Tentang Ibu dan Alpukat


“Belajar jualan kan gak musti nunggu butuh” jawab saya di suatu waktu yang lalu kepada seorang teman.

Semenjak saya mencoba menjajaki dunia berdagang (jualan), saya paham bahwa tidak semua memulai karena butuh. Ada yang memulainya karena turunan dari keluarga pedagang yang dengan mudahnya menjadikan apa saja yang ditemui menjadi komoditi untuk diperdagangkan, ada pula yang berdagang karena ada kesempatan lalu menikmatinya, ada pula yang memang benar-benar tertarik sejak awal dengan dunia ini (semacam bertalenta untuk menjual produk), dan ada yang karena kondisi keuangan yang memaksa dirinya untuk berpikir keras untuk mencari cara menambah penghasilan hingga sebesar mungkin.

Minggu kemarin ibu datang.

Tepat keesokan hari saat suppliermengantarkan alpukat jualan saya langsung dari Garut. Lalu saya dengan semangat bercerita pengalaman berjualan, betapa bagusnya alpukat yang saya dapatkan tiap minggunya kepada ibu, juga betapa puas pelanggan yang telah mencobanya. Ibu pun meresponnya dengan turut berbahagia. Saya sangat senang dengan respon ibu kala itu. Ditambah lagi, kemarin ketika ibu berkata akan berkunjung ke Bogor, saya segera pesan beberapa produk khas lampung untuk dibawa serta. Dan laku keras. Saya berpikir saya sudah berbagi banyak momen bahagia dengan ibu.

Hari ini, saya baru saja mendengar cerita dari teteh pengasuh anak saya dirumah. Teteh yang sudah menganggap ibu saya seperti ibunya sendiri. Teteh bercerita bahwa kemarin ternyata ibu sempat sedih melihat betapa getol-nya saya berjualan.

Saya sontak terdiam. Kaget dan tidak menyangka.

Ternyata tanpa sadar saya sudah membuat ibu sedih. =( Teteh menjelaskan lagi, bukan karena waktu saya untuk bercengkrama dengan ibu menjadi berkurang, ibu bersedih melihat betapa lelah saya yang sehari-hari sudah bekerja, masih harus berbagi waktu mengurusi suami dan anak, lalu harus ditambah aktivitas berdagang (meskipun hanya mengantar ke sekitaran kompleks dan yang mengantarkan adalah teteh yang bekerja dirumah). Ibu merasa saya seharusnya bisa beristirahat lebih banyak. Ibu khawatir kalau-kalau kondisi kesehatan saya jadi terganggu karena kelelahan.

Tak terhindarkan lagi, saya langsung berkaca-kaca. Sedih karena membuat ibu jadi kepikiran.

Awal mula saya berjualan sebenarnya hanya karena ibu-ibu kompleks berdiskusi tentang membuka pasar pagi kecil-kecilan di kompleks, yang kami beri nama Sunday Market dan saya memutuskan untuk berpartisipasi. Pada saat yang sama saya bertemu dengan supplier alpukat yang saya jual saat ini. Awalnya dari coba-coba ehternyata nyandu. Jadilah saya teruskan saja. Dan makin hari produk yang saya tawarkan jadi makin rupa-rupa.

Aktivitas ini membuat saya lebih menghargai uang. Ternyata mencari keuntungan seratus ribu itu tidak mudah, sedang saya selama ini gampang saja ber-online shop beratus-ratus ribu yang tidak jarang produknya tidak benar-benar saya pergunakan dengan baik. Saya jadi lebih mengendalikan pengeluaran saya. Padahal sebenarnya gaji bulanan saya jauh lebih dari cukup untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.

Lalu saya sampai pada pemikiran untuk tidak menunda belajar berdagang hanya setelah saya berada pada kondisi tidak ada pilihan selain memilih jalur itu. Saya ingin memberi banyak hal yang terbaik untuk anak saya. Saya tidak tahu bagaimana nasib pekerjaan saya esok hari. Saya tidak punya jaminan bahwa kesehatan dan keberlimpahan rejeki saya dan suami akan terus seperti hari ini. Karena pertimbangan itulah saya jadi berpikir “Kenapa tidak?”.

Saya juga tidak tau akan sampai kapan saya konsisten untuk berjualan. Saya akan berusaha menjalaninya dulu, sembari meyakinkan ibu bahwa saya baik-baik saja, bukan karena paksaan orang maupun keadaan. Namanya saya, suka mencoba-coba. Kita lihat saja sampai kapan saya bertahan.

It’s okay ibu, I’m all fine. If tomorrow bad days come, I won’t be defeated. I’m not always happy, but it’s so easy to get back to be happy since Selma come around. Life won’t always be good nor bad, right ibu?

Bogor, 110317, 20.03


Advertisements

One thought on “Tentang Ibu dan Alpukat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s