Terima kasih ibu..


Belakangan ini aku sering berpikir tentang ibu. Mungkin karena sebentar lagi aku pun akan menjadi ibu, atau entah karena perasaan sedikit menyesal karena merasa tidak pernah berbakti dengan maksimal selama masih diasuhnya.

Lebih dari satu dua kali, seringkali, memori masa kecil dulu terlintas diantara lamunanku. Aku bahagia, memiliki berjuta kenangan indah hingga dapat tumbuh sempurna seperti hari ini. Aku seolah baru menyadari, ternyata ibu telah membesarkanku dengan penuh bahagia.

Ibu, seingatku, dulu aku susah payah bertahan hidup mengalahkan semua penyakit yang sempat menghampiri. Kadang napasku satu dua, bahkan sejenak mati suri beberapa kali pada satu masa. Tak terbilang berapa jumlah jarum suntik yang musti aku hadapi setiap harinya. Sampai ketika tidurpun aku terpaksa harus engkau pangku demi kesembuhan. Adik yang masih terlalu kecil untuk menafsirkan kesedihan saja bisa mengingat betapa ibanya dia kala melihatku di masa itu.

Dokter berkata umurku tak akan lebih dari 6 tahun, hingga segala upaya kau lakukan untuk membahagiakanku. Bahkan tak jarang aku mendapat perlakuan lebih istimewa dibanding adik-adik yang lain. Tapi ternyata, Tuhan tetap menjadi pemegang kuasa atas hidup mati makhluk ciptaannya.
Dengan kepanjangan tangan malaikatmu, aku sampai pada umurku hari ini yang tak lagi terbilang muda.

Lamunanku pun sampai pada satu kesimpulan, terlepas dari kuasa-Nya yang masih memberikan hak hidup untukku, engkau berperan begitu besar atas hidupku hari ini. Setelah kutilik dan kembali kuingat-ingat, ternyata bahagia yang ibu bantu cipta yang membuatku berumur panjang. Ibu selalu membuat hidupku penuh harapan, penuh dengan keoptimisan masa depan. Ibu besarkan aku dengan penuh kehangatan kasih sayang, yang sering lupa aku syukuri karena tak pernah absen aku rasakan.

Ibu, sebentar lagi aku pun akan menyandang gelar yang rasanya terlalu mulia untuk disematkan padaku. Untuk menjadi ibu sepertimu. Sepertinya tak akan cukup waktu untuk bisa kudulang ilmu pengasuhanmu hingga aku dan adik-adik tumbuh sebahagia hari ini. Mampukah aku untuk setidaknya menjadi ibu sepertimu, ibu? Akankah aku mampu merapihkan dan menyembunyikan perasaanku sendiri kala ia menjerit untuk diteriakkan demi anak-anak yang tak perlu tau dari mana dan bagaimana bahagia dihadirkan? Mampukah aku terus memupuk harap dan bekerja keras menjadikannya kenyataan bagi anak-anakku yang bahkan mengharuskanku mengesampingkan mimpi sendiri? Mampukah aku terus berbagi kehangatan saat diri sebenarnya sedang terjebak dalam dinginnya malam? Mampukah aku untuk terus menjadi cahaya meski kadang harus kubiarkan diri ini habis terbakar?

Rasanya, begitu banyak kekuatan yang harus aku siapkan, begitu besar nyali yang harus aku kumpulkan untuk bisa menjadi seorang ibu. Dan rasa-rasanya tidak pernah cukup rasa terima kasih yang pantas aku dedikasikan atas perjuanganmu ibu.

Ini bukan hari lahirmu, bukan pula hari ibu, dan aku tak perlu hari istimewa untuk menyampaikan betapa bersyukurnya aku digariskan untuk menjadi anakmu ibu. Terima kasih atas semua kasih yang tak pernah henti engkau curahkan. Tuhan pasti tidak akan ragu dan tak akan merugi, untuk menyisihkan satu tempat terbaik di surga kelak ketika sampai akhir hayatmu.

10154389_10207599306396789_6971226324505644958_n

Sehat-sehat ya ibu, kakak sayang ibu.
Terima kasih Ibu…
Jakarta, 010216, 11.03

Advertisements

One thought on “Terima kasih ibu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s