Meracau – Mencari Diri Yang Hilang


“When you lose touch with yourself, you lose yourself in the world.” – Eckhart Tolle

Kehilangan Diri Sendiri

Beberapa waktu lalu saya sempat mengalami fase dimana saya tidak tau saya harus apa. Saya tidak tau saya ingin apa. Saya seperti kehilangan arah, bingung harus kemana melangkah, dan bagaimana menikmati apa yang sedang dijalani. Dan persis seperti perkataan Exkhart Tolle diatas, saya merasa saya kehilangan diri saya.

Tentu bukan sekonyong-konyong fase ini menghampiri saya, ada satu dua kejadian yang membuat saya merasa demikian. Saya merasa kehilangan pegangan, kehilangan alasan untuk bertahan dan berbahagia. Saya tau saya salah, karena menggantungkan segalanya kepada makhluk, yang sangat bisa dipastikan cepat atau lambat akan membuat kita kecewa. Semestinya sejak awal Tuhan jadi satu-satunya tempat bergantung. Ya, bagaimana lagi, sudah terjadi. Saya salah.

Bagi saya, kehilangan diri sendiri itu mengerikan. Rasanya hampa dan entah bagaimana harus menjalani hidup yang seperti ini. Ini rasa kehilangan paling parah selama saya menikah. Atau setelah saya menikah?

Pernikahan – Transformasi Diri

Ah, bicara soal pernikahan, benar-benar bukan hal yang mudah, benar-benar tidak seindah cerita-cerita bedtime stories tentang putri cantik dan pangeran tampan yang akan hidup bahagia selamanya. Tapi tidak juga melulu sulit dan menegangkan, ada juga kisah-kisah manis terselip diantaranya. Ada beberapa tindakan yang saya lakukan demi kepentingan bersama, setidaknya begitu nilai yang ditanamkan pada diri saya melalui didikan orang tua dan bentukan lingkungan hidup berpuluh tahun ini. Tindakan-tindakan yang tanpa sadar membuat kita mengenyampingkan diri sendiri, meniadakan ego, dan berusaha untuk membuat semua berjalan seperti seharusnya.

Ternyata, tanpa disadari, saya perlahan merasa berubah menjadi saya yang baru. Saya yang tidak lagi banyak saya temukan tentang diri saya didalamnya. Padahal tidak ada yang memaksa saya berubah, namun kepekaan untuk menyeimbangkan jalannya kehidupan berumah tangga membuat saya berubah menjadi saya yang baru.

Rasa kehilangan saya terhadap diri sendiri ini sebenarnya belum tentu berarti saya benar-benar kehilangan diri sendiri. Bisa jadi sebenarnya ini adalah sebentuk denial atas transformasi diri yang baru yang berusaha bertahan hidup dalam rumah tangga dengan intervensi dari pasangan. Saya yakin dan percaya, setiap mereka yang menikah mengalami pergeseran diri semacam ini. Ada yang ekstrim, ada juga yang smooth.

Mereka yang pada akhirnya memilih untuk berpisah dengan pasangan adalah salah satu contoh dari keputusan atas kehilangan diri  yang luar biasa ekstrim. Ketidak bebasan, keinginan untuk kembali memutuskan segalanya tanpa harus mempertimbangkan orang lain tentu menjadi satu dari sekian alasan. Terutama, alasan untuk kembali menemukan kebahagiaan diri sendiri.

Bahagia

Bahagia. Lagi-lagi menjadi satu energi untuk mengambil keputusan. Bagi saya kemarin, bahagia menjadi ultimate goal yang harus ada dalam setiap fase kehidupan saya. Namun kini, bagi saya, kebahagiaan bukan segalanya. Mengingat perkataan WS Rendra, sebenarnya kebahagiaan dan kesedihan itu sama saja, mereka hanyalah sebentuk emosi yang diberi label yang disesuaikan dengan rasa dan dikeluarkan dalam bentuk ekspresi yang identik. Bahagia dan tidak bahagia ini yang membuat pikiran suka mengawang kembali ke masa lalu dan berkata “if only….”

Duh, beberapa waktu lalu saya benar-benar sering mengucapkan ini, sibuk berandai-andai kalau saja pilihan yang saya buat kemarin bukan ini. Kalau saja saya begini. Kalau saja saya tidak begitu. Padahal saya sebelumnya paling pantang merasa menyesal atas sesuatu yang telah saya putuskan untuk jalani.

Lalu saya berpikir lagi, kalau saya tidak memutuskan untuk mengambil jalan yang saat ini saya jalani, memangnya saya akan lebih bahagia? (lagi-lagi bahagia jadi parameter keberhasilan). Memangnya saya tidak akan menyesali jalan yang tidak saya ambil? Saya tidak akan bertemu dengan bayi lucu, lincah, dan luar biasa menggemaskan yang saya miliki saat ini donk. Saya tidak akan tinggal di Bogor dengan lingkungan baik yang saya dapatkan sekarang. Saya bisa jadi pun masih mencari-cari makna hidup saya ketika saya masih berpetualang sendiri, dan pada akhirnya mencari alasan untuk pulang kepada seseorang yang saya sebut pasangan.

Seperti percakapan dengan seorang teman beberapa lalu, ketika kamu memilih untuk bercerai, memangnya ada jaminan kamu akan menikah lagi dengan yang kamu cintai? Bisa jadi jodohmu di dunia berakhir pada mantan suamimu kemarin dan tidak ada lagi jodoh yang tertakdir untukmu hingga ajal nanti. Memangnya ketika kamu menikah dengan orang lain lantas dia tidurnya tidak akan mengorok, alih-alih bersenandung merdu? Memang kentutnya akan sewangi bunga mawar? Lalu ilernya akan bau kasturi? Memangnya kamu bisa jamin ketika kamu dengan orang lain lalu pasanganmu tidak akan melempar baju bekas pakai sembarangan, atau lupa menyiram bekas pipisnya, atau suka jorok dan tidak menjaga kebersihan rumah? Atau mungkin perilakunya pada orangtua juga keluargamu akan jauh lebih baik? Tidak ada yang bisa menjamin itu semua. 

Andai kamu berpasangan dengan orang lain, lalu kamu berpikir istrimu kelak akan selalu melayani setiap keinginanmu, selalu menjaga perasaan dan nama baikmu didepan keluarga dan orang lain? Sangat bisa jadi malah kualitas yang dimiliki istrimu kali ini tidak dimiliki orang tersebut.  Sangat mungkin orang lain yang kamu khayal-khayalkan lebih baik di beberapa sisi yang tidak pasanganmu miliki saat ini, tapi mereka juga akan punya kekurangan lain yang suatu hari akan kembali menjadi alasanmu untuk pergi dan berandai-andai lagi. Jadi lagi-lagi, tidak ada gunanya sebenarnya berandai-andai. Hanya mengganti masalah yang tetap akan ditemui dalam hidup berumag tangga. Tentunya berpisah jadi halal meski tetap tidak disukai Tuhan apabila keputusan berpisah dengan pasangan didasarkan pada aqidah yang sudah tidak sejalan dan lebih banyak mudharat daripada kebaikan. Itu hal prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar tentunya. 

Bersyukur

Ibu pernah berpesan, jangan sering mengeluh, nanti jadi jauh dari mudah bersyukur, padahal bersyukur mampu membuat nikmat berlipat ganda. Jadi, apa yang bisa saya ambil dari racauan panjang ini : Bahwa ini hanya penyesuaian terhadap transformasi diri, bahwa kesyukuran harus menjadi prioritas agar kehidupan bisa dijalani jauh dari kehampaan, bahwa suatu hari mungkin saya akan bersyukur telah berubah menjadi saya yang baru. Ya mungkin itu. 

Ah, sepertinya sudah terlalu panjang racauan ini. Maaf ya buat yang sudah terlanjur membaca dan tidak dapat apa-apa. Kabar baiknya, saya akan segera menjadi ibu dari Dua. Sudah pantaskah saya?

Jkt – Bogor, 310717
Gambar dr pinterest

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s