Tentang CINTA


“If only we could be strangers again.” – Collateral Beauty

Sudah lama rasanya imaginasi saya tentang cinta tak lagi bisa berjalan seperti ketika dulu cinta hanya menjadi angan dan sesuatu yang tak terjangkau dalam kenyataan. Justru ketika cinta sudah disampaikan pada ikatan yang halal, seketika itu pula tersendat imaji untk mampu berkreasi tentang cinta. Mungkin karena definisinya sedikit berubah, mungkin juga karena cinta kali ini terasa seperti tidak perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Apa itu cinta? Saya sendiri tidak tau bagaimana cara menggambarkannya. Buat saya saat ini cinta ada pada si rupawan Selma, cinta adalah senyumannya, cinta adalah langkah kaki setengah berlarinya menyambut saya sepulang kerja, cinta adalah rengekannya meminta digendong, cinta adalah ocehannya meminta diperhatikan dalam berbagai kesempatan. Cinta seharusnya mendamaikan, seharusnya memberikan ketenangan bagi penikmatnya. Dan cinta bagi saya belakangan ini ada pada tiap tingkah dan laku si buah hati.

Dulu cinta bagi saya adalah orangtua, lalu berubah menjadi si gebetan yang hanya mampu dinikmati siluetnya dari kejauhan. Kemudian ia berubah menjadi suami, dan saat ini cinta saya temukan pada si malaikat kecil yang telah mendobrak banyak nilai dalam kehidupan berumah tangga.

Cinta bisa menghadirkan kekuatan bahkan ketika ia tidak berbuat apa-apa. Cinta bagi saya adalah kehadiran kita didalam binar mata mereka. Kekhawatiran yang muncul ditiap ketiadaannya. Yang pertama kali terlintas ketika bahagia. Yang selalu menjadi pertimbangan dalam setiap tindakan yang akan diambil. Jika dia belum menjelma menjadi seperti itu, bisa jadi dia bukan cinta.

Saya sangat percaya, cinta bisa tiba-tiba hadir pun mendadak hilang begitu saja tanpa bekas. Mungkin harap yang membuatnya  terasa menyakitkan dan membahagiakan. Berbeda dengan cinta antar pasangan, cinta kepada si buah hati belahan jiwa rasanya tidak bisa dibandingkan dengan apapun, meski semua orang tidak lagi percaya akan dia, sebagai ibu yang mengandung melahirkan dan membesarkannya, saya akan selalu punya setitik kepercayaan untuk selalu bisa memperbaikinya.

“Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi.”
― Dee Lestari, Perahu Kertas

Berbeda dengan ucapan Dee, saya takut menjadi pemimpi. Terus terang dalam berkeluarga saya tidak lagi punya mimpi yang muluk-muluk. Saya hanya ingin menjalaninya dengan baik, dengan niat yang baik, cara dan sikap yang baik. Saya hanya ingin bersyukur atas semua yang masih termiliki. Bersyukur atas jalan lahirnya bayi yang tak ternilai harganya dari Tuhan. Bersyukur atas segala pengalaman baik dan buruk yang telah membuat saya menjadi seperti hari ini.

Dulu saya berpikir, keluarga bisa tercipta dengan syarat harus ada cinta. Ternyata, tidak perlu. Jika pun kita meniadakan cinta, keluarga tetap akan terbentuk dan berjalan seperti apa adanya. Ya mungkin hampa saja hatinya, tapi kan ada cinta-cinta lain yang bisa mengisi kekosongan.

Saya ingin terus menjadi dunia bagi si buah hati yang begitu menawan hati. Saya ingin terus menjadi poros gravitasi tempatnya selalu kembali. Tentu tanpa meniadakan peran Tuhan. Jadi, soal cinta, untuk saat ini saya temukan banyak pada si mungil kesayangan yang segera menjadi kakak dari adik barunya. Untuk amanah cinta lain yang akan segera menjadi bagian dari Keluarga, semoga Tuhan terus memampukan saya untuk meluaskan kelapangan hati, menguatkan dari benturan-benturan yang mungkin akan terjadi, dan terus menjaga cinta agar tetap berada pada jalan-jalan kebaikan.

Cinta seharusnya tetap membawa kita lebih dekat pada Tuhan, menjaga dalam kebaikan, dan menjauhkan dari dosa.

Jakarta, 180717

Dulu saya pernah menjadi pemeran utama, menjadi lirik dalam musik yang diulik, menjadi tokoh dalam tulisan yang dirangkai, oleh mereka. Namun, kenyataan menghempaskan saya semena-mena, membuat saya sadar, sejak awal, saya tidak pernah ada bahkan dalam impiannya. Kehadiran saya tidak cukup. Tempat dimana saya seharusnya menjadi satu-satunya. Dan saya bisa apa? Hanya bisa tetap bertahan hidup meski tanpa energi cinta. Kali ini, Selma menjadi gravitasi saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s