Tentang Menjadi Pengaruh Baik



No matter how educated, talented, rich, or cool you believe you are, how you treat people ultimately tells all.

Pagi ini rutinitas senin tak ubahnya awal minggu kerja lainnya. Bangun subuh yg sama, kereta yg sama, kepadatan yg sama, dengan karakter penumpang kereta yg itu-itu saja. 

Berkereta itu bisa mendadak bikin happy gak ketulungan disaat bisa mendapatkan duduk dari stasiun Bogor sampai dengan stasiun Sudirman, bisa juga mendadak bikin bete gak ketulungan disaat harus berdiri, kereta padatnya melebihi jakarta, ditambah lagi masih harus memekakan telinga dengan komen-komen nyinyir penumpang yang (saya rasa) jam terbangnya belum tinggi atau musti ambil kuda-kuda dan strategi ekstra untuk mengakali penjahat kelamin yang masih suka cari-cari celah untuk bisa bergesekan dengan lawan jenis (di gerbong campur). 

Nah, pagi ini, saya yang datangnya sedikit mepet dengan jam keberangkatan tentunya sudah tidak berharap bisa mendapatkan kursi. Saya berdiri sejak awal di depan penumpang bangku prioritas. Didepan saya duduk 3 orang penumpang : 1 ibu late 30/early 40 yang sedang tidak hamil, dan 2 org bapak-bapak yg terlihat masih segar bugar. 

Oh ya, sebelum saya lanjutkan, saya ceritakan sedikit kenapa semenjak melahirkan saya selalu naik gerbong campur meski potensi bergesekan dengan lawan jenis cukup besar. Saya yang (seperti penumpang lainnya) masih suka berharap dapat duduk selain merasa kesadisannya tidak separah gerbong wanita, saya merasa lebih tinggi kemungkinan untuk bisa duduk di gerbong campur. Kalau sudah terlanjur penuh biasanya saya berdiri di depan kursi prioritas dimana ada bapak-bapak yang duduk mana tau mereka berkenan berbagi kursinya dengan saya. Dan seringnya berhasil. Tentu ketika ada penumpang prioritas saya langsung memberikan kursi yang menjadi hak mereka. Hanya saja tidak jarang saya bisa menikmati kursi tersebut sejak awal hingga akhir. Karena biasanya jarang penumpang prioritas naik di gerbong tengah (gerbong 4-5 untuk kereta 8 gerbong) (ini juga berdasarkan hasil pengamatan berbulan-bulan naik kereta).
Nah berdasarkan kebiasaan saya tersebut, sampailah saya pada kondisi pagi ini. Sejak awal sampai dengan 1 stasiun berikutnya 2 bapak-bapak ini masih duduk sembari berjaga-jaga mana tau ada penumpang prioritas. Tidurnya tidur-tidur ayam karena sedikit khawatir dengan judgement yang diberikan penumpang disekitarnya melihat ada saya yang berdiri didepan mereka dan tidak ditawari duduk karena dinilai tidak masuk kategori penumpang prioritas (malah terlihat sangat segar bugar). Saya pun tidak meminta karena kursi itu menjadi hak mereka (selama tidak ada penumpang prioritas) yang sudah datang lebih awal. Sampai di stasiun kedua, datanglah seorang ibu-ibu yang sudah berumur yang membuat salah seorang bapak-bapak tersebut serta merta berdiri memberikan kursinya. Sisa 1 orang bapak yang masih tertidur ayam semakin tidak nyaman dengan posisinya yang duduk sendiri diantara ibu-ibu dan ditengah bapak-bapak lainnya yang sudah berdiri mengelilinginya. Tidak berselang lama, bapak tersebut pun ikut berdiri. Saya kira ada penumpang prioritas lainnya yang tidak tertangkap mata saya. Eh ternyata kursi tersebut diserahkan pada saya yang sejak awal berdiri dihadapannya.

Entah apa motivasi bapak tersebut hingga pada akhirnya menyerahkan kursinya pada saya, entah karena malu, entah terinspirasi bapak disampingnya, entah mungkin sudah merasa cukup duduk selama 2 stasiun (sekitar 20-30 menit). Apapun motivasinya, kedua bapak-bapak ini sudah menyampaikan satu pelajaran penting bagi saya. Untuk menjadi pengaruh yang baik. Kalau boleh memilih tentu mereka memilih tetap duduk. Kenapa tidak sejak awal berdiri? Ya karena mereka belum mendapatkan momennya. Apapun alasannya, yang terpenting adalah mereka tetap berujung pada berbuat kebaikan. Peristiwa semacam ini sering sekali terjadi disekitar kita. Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapinya? Mampukah kita menjadi leader mengawali kebaikan yang kemudian bergema membawa pengaruh baik bagi orang selanjutnya? It’s your choice. Memilih untuk menjadi leader seperti bapak pertama atau menjadi follower seperti bapak kedua. Pada akhirnya, kebaikan tetap menjadi ujung pilihannya.

Mungkin saya menganalisa kejadian sederhana ini dengan terlalu berlebihan. Ya, bisa jadi. Hanya saja, kejadian sederhana ini menjadi momen untuk saya bisa mendapatkan pelajaran ini. 

Bagi saya menjadi baik itu tidak bisa sekonyong-konyong berubah begitu saja semudah membalik telapak tangan. Menjadi baik membutuhkan tahap. Mungkin hingga akhirpun kita tidak akan mencapai kesempurnaan, tapi setidaknya kita sudah membuat progress menuju kebaikan. Progress not perfection 

Nah, kira-kira itu yang mau saya bagikan ke teman-teman. Semoga ada manfaatnya. Ah, glad to write back. Lama sekali blog ini terabaikan. Happy monday ya man-teman..

KRL Bogor – Jakarta, 141116, 07.07

Advertisements

One thought on “Tentang Menjadi Pengaruh Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s