar benjolan yang telah diangkat sebelumnya. Kemudian dianalisa patologi kembali.

3. Apabila hasilnya masih juga kurang baik, selanjutnya adalah mastektomi atau operasi pengangkatan payudara.

Sesaat setelah saya mendengar perihal mastektomi, saya langsung panic sepanik-paniknya. Memang hasil patologi dari operasi pertama belum tentu seburuk itu namun kemungkinan mastektomi sungguh mengerikan bagi saya. Akhirnya saya minta waktu beberapa hari, dan seminggu selanjutnya saya kembali mengunjungi dokter untuk penjadwalan operasi hanya sampai dengan tahap dua (tanpa mastektomi).

Setelah dijeda dengan liburan ke Bromo dan Sempu bersama teman-teman kantor sekaligus untuk menjernihkan pikiran, hari Sabtu, 11 Januari 2014, dijadwalkanlah operasi pengangkatan benjolan saya. Saya tidak mau menunda terlalu lama mengingat dokter Walta pernah menginfokan bahwa kalau memang ada sel kanker dalam 2 kista tersebut, sel kanker akan tumbuh dan berpindah stage dalam waktu 20 – 100 hari, dan masalahnya kita tidak tahu sel tersebut sedang berada pada hari pertumbuhan ke berapa.

Operasi pun berlangsung. Saat saya masih terbaring di meja operasi, dokter menunjukkan benjolan hasil operasi kepada Ayah dan teman dekat saya (yang saat ini menjadi suami saya), bentuknya seperti baso urat yang ditengahnya ada semacam lemak beku berwarna putih. Seselesai menganalisa benjolan di laboratorium, dokter kembali menghampiri ayah dan suami saya dengan membawa kabar gembira. Operasi tidak perlu diteruskan karena tidak ada pertumbuhan sel yang mengkhawatirkan didalam benjolan tersebut. Alhamdulillah ya Allah.

Sesaat setelah saya sadar dari obat bius, ayah dan suami saya menyampaikan kabar tersebut, Ah, bahagia sekali. Terutama ketika mendapati saya melewati masa-masa ini bersama yang tersayang. Tidak henti-hentinya syukur saya ucapkan. Setidaknya untuk saat ini saya bisa lega. Saya bisa belajar bahwa Allah bisa dengan mudah menakdirkan penyakit berada pada tubuh kita lalu sedetik kemudian menyembuhkannya tanpa sisa. Jangan pernah berhenti untuk memohon perlindungan dariNya. IA yang Maha Kuasa atas segala keadaan.

Masa-masa ini menjadi satu episode hidup yang tidak akan pernah bisa saya lupa. Saya tidak menampik bahwa saya amat panik dan ketakutan menghadapinya, tapi bagi saya menghadapi kenyataan meskipun pahit tetap lebih baik daripada memilih untuk tidak menghadapinya dan bersikap seolah semua baik-baik saja. Sedih memang, takut apalagi, tapi masalah kan tidak akan selesai kalau tidak dihadapi.

Jadi, ujian hidup itu pasti akan menghampiri kehidupan kita, dalam berbagai bentuk, entah itu penyakit, kehilangan, kekalahan, atau pun keberlimpahan, yang pasti jangan pernah pergi menjauh. Face it, and deal with it. Toh tidak akan diluar kemampuan kita kok. Percaya deh, pasti akan kita lalui meski seberat apapun ujian tersebut. Mungkin teman-teman juga bisa belajar dari cerita dua teman saya sebelumnya, yang memilih untuk menantang maut dan menghadapinya dengan penuh keceriaan. Malah jadi menginspirasi banyak orang.

Yuk ah, semangat, hidup ini kan diciptakan untuk dijalani dan diambil pelajaran sepanjang perjalanannya, yasudah lakukan saja sesuai dengan fitrahnya. Semangat terus ya teman-teman! Kalau kitanya semangat, penyakit juga takut lama-lama berkubang dalam tubuh kita.

Cheers!
Jakarta, 010915, 16.23

Tentang Merantau


suitcase-traveler

Dua minggu yang lalu salah satu adik kecil saya mengikuti jejak kakak-kakaknya (lagi) keluar dari rumah, merantau demi pendidikan.

Saya dan keluarga adalah keluarga yang mendadak harus pindah domisili karena kemerdekaan Timor-Timur yang tak banyak memberi pilihan selain berpindah paksa (karena masih ingin menjadi WNI) ketika semua titik stabilitas kehidupan mulai dicapai. Kembali ke Kampung Halaman tanpa cerita kesuksesan yang sebelumnya pernah terdengar diantara sanak keluarga di Lampung, sungguh bukan hal yang ringan. Singkat cerita, demi mencapai stabilitas sebelumnya, orangtua mau tidak mau harus meneruskan kembali karir yang sempat terhambat menuju pelosok Lampung. Pelosok yang saya maksud disini benar-benar pelosok, yang mau tidak mau harus ditempuh melalui berjam-jam transportasi jalur darat.

Timor-Timur, Dili lebih tepatnya, memang kota kecil yang mungkin terbilang ketinggalan soal perkembangan gadget terkini atau fashion modern. Ketertinggalannya diperparah karena pada zamannya (tahun 90an) internet belum tersedia secanggih hari ini yang sangat mungkin meminimalisir kesenjangan perkembangan dunia. Namun, bicara soal pendidikan, Timor-Timur tidak kalah bersaing. Saya dan teman-teman sebaya diajar oleh guru-guru professional yang mampu menjadikan kami cukup berkualitas hingga mampu dipersaingkan dengan siswa-siswi kota besar. Semangat berpendidikan yang baik ini terus tumbuh dan terbawa hingga disaat saya dan keluarga menetap menjadi warga salah satu pelosok Lampung.

Hingga pada saat saya harus meneruskan pendidikan yang sempat saya khawatirkan teramat sangat, sampailah saya pada keputusan memberanikan diri merantau di usia yang relative sangat muda. Didikan orang tua yang menanamkan nyali yang cukup besar menjadi modal untuk kami berani hidup sendiri dirantau pun untuk mereka (red-orang tua) berani meninggalkan anak-anaknya hidup sendiri dirantau. Sejak saya usia 11 tahun (SMP kelas 1) dan adik usia 9 tahun (SD kelas 4), kami telah hidup sendiri diluar sana demi menempuh pendidikan yang lebih baik. Sejak saat itu hingga kini, saya tidak pernah lagi menjadi penghuni rumah.

Ketika dua minggu lalu si adik kecil Tiara harus keluar rumah untuk alasan pendidikan, saya dan adik-adik yang lain serta orang tua sempat khawatir, mampukah si kecil Tiara bertahan sendiri disana? Kekhawatiran kami membawa kami larut pada cerita masa lalu, ternyata begini rasanya melepas si adik kecil, sedih dan khawatir. Padahal setelah ditelusuri kembali, umur kami dulu persis umur adik kecil kami saat ini. Ibu yang entah sudah kesekian kalinya membantu kami berbenah perkakas yang akan dibawa merantau pun tetap saja lagi-lagi pecah dalam tangis. Ibu bilang airmatanya bukan airmata kesedihan, ibu hanya terharu, satu lagi anak ibu akan tumbuh besar dan beranjak dari rumah. Ibu sangat sadar bahwa hari dimana kami keluar dari rumah adalah hari dimana anak-anaknya tidak akan pernah lagi kembali kerumah. Yang kami artikan sebagai kesuksesan dirantau. Ibu justru tidak menginginkan kami kembali jika itu artinya kami bermasalah diluar sana.

Ibu berkata “Dulu kakak dan adek (anak nomor 2) juga ibu lepas sekecil kakak Tiara saat ini, dan sampai detik ini kakak dan adek tidak pernah kembali kerumah bahkan sekarang sudah menjadi milik orang lain, sudah punya keluarganya sendiri.”. Kami ikut terharu. Percakapan semacam ini yang selalu menjadi motivasi untuk saya dan adik-adik tidak lupa bahwa keluarnya kami dari rumah dengan tujuan untuk tidak lain dari menambah kebanggaan orang tua. Semoga sejauh ini kami sudah berhasil menambah kebanggaan mereka dan mungkin juga dengan sedikit menaikkan derajat keluarga.

Saya jadi ingat, lebaran tahun ini adalah lebaran pertama kami tidak lengkap berkumpul dirumah. Saya dan dua adik perempuan saya telah menikah, dan kami untuk pertama kalinya merayakan lebaran dengan keluarga mertua. Biasanya, lebaran dan tahun baru jadi momen khusus buat kami yang telah dikoordinasikan dari jauh-jauh hari untuk berkumpul dan berdiskusi tentang kegiatan apa yang akan kami lakukan. Beberapa hari menjelang Lebaran kemarin, tercium sedikit aroma kesedihan ibu yang biasanya sedang sibuk-sibuknya menanti anaknya pulang satu persatu dari rantau.
Ah, begitulah hidup, ada saatnya bersama adakalanya juga berpisah. Hanya saja kita harus memastikan bahwa berpisah jaraknya kita untuk tujuan yang lebih baik. Kelak, ketika saya diamanahkan anak dan telah sampai pada umur yang cukup, saya pun tidak akan segan melepasnya kedunia luar untuk tujuan yang baik.

“Not all those who wander are lost.” – J. R. R. Tolkien
Jakarta, 200815