(Masih) Tentang Kanker Payudara


image

overexposedandunderdeveloped.com

Terima kasih teman-teman yang sudah menyempatkan mampir dan membaca tulisan saya sebelumnya. Tulisan kali ini masih lanjutan pengalaman saya mengenai Kanker Payudara.

Saat pertama kali saya mendengar vonis dokter, saya sempat terdiam lama, mengawang-awang membayangkan akhir hidup yang seolah telah didepan mata. Setelah sejenak terdiam, saya lalu bertanya kepada dokter “Apa yang menyebabkan penyakit ini bersarang ditubuh saya ya dok?”. Saya coba menganalisa, apa yang salah dengan pola hidup saya? Sepertinya masih banyak teman diluar sana yang pola hidupnya lebih tidak karuan dan sehat-sehat saja. Dokter Walta menanggapi “It’s given. Bukan karena kamu telah melakukan pola hidup yang salah, kamu terpilih saja untuk dihinggapi penyakit ini.”. Tentu maksud dokter tidak semena-mena tanpa tendeng aling-aling penyakit itu begitu saja ada di tubuh saya, hanya saja karena penyebab kanker yang selama ini disebutkan amat beragam membuat tidak bisa dipatenkan pola hidup atau jenis makanan seperti apa yang benar-benar menjadi penyebab kanker. Saya rasa jawaban dokter juga bermaksud untuk mempermudah penerimaan pasien terhadap apa yang divoniskan terjadi padanya. Terima saja dengan lapang dada dan penuh keikhlasan agar selanjutnya bisa fokus pada cara mengobatinya dan mencegahnya muncul kembali, begitu mungkin kurang lebih yang dokter maksudkan.

Banyak sekali orang yang merokok tidak terkena kanker paru-paru, dan orang yang rajin berolahraga malah menjadi penderita kanker paru. Banyak orang yang menjauhi makanan berpengawet, ber-MSG malah diserang tumor ganas sedang disisi lain banyak pula yang tiap harinya jajan sembarangan ternyata sehat-sehat saja. Tentu dengan menjaga kesehatan akan mengurangi resiko terserangnya penyakit semacam ini, tapi kalaupun sudah dijaga dan masih pula ditakdirkan penyakit tersebut muncul di tubuh kita yasudah hadapi dan perbaiki. Bisa jadi sebenarnya kalau kita tidak menjaga kesehatan, penyakit semacam ini muncul lebih awal dan lebih kronis, who knows?

Lalu pertanyaan saya berlanjut, “Kalau begitu, apa yang bisa saya lakukan untuk mencegah tumor/kanker ini tumbuh dengan baik ditubuh saya?”. Dokter dengan cepat menjawab “Menikah, dan punya anak.”. Hah? Becanda aja nih si dokter, gumam saya kala itu. Kebetulan pula saat itu saya sedang ditemani (yang sekarang menjadi) suami saya, jadi sekalian ber-kode deh. “Beneran dok?”. Dokter pun menjelaskan bahwa setelah menikah biasanya hormone wanita menjadi lebih stabil, biasanya terlihat dari siklus menstruasi yang menjadi lebih teratur setelah menikah. Hormon kita (khususnya estrogen) (yang jadi makanannya sel kanker) pun jadi lebih stabil. Terlebih ketika punya anak, masa kehamilan 9 bulan membuat hormone estrogen yang sebagian berada di payudara dipinjam semua untuk menguatkan Rahim. Jadi setidaknya selama 9 bulan kehamilan, kita tidak perlu mengkhawatirkan soal sel kanker yang mungkin tumbuh memamah biak dengan baik. Begitu kurang lebih penjelasan dokternya.

Teman kantor di lain waktu pernah pula mengingatkan, berhubung saya sudah positif memiliki benjolan tumor/kanker, saya sangat tidak disarankan menggunakan obat-obat penstabil hormone seperti obat KB (pil/suntik), obat-obatan yang mengandung steroid, dsb. Obat-obatan semacam itu hanya akan menyuburkan tumbuhnya sel yang mudah bermutasi menjadi sel kanker. Sari kedelai pun tidak disarankan dikonsumsi, kabarnya sie juga bisa memicu pertumbuhan sel kanker terutama yang sudah jelas ada riwayatnya seperti tubuh saya. Ah, saya kurang tau benar atau tidaknya, selama masih logis dan diyakini benar berhubungan ya saya hindari saja. Walaupun tidak jarang pula saya langgar sie.

Tidak hanya pelajaran medis yang saya dapati, melalui perjalanan menghadapi penyakit ini saya juga merasa Allah sedang membantu saya untuk memilah-milah calon pendamping. Di saat-saat sulit pada waktu itu, suami saya terus menemani, mendukung saya dengan terus berada disekitar. Tidak kemana-mana. Allah seolah ingin berkata, apa yang kamu butuhkan dari pendamping hidup? Ekonomi yang mapan? Wajah yang tampan? Harta yang berlimpah? Atau yang mau menerimamu apa adanya dan tak pernah pergi meski aral melintang dihadapan? Melalui perjalanan ini saya menjadi semakin yakin, ia amat layak saya pilih menjadi suami. Terima kasih malaikat bumi. Terima kasih teman hidup kesayangan!

Dan hari ini, alhamdulillah saya masih hidup dengan sehat wal’afiat. Tulisan perpisahan yang dulu sempat saya siapkan untuk pembaca blog saya pun urung saya terbitkan. Ucapan perpisahan yang telah jauh-jauh hari saya rangkai, tak jadi saya sampaikan kepada yang terkasih. Namun saya tetap bersyukur, saya sudah pernah dan masih terus berbagi melalui tulisan di blog ini. Setidaknya ketika kelak ajal sampai entah dengan cara apa, teman-teman yang sempat berkenalan dengan saya bisa mengobati rindunya melalui tulisan-tulisan disini (yang semoga ada manfaatnya). Dan untuk teman-teman baru yang mungkin akan singgah di kemudian hari, semoga blog ini bisa menjadi sarana kita untuk berkenalan dan saling mendulang manfaat. Karena memang tujuan saya menulis adalah untuk mengabadikan momen dan pelajaran hidup.

Untuk kalian yang sedang berjuang diluar sana, jangan pernah lupa, Tuhan selalu menyediakan kekuatan yang cukup untuk setiap ujian juga orang-orang yang tepat untuk menemanimu melewatinya. Kita semua bisa jadi pemenang!

Jakarta 020915, 15.49

Tentang Ujian Hidup – (Episode – Kanker Payudara)


6992772-waiting-girl
Di waktu-waktu senggang saya sering menyambangi timeline facebook. Entah sudah berapa banyak media sosial yang saya gandrungi tapi facebook tetap jadi nomor satu soal penjagaan silaturahim. Sederhananya karena sudah banyak sekali pertemanan saya disana dengan berbagai rekanan dari berbagai acara dan berbagai belahan dunia. Mulai dari yang kenal dekat sekali sampai yang bahkan namanya pun tidak ring a bell karena mungkin hanya ketemu satu kali lalu kami berteman di facebook.

Timeline facebook tak jarang sering saya kunjungi untuk sekedar mendapatkan semacam flash update dari teman-teman mengenai hidupnya belakangan ini. Selain itu, sering pula saya jadikah semacam kanal berita dengan membaca link yang dibagikan oleh teman-teman tentang hal-hal bermanfaat pun berita terkini (termasuk opini maupun fakta teraktual). Penelusuran timeline ini yang membawa saya pada dua cerita tentang teman yang saya kenal dari beberapa kesempatan.

Sebut saja A, teman pertama yang saya kenal dari komunitas online penyuka dunia tulis menulis. Saya sama sekali tidak pernah bertemu dengan A, hanya saja kehangatan obrolan diantara sesama teman komunitas sudah cukup membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa A adalah seorang yang hangat, ceria, bertalenta, dan ternyata (setelah berkenalan dengan wajah aslinya via facebook) juga sangat aktif dan positif. A adalah seorang teman yang ramah dan ramai. Komentarnya tak jarang menggelitik saya dan teman lainnya, juga tidak satu dua kali menjadi inspirasi dan penyemangat kami sebagai sesame penulis gadungan yang hanya iseng-iseng saja menulis.

Saya baru tau setelah melihat beberapa postingan A di facebook, ternyata A mengidap kanker. Ah, sedih rasanya. Dan yang lebih membuat saya terharu melihat postingannya adalah bukan karena kesedihan yang dibagikan melainkan keberaniannya menantang kanker yang dipastikan akan kalah melawan semangat hidupnya. Hebat sekali! Sampai-sampai diposting juga foto ketika kemoterapi telah dijalani untuk kesekian kalinya hingga membuat rambut A rontok banyak dan harus dipangkas habis. Bagi saya, A tetap terlihat menawan dan memesona. Begitu banyak dukungan yang mengalir kepadanya, dan begitu ceria A menanggapi setiap doa dan dukungan. Hingga akhirnya, A dinyatakan cancer free! Kami semua yang merasa sebagai teman A pun ikut bersuka cita merayakan kebahagiaannya. Saya bisa bayangkan betapa bahagia dan penuh kesyukurannya A setelah melewati ujian ini.

Beranjak dari A, ada pula B, teman yang saya temui di salah satu acara international. B berkebangsaan Malaysia yang baru juga saya ketahui ternyata sedang berjuang melawan kanker. Beberapa bulan kebelakang B divonis mengidap kanker tertentu yang mengharuskannya menjalani terapi penyembuhan yang tak berbeda jauh dari A. B pun kehilangan mahkotanya yang indah, dan dengan bangganya B memposting fotonya dengan berbagai wig yang telah ia gunakan sehari-hari. Ah, hebat sekali mereka, hebat sekali A dan B yang berhasil mengalahkan kerasnya ujian hidup. Lalu saya teringat, mungkin saat ini tepat bagi saya untuk berbagi cerita saya pribadi tentang ujian hidup yang sebenarnya telah sering saya bagikan kepada beberapa teman melalui obrolan langsung.

Tersebutlah Oktober 2013, sesaat setelah medical check up rutin dari kantor dimana saya merasa ada yang salah dengan payudara saya. Entah dari mana asalnya, keberanian muncul begitu saja untuk memeriksakan diri dengan segala resiko diagnosa yang mungkin akan saya dengar. Kecemasan yang teramat sangat pada saat itu membuat saya merasa harus segera bertemu dengan dokter ahli yang tepat yang bisa memberikan penjelasan dari kekhawatiran saya. Setelah berkonsultasi kesana kemari dengan beberapa teman, saya akhirnya memutuskan untuk berkonsultasi dengan dr. Walta Gautama, dokter Onkologi di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading. Dokter yang saya rekomendasikan bagi siapapun yang membutuhkan. Beliau terbilang masih cukup muda namun yang saya suka beliau sangat informatif.

Setelah kunjungan pertama dan melalui pemeriksaan fisik, dokter menemukan terdapat beberapa benjolan yang perlu diperiksa lebih lanjut. Saya pun disarankan untuk melakukan USG mamae agar mendapatkan hasil yang lebih pasti melalui pembacaan foto usg yang bisa dipertanggungjawabkan. Berangkatlah saya beberapa hari selanjutnya ke RS MMC Siloam, Semanggi. Saya buat janji temu dengan dokter Radiologi. Pada saat pemeriksaan, beberapa kali dokter mem-freeze foto USG yang saya duga adalah foto benjolan yang perlu diperiksa lebih lanjut. Benar ternyata dugaan saya, ketika saya tunjukan kembali kepada dr. Walta, foto USG yang di-freeze adalah foto 3 benjolan yang dikategorikan sebagai berikut : 1 Fibroadenoma Mammae (FAM) dan 2 kista.

FAM disini adalah tumor jinak yang bagi saya yang awam diibaratkan seperti daging tumbuh (hanya saja letaknya di organ dalam tubuh) yang berbentuk padat tanpa rongga, sedangkan kista adalah daging tumbuh yang berongga, bisa berisi cairan bening atau darah, bisa juga semacam lemak. Sebelumnya saya telah terlebih dahulu diedukasi mengenai poin-poin apa saja yang perlu diperhatikan ketika ditemukan benjolan untuk kemudian dimasukkan dalam kategori jinak atau ganas/kanker. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Ukuran Benjolan
Apabila benjolan berukuran dibawah 2 cm, teman-teman tetap harus waspada tapi tidak perlu terlalu khawatir, namun apabila ukurannya diatas 2 cm meskipun hanya FAM, sangat disarankan untuk diangkat. Karena cepat atau lambat ukuran benjolan yang semakin lama akan semakin membesar akan mengganggu fungsi organ disekitarnya.

2. Penampang
Setelah diketahui ukuran benjolan, yang selanjutnya perlu diperhatikan adalah penampang benjolan, mulus (seperti kelereng) atau tidak (Bahasa saya gradakan). Apabila penampang tidak mulus, hal ini mengindikasikan adanya pertumbuhan pada benjolan tersebut. Pembacaan hasil seperti ini yang menjadi acuan benjolan dikategorikan sebagai kista.

3. Letak Benjolan
Letak benjolan juga menjadi pertimbangan penting atau tidaknya untuk segera diangkat. Bicara soal benjolan di payudara, benjolan yang terletak di hulu (di percabangan bagian atas) dan di jalur susu sebaiknya segera diangkat karena apabila benjolan tersebut ternyata tumbuh dengan ganas, akan sangat mudah untuk menyebar ke daerah lainnya melalui jalur susu.

4. Riwayat Penyakit Turunan di Keluarga
Selain itu, riwayat turunan di keluarga juga sangat mempengaruhi saran dokter terhadap diagnose penyakit kita. Apabila dalam keluarga (entah itu orangtua, nenek kakek, atau om tante) ada yang divonis memiliki tumor atau kanker, besar kemungkinan kita disarankan untuk segera mengangkat benjolan tersebut meskipun masih dalam kategori tumor jinak, untuk menghindari resiko benjolan tersebut ternyata adalah kanker yang mematikan.

5. Usia Pengidap
Apabila benjolan muncul diusia produktif (sekitar 20-40 tahun) masih mungkin disarankan untuk dibiarkan saja (tidak langsung diangkat), namun apabila benjolan ditemukan disaat kita berumur diatas umur produktif, sangat disarankan untuk segera diangkat, karena kondisi kebugaran tubuh kita telah menurun yang memungkinkan benjolan berkembang lebih cepat yang berakibat mematikan.

14Well_suleika-tmagArticle
Berdasarkan kategori-kategori diatas dan setelah menganalisa hasil foto USG saya, sampailah dokter pada kesimpulan bahwa 2 kista yang ditemukan cukup mengkhawatirkan sehingga perlu segera diangkat. Dan dokter memvonis saya kanker stadium 0 atau Ductal Carsinoma in Situ (DCIS). DCIS adalah munculnya sel-sel abnormal pada saluran susu di payudara yang dianggap sebagai bentuk paling awal dari kanker payudara. Status kanker stadium 0 yang diberikan pada 2 kista ini kurang lebih sebenarnya sama seperti tumor yang apabila diangkat bisa lantas menghentikan kemungkinan berkembangnya kista menjadi sel kanker sedini mungkin (meskipun tidak menutup kemungkinan akan tumbuh kembali di lain tempat di masa yang akan datang). Meskipun penjelasannya lumayan melegakan tapi kemungkinan bahwa kista tersebut telah berkembang dan menulari jaringan organ disekitarnya tetap membuat saya khawatir.

Berdasarkan diagnose tersebut dengan menimbang-nimbang berbagai kemungkinan dimana kista ini adalah jaringan sel kanker yang sedang dalam pertumbuhannya, dokter akhirnya menawarkan untuk operasi pengangkatan dengan 3 tahap operasi dibawah ini :

1. Pengangkatan benjolan yang selanjutnya dianalisa patologi di laboratorium disaat saya masih terbaring di meja operasi

2. Apabila hasilnya tidak baik yaitu ditemukannya sel kanker, operasi dilanjutkan dengan pengambilan sampel organ sebesar 2 cm disekitar benjolan yang telah diangkat sebelumnya. Kemudian dianalisa patologi kembali.

3. Apabila hasilnya masih juga kurang baik, selanjutnya adalah mastektomi atau operasi pengangkatan payudara.

Sesaat setelah saya mendengar perihal mastektomi, saya langsung panic sepanik-paniknya. Memang hasil patologi dari operasi pertama belum tentu seburuk itu namun kemungkinan mastektomi sungguh mengerikan bagi saya. Akhirnya saya minta waktu beberapa hari, dan seminggu selanjutnya saya kembali mengunjungi dokter untuk penjadwalan operasi hanya sampai dengan tahap dua (tanpa mastektomi).

Setelah dijeda dengan liburan ke Bromo dan Sempu bersama teman-teman kantor sekaligus untuk menjernihkan pikiran, hari Sabtu, 11 Januari 2014, dijadwalkanlah operasi pengangkatan benjolan saya. Saya tidak mau menunda terlalu lama mengingat dokter Walta pernah menginfokan bahwa kalau memang ada sel kanker dalam 2 kista tersebut, sel kanker akan tumbuh dan berpindah stage dalam waktu 20 – 100 hari, dan masalahnya kita tidak tahu sel tersebut sedang berada pada hari pertumbuhan ke berapa.

Operasi pun berlangsung. Saat saya masih terbaring di meja operasi, dokter menunjukkan benjolan hasil operasi kepada Ayah dan teman dekat saya (yang saat ini menjadi suami saya), bentuknya seperti baso urat yang ditengahnya ada semacam lemak beku berwarna putih. Seselesai menganalisa benjolan di laboratorium, dokter kembali menghampiri ayah dan suami saya dengan membawa kabar gembira. Operasi tidak perlu diteruskan karena tidak ada pertumbuhan sel yang mengkhawatirkan didalam benjolan tersebut. Alhamdulillah ya Allah.

Sesaat setelah saya sadar dari obat bius, ayah dan suami saya menyampaikan kabar tersebut, Ah, bahagia sekali. Terutama ketika mendapati saya melewati masa-masa ini bersama yang tersayang. Tidak henti-hentinya syukur saya ucapkan. Setidaknya untuk saat ini saya bisa lega. Saya bisa belajar bahwa Allah bisa dengan mudah menakdirkan penyakit berada pada tubuh kita lalu sedetik kemudian menyembuhkannya tanpa sisa. Jangan pernah berhenti untuk memohon perlindungan dariNya. IA yang Maha Kuasa atas segala keadaan.

Masa-masa ini menjadi satu episode hidup yang tidak akan pernah bisa saya lupa. Saya tidak menampik bahwa saya amat panik dan ketakutan menghadapinya, tapi bagi saya menghadapi kenyataan meskipun pahit tetap lebih baik daripada memilih untuk tidak menghadapinya dan bersikap seolah semua baik-baik saja. Sedih memang, takut apalagi, tapi masalah kan tidak akan selesai kalau tidak dihadapi.

Jadi, ujian hidup itu pasti akan menghampiri kehidupan kita, dalam berbagai bentuk, entah itu penyakit, kehilangan, kekalahan, atau pun keberlimpahan, yang pasti jangan pernah pergi menjauh. Face it, and deal with it. Toh tidak akan diluar kemampuan kita kok. Percaya deh, pasti akan kita lalui meski seberat apapun ujian tersebut. Mungkin teman-teman juga bisa belajar dari cerita dua teman saya sebelumnya, yang memilih untuk menantang maut dan menghadapinya dengan penuh keceriaan. Malah jadi menginspirasi banyak orang.

Yuk ah, semangat, hidup ini kan diciptakan untuk dijalani dan diambil pelajaran sepanjang perjalanannya, yasudah lakukan saja sesuai dengan fitrahnya. Semangat terus ya teman-teman! Kalau kitanya semangat, penyakit juga takut lama-lama berkubang dalam tubuh kita.

Cheers!
Jakarta, 010915, 16.23

Tentang Merantau


suitcase-traveler

Dua minggu yang lalu salah satu adik kecil saya mengikuti jejak kakak-kakaknya (lagi) keluar dari rumah, merantau demi pendidikan.

Saya dan keluarga adalah keluarga yang mendadak harus pindah domisili karena kemerdekaan Timor-Timur yang tak banyak memberi pilihan selain berpindah paksa (karena masih ingin menjadi WNI) ketika semua titik stabilitas kehidupan mulai dicapai. Kembali ke Kampung Halaman tanpa cerita kesuksesan yang sebelumnya pernah terdengar diantara sanak keluarga di Lampung, sungguh bukan hal yang ringan. Singkat cerita, demi mencapai stabilitas sebelumnya, orangtua mau tidak mau harus meneruskan kembali karir yang sempat terhambat menuju pelosok Lampung. Pelosok yang saya maksud disini benar-benar pelosok, yang mau tidak mau harus ditempuh melalui berjam-jam transportasi jalur darat.

Timor-Timur, Dili lebih tepatnya, memang kota kecil yang mungkin terbilang ketinggalan soal perkembangan gadget terkini atau fashion modern. Ketertinggalannya diperparah karena pada zamannya (tahun 90an) internet belum tersedia secanggih hari ini yang sangat mungkin meminimalisir kesenjangan perkembangan dunia. Namun, bicara soal pendidikan, Timor-Timur tidak kalah bersaing. Saya dan teman-teman sebaya diajar oleh guru-guru professional yang mampu menjadikan kami cukup berkualitas hingga mampu dipersaingkan dengan siswa-siswi kota besar. Semangat berpendidikan yang baik ini terus tumbuh dan terbawa hingga disaat saya dan keluarga menetap menjadi warga salah satu pelosok Lampung.

Hingga pada saat saya harus meneruskan pendidikan yang sempat saya khawatirkan teramat sangat, sampailah saya pada keputusan memberanikan diri merantau di usia yang relative sangat muda. Didikan orang tua yang menanamkan nyali yang cukup besar menjadi modal untuk kami berani hidup sendiri dirantau pun untuk mereka (red-orang tua) berani meninggalkan anak-anaknya hidup sendiri dirantau. Sejak saya usia 11 tahun (SMP kelas 1) dan adik usia 9 tahun (SD kelas 4), kami telah hidup sendiri diluar sana demi menempuh pendidikan yang lebih baik. Sejak saat itu hingga kini, saya tidak pernah lagi menjadi penghuni rumah.

Ketika dua minggu lalu si adik kecil Tiara harus keluar rumah untuk alasan pendidikan, saya dan adik-adik yang lain serta orang tua sempat khawatir, mampukah si kecil Tiara bertahan sendiri disana? Kekhawatiran kami membawa kami larut pada cerita masa lalu, ternyata begini rasanya melepas si adik kecil, sedih dan khawatir. Padahal setelah ditelusuri kembali, umur kami dulu persis umur adik kecil kami saat ini. Ibu yang entah sudah kesekian kalinya membantu kami berbenah perkakas yang akan dibawa merantau pun tetap saja lagi-lagi pecah dalam tangis. Ibu bilang airmatanya bukan airmata kesedihan, ibu hanya terharu, satu lagi anak ibu akan tumbuh besar dan beranjak dari rumah. Ibu sangat sadar bahwa hari dimana kami keluar dari rumah adalah hari dimana anak-anaknya tidak akan pernah lagi kembali kerumah. Yang kami artikan sebagai kesuksesan dirantau. Ibu justru tidak menginginkan kami kembali jika itu artinya kami bermasalah diluar sana.

Ibu berkata “Dulu kakak dan adek (anak nomor 2) juga ibu lepas sekecil kakak Tiara saat ini, dan sampai detik ini kakak dan adek tidak pernah kembali kerumah bahkan sekarang sudah menjadi milik orang lain, sudah punya keluarganya sendiri.”. Kami ikut terharu. Percakapan semacam ini yang selalu menjadi motivasi untuk saya dan adik-adik tidak lupa bahwa keluarnya kami dari rumah dengan tujuan untuk tidak lain dari menambah kebanggaan orang tua. Semoga sejauh ini kami sudah berhasil menambah kebanggaan mereka dan mungkin juga dengan sedikit menaikkan derajat keluarga.

Saya jadi ingat, lebaran tahun ini adalah lebaran pertama kami tidak lengkap berkumpul dirumah. Saya dan dua adik perempuan saya telah menikah, dan kami untuk pertama kalinya merayakan lebaran dengan keluarga mertua. Biasanya, lebaran dan tahun baru jadi momen khusus buat kami yang telah dikoordinasikan dari jauh-jauh hari untuk berkumpul dan berdiskusi tentang kegiatan apa yang akan kami lakukan. Beberapa hari menjelang Lebaran kemarin, tercium sedikit aroma kesedihan ibu yang biasanya sedang sibuk-sibuknya menanti anaknya pulang satu persatu dari rantau.
Ah, begitulah hidup, ada saatnya bersama adakalanya juga berpisah. Hanya saja kita harus memastikan bahwa berpisah jaraknya kita untuk tujuan yang lebih baik. Kelak, ketika saya diamanahkan anak dan telah sampai pada umur yang cukup, saya pun tidak akan segan melepasnya kedunia luar untuk tujuan yang baik.

“Not all those who wander are lost.” – J. R. R. Tolkien
Jakarta, 200815

Bahasa Cinta


image

“A, aku izin pulang malam ya, ada janji dengan teman kantor”, malam sebelumnya aku meminta restumu untuk keluar rumah. Kau hanya mengiyakan. Esok pun datang dan sore pun menjelang. Tepat sekitar jam pulang kantor tiba-tiba datang pesan singkatmu “Pulangnya hati-hati ya”. Dan langkah ringanku yang telah mengantongi izin darimu mendadak menjadi berat, rasanya ingin aku segera berlari pulang dan memelukmu barang sedetik hanya untuk berkata “Terima kasih ya.” Kekhawatiranmu sudah cukup jadi bekalku sore ini.

Aku tau kau peduli…

Sore di penghujung tahun, tak lepas dari rintik hujan yang tak jarang berubah bergemuruh dan turun tiada henti menyapa penghuni bumi. Wah, lagi-lagi lupa membawa payung. Kebiasaan lama yang tak juga berubah. Padahal sedari pagi sudah kau ingatkan untuk tidak lupa membawa payung dimusim penghujan yang sedang deras-derasnya. “Tutup kepalanya, tunggu hujan reda dulu,” katamu. Kau benar-benar tau kalau aku tak peduli akan hujan, kakiku tetap akan melangkah ke tujuanku selanjutnya dengan berbagai cara. Lekas kutersadar, kau benar-benar mengenalku dengan baik tanpa harus kau jelaskan tiap hari seperti apa pribadiku.

Aku tau aku kau sayangi…

Aku marah. Marah sekali dengan gerakanmu yang lambat dan kelewat santai. Aku tidak biasa dengan ritme selambat itu. Aku pun bermuka masam padamu. Lalu, beberapa hari kemudian kita bicara. Membuka komunikasi yang sempat tersumbat karena kemarahanku melalui aksi diamku. Kau membukanya dengan menanyaiku lebih dulu tentang apa yang aku inginkan, tentang alasan kenapa harus terburu-buru jika perlahan pun rencana yang akan kita lakukan terselesaikan juga. Dan, aku, tak bisa berkata banyak, emosiku menguap begitu saja. Terkesima dengan ketenanganmu mendamaikan kita. Aku pun kembali berucap syukur pada Yang Kuasa, bukankah perilakumu itu anugrah cinta untukku? Tak pernah diliputi emosi, dan tak sekalipun bernada lebih tinggi dari nada bicaramu sehari-hari.

Aku tau kau yang aku ingini…

“Aku cinta kamu”, kataku suatu waktu, dan kau hanya terdiam sibuk menikmati anugrah cinta untukmu sendiri. Kadang jika aku sedang beruntung, kudapatkan balasan kecup di dahi yang cukup untuk membahasakan cintamu yang sulit kau verbalkan. Aku yang cepat merasa puas, lagi-lagi hanya bisa diam tiap kali kecup atau peluk mendarat seketika. Apa masih belum cukup jelas isyarat cinta darimu?

Ah, aku tau aku engkau cintai…

Walau pada awalnya sulit kuterjemahkan tapi akhirnya aku mengerti juga bahwa semua perlakuanmu padaku adalah Bahasa cintamu, yang tak mampu kau transformasi menjadi kata. Ternyata bahasamu bahkan jauh lebih indah dari ekspresi cintaku. Seindah puisi yang meminta sebaris kata yang tak serupa untuk terangkai menjelma indah penuh makna.
Aku benar-benar meyakini, kau telah memilihku dengan sepenuh hati.

Dari separuh jiwamu yang tak tau bagaimana cara berhenti mencintai.
Bogor, 090715

Tentang Memperbaiki Orang Lain


fixpeople
sumber

Berteman itu seni, karena tidak ada standar yang bisa kita pakai disegala kondisi selain untuk saling membaikkan satu sama lain. Pertemanan adalah bagian dari interaksi antar manusia yang tumbuh dengan berbagai cara di beragam tempat hidup dan keluar menjadi pribadi matang melalui berbagai pengalaman yang tak serupa. Bagi saya, pertemanan itu harus didasari selain dari kenyamanan hubungan juga atas dasar tujuan perbaikan. Siapa sie yang mau merugi dengan berteman dan tidak membuat dirinya jadi lebih baik dari kemarin? Saya sie ogah, tentu saya akan memilih teman yang berani mengambil berbagai resiko untuk saling memperbaiki.

Kenapa saya bilang resiko? Karena memperbaiki orang lain itu butuh keberanian dan kemauan untuk menghadapi kemungkinan penolakan sampai berujung putusnya hubungan pertemanan. Contohnya pengalaman pribadi saya, memperbaiki dan diperbaiki oleh orang lain. Saya pernah memilih untuk berdiam diri (tidak berkomunikasi) beberapa waktu setelah dikoreksi oleh teman yang peduli. Sikap diam saya sebenarnya mengandung beberapa arti : bisa jadi penolakan karena merasa apa yang dikoreksi tidak perlu atau bahkan salah, atau marah karena apa yang disampaikan adalah benar adanya. Pun pernah saya didiamkan oleh teman yang saya koreksi dengan alasan yang sama. Jadi, memperbaiki orang lain itu memang penuh resiko, tapi kita bisa memperhitungkan besar resikonya dengan baik melalui pemahaman kita terhadap pribadi teman yang akan kita koreksi.

Seperti saya, yang tiap kali dikoreksi pasti akan menyatakan ketidaksukaan terlebih dahulu, namun selanjutnya setelah emosi mereda, saya pasti akan mencerna kembali apa yang menjadi kekurangan saya, berusaha menerima dan memperbaiki. Nah, karena setiap orang beda-beda, dan karena hubungan antar manusia itu tidak standar jadi dibutuhkan kelihaian untuk menghadapi situasi semacam ini. Bekalnya adalah dengan pengenalan yang baik terhadap pribadi teman sehingga tau caranya menyampaikan koreksi dengan cara yang paling baik sehingga resiko hubungan menjadi rusak pun bisa diminimalisir. Lalu beri mereka waktu untuk berdamai dengan diri sendiri, jangan terus dikejar untuk sesegera mungkin memperbaiki kekurangan diri.

Setelah sudah dapat memahami mekanisme pengoreksian satu sama lain, ada dua hal yang perlu diingat : 1. Jangan terlalu sering melakukannya. Kenapa? Karena akan terasa hambar dan walhasil malah jadi tidak didengarkan, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. 2. Motivasinya harus untuk tetap percaya bahwa mereka melakukan yang terbaik untuk menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya.

Dua hal diatas saling berkaitan karena output penyampaian yang tadinya untuk memperbaiki bisa berubah menjadi menumbuhkan ketakutan akan diri sendiri. Kenapa demikian? Saya pernah pada posisi bolak balik dikoreksi dan akhirnya saya mulai jengah sampai jawaban ‘iya’ dari saya hanya agar obrolan yang tidak mengenakkan tersebut segera selesai. Kemudian karena perlakuan pengoreksian bertubi-tubi itu terus berlangsung bahkan disaat topic pembicaraan awalnya bukan tentang saya tapi selalu berujung pada mengingatkan saya untuk tidak menjadi seperti yang dibicarakan malah perlahan membuat saya sadar bahwa lama kelamaan tumbuh ketakutan pada diri sendiri, seolah saya pun akan end up seperti orang yang sedang kita bicarakan tersebut. Akhirnya saya memilih untuk tidak lagi mendengarkan, bukan karena tidak mau memperbaiki tapi dalam rangka untuk menghindari masukan negative yang terus menerus dikonsumsi. Motivasi baik dari diri sendiri untuk memperbaiki orang lain harus dibarengi dengan komplimen positif akan kualitas baik pada diri orang tersebut, agar mereka tau bahwa kita percaya mereka akan menjadi lebih baik.

Ah, pada dasarnya hubungan antar manusia itu membutuhkan banyak effort untuk sekedar me-maintain. Tidak semua orang mau bersusah payah melakukannya, dan mereka yang bersedia berusaha lebih pasti akan mendapatkan balasan kebaikan. Kita tidak pernah melulu benar dan mereka tidak pernah melulu benar, kita sama-sama pernah salah dan benar, teruslah berusaha untuk menjadi lebih baik dari kemarin.

Bogor, 100715, 02.28

Tentang Pernikahan – Pengorbanan & Keikhlasan


image

Mitsaqan ghaliza. Ikatan yang tidak mudah terputus, itulah penikahan. Disatukan dengan bantuan doa ribuan malaikat yang mampu menggetarkan Arsy Allah, yang putusnya pun meski halal tapi dibenci oleh Allah.
Bukan tanpa alasan mengapa pernikahan sedemikian kuat ikatannya digambarkan melalui firman Allah, karena komitmen sepasang manusia dihadapan Allah tidak mudah perjalanannya. Akan banyak ujian yang rasanya diluar kesanggupan melewatinya dan akan berlimpah ruah pula reward pahala yang menyertai perjalanannya.

Banyak formula yang diperkenalkan berbagai orang bijak dengan segala asam garam dalam mengarungi kehidupan pernikahan, namun pada akhirnya formula terbaik ada pada kedua individu yang terikat dalam pernikahan. Yang bagi pasangan lain dirasa bukan solusi terbaik namun bagi pasangan lainnya menjadi jalan keluar terbaik. Tidak sedikit nasihat bijak tentang pernikahan saya peroleh dari sekitar ataupun saya temukan sendiri melalui telusuran bacaan dan tontonan dari berbagai sumber, salah satunya adalah yang saya peroleh dari Mitch Albom, penulis kesukaan saya, yang saya rasa cukup relevan untuk diterapkan dalam kehidupan pernikahan.

Aviate. Navigate. Communicate.

3 kunci penting yang jadi modal dasar untuk belajar terbang dalam hal ini untuk menjalani kehidupan pernikahan.

Aviate. Ketika terjadi masalah, yang pertama kali harus dilakukan adalah to keep flying. Masalah apapun yang menimpa kehidupan pernikahan mengharuskan kita untuk tetap meneruskan perjalanannya. Tidak lantas pergi dan berharap semua akan berubah menjadi baik-baik saja setelah kembali. Bagi saya, sesulit apapun masalah, memilih untuk menghadapinya akan selalu menjadi awalan yang baik. Lari dari masalah hanya akan memperburuk keadaan, seperti genangan air bersih yang dibiarkan terus menerus menggenang, akan bau dan berubah menjadi air kotor yang menjadi sumber penyakit.

Navigate. To figure out where to go. Setelah mampu bertahan untuk tetap menghadapi apapun masalah yang sedang terjadi, kemudian cari tau akan dibawa kemana selanjutnya, bertahan atau menyerah. Pada akhirnya, solusi berpusat pada kebahagiaan bersama, harus win win, tidak memberatkan dan harus penuh dengan keikhlasan menjalaninya.

Communicate. Tell the ground what’s going on. Setelah tau akan dibawa kemana, komunikasikanlah dengan baik kepada pasangan. Dengan kepala yang dingin dan tanpa muatan apa-apa selain tujuan kebaikan. Mulailah dengan niat untuk mencari penyelesaian, untuk saling mengoreksi agar sama-sama menjadi lebih baik. Bukan untuk mencari yang salah. Bukan untuk menjadi pemenang.

Saya rasa, 3 hal diatas cukup untuk menjadi satu dari sekian banyak bekal untuk mengarung pernikahan. Lalu, setelah melalui tiga tahapan tersebut, sampailah pada solusi either untuk bertahan atau untuk berpisah demi kebaikan bersama. Biasanya, ketika pasangan memutuskan untuk terus bertahan, akan ada konsekuensi untuk saling berkorban, mengorbankan egoisme masing-masing sebagai individu yang bebas. Kadar pengorbanannya pun seringnya tidak seimbang, tak jarang satu pihak berkorban lebih banyak dari lainnya just to make this marriage works well, works better.

Pengorbanan. Apa sie pengorbanan itu? Seperti kisah Nabi Ibrahim yang diminta mengorbankan Nabi Ismail, anaknya, untuk disembelih atas dasar pembuktian cinta dan kepercaaannya pada Allah. Pengorbanan adalah memberikan sesuatu berharga yang kita miliki kepada orang lain. Pengorbanan memberikan kesan berat dan merugikan bagi orang yang berkorban, tidakkah lebih baik jika perngorbanan diiringi dengan keikhlasan dalam melakukan proses pemberian sesuatu berharga yang kita miliki? Pengorbanan dengan penuh keikhlasan inilah yang menurut saya sangat dibutuhkan dalam pernikahan. Akan banyak situasi yang akan ditemui sepanjang perjalanan pernikahan yang meminta kita atau salah satu dari pasangan untuk berkorban. Tidakkah lebih melegakan jika pengorbanan disertai dengan keikhlasan? Karena pada akhirnya pengorbanan yang kita berikan bertujuan untuk tujuan bersama, lagi-lagi, to make it works, the marriage.

Ah, siapa sie saya sok tau bicara ini itu soal pernikahan padahal baru saja kemarin sore menikah, masih seumur jagung yang baru ditanam, masih juga jauh dari bentuk pohon jagung. As usual, ini hanya sedikit usaha saya untuk mengingatkan diri saya di masa datang yang sangat mungkin kembali lagi dan lagi terlupa akan pelajaran hari ini.

Bogor, 050715, 18.37

Tentang Ujian


dont-leave
Makhluk hidup manapun pasti pernah mengalami ujian dalam hidupnya. Bahkan manusia yang dijaga sepanjang hidupnya dan telah dijanjikan surga pun mendapat bagian ujian yang tetap harus dilewatinya. Datangnya bisa kapan saja, dan dalam bentuk apa saja. Tujuannya sebenarnya cuma satu, untuk kembali diajak beribadah pada sang Maha Pencipta. Bahwa sehebat apapun kita, kita tetaplah ciptaannya yang pada suatu masa mau tidak mau akan kembali mencariNya dan berpasrah agar ujian yang datang dariNya kembali diangkat olehNya.

Bergantung pada macam ujiannya, cara menghadapinya pun beragam. Sebatas mensolusikan ujian dengan logika standar manusia berpikir menggunakan akal yang penuh dengan keterbatasan, sampai dengan menggunakan usaha tak logis semacam bersedekah dan berdoa –biasa kita sebut usaha langit—untuk keluar dengan sukses dari ujian kehidupan.
Beberapa waktu lalu saya terlibat pembicaraan dengan sepasang om dan tante yang telah puas mengecap asam garam kehidupan. Sampailah kami pada pembicaraan mengenai ujian hidup. Mereka berbagi banyak hal, betapa sulitnya masa-masa awal berjuang sebelum keadaan menjadi senyaman hari ini. Mereka berkata, banyak ujian bisa disolusikan dengan cara-cara duniawi, namun ketika cara duniawi tidak juga mempan menjadi solusi coba dengan cara-cara langit. Om dan tante saya ini ternyata pernah mengalami ujian yang benar-benar tidak tersolusikan juga, sampai akhirnya mereka berupaya dengan cara yang tidak masuk akal, salah satunya adalah bersedekah. Kalau dipikir-pikir sedekah dan selesainya ujian tidak ada hubungan langsung, tapi terbukti bisa membantu kita melewati ujian. Om dan tante lanjut bercerita bahwa ketika mereka bersedekah dulu, mereka benar-benar meniatkannya untuk menyelesaikan masalah, entah itu untuk melepaskan diri dari lilitan hutang atau untuk kesembuhan penyakit yang tak kunjung terobati atau bahkan hanya untuk mendapatkan ketenangan diri. Cara langit ini benar-benar bisa bekerja dengan baik. Kalau diibaratkan dialog dengan Tuhan, mungkin Tuhan semacam memberi reward atas kesungguh-sungguhan kita melakukan amalan dijalan kebaikan dengan membantu sesame melalui infak, sedekah, dan lainnya. Lantas Tuhan bisa jadi memutuskan untuk membantu meringankan ujian atau memberi bantuan-bantuan tak kasat mata yang bisa membuat kita mampu melewati ujian.
Well, saya tidak bermaksud menempatkan Tuhan seolah-olah pamrih dan hitung-hitungan atau bahkan menjadi sosok yang keji yang senang melihat hambanya berada dalam kesulitan. Hanya saja itu semacam siklus dunia yang harus kita lewati untuk melaksanakan tujuan dilahirkannya kita ke dunia, untuk belajar mengenal dan beribadah kepadaNya.

Selanjutnya om dan tante saya tersebut kembali berbagi wejangan tentang cara lain melewati ujian, yaitu dengan memohon maaf. Kenapa memohon maaf? Karena ada ujian yang hadir karena terkabulnya doa mereka-mereka yang tersakiti hatinya oleh kita, hingga tanpa sadar membuat kita memperoleh ujian dalam tujuan membersihkan diri. Om dan tante berkata bahwa ketika mendapat ujian, coba meminta maaf terlebih dahulu kepada orangtua kita, pasangan (suami/istri), anak-anak kita, kerabat keluarga lainnya, teman dan orang-orang disekitar kita, mana tau tanpa sadar kita pernah melukai hati mereka. Ah, saya rasanya seperti disiram air dingin. Bukan tidak mungkin kesalahan tersebut pernah saya lakukan, menyakiti hati orang tua, pasangan, teman, dan lainnya yang mampu mendatangkan ujian kepada diri. Hanya karena mereka “our person” (orang-orang kita), tidak berarti kita bisa semena-mena berperilaku tanpa mengindahkan perasaan dan kenyamanan mereka, apalagi orang tua yang telah hadir dalam kehidupan kita sejak pertama kali melihat dunia. Ah, ibu, ayah, rasanya saya banyak sekali berlaku salah pada kalian. Apalagi setelah menikah, dimana kita mendapat tambahan orangtua dan keluarga baru, rasa-rasanya semakin banyak hati yang harus kita jaga dan mungkin telah tersakiti oleh ucapan dan perilaku kita.

Saya jadi ingat, bagi seorang suami prioritas pertama mereka adalah ibu baru kemudian istri, sebaliknya bagi istri, ketaatan paling pertama adalah kepada suami baru kemudian ibu. Sebenarnya disini ada celah bagi laki-laki untuk terperosok pada jebakan perilaku taat, hanya karena ketaatan seorang istri ada pada suaminya terlebih dahulu baru orangtuanya seharusnya tidak lantas membuat para suami lupa untuk mengindahkan orangtua istri. Karena saya sangat percaya, kedua orang tua sama besar pengaruhnya terhadap keberkahan keluarga anak-anak mereka, jadi tak peduli betapa banyak perbedaan dalam memandang kehidupan, menjalaninya, dan memberikan respon terhadap hidup, tetap saja kedua orang tua mesti diperlakukan dengan penuh pernghormatan dan penghargaan juga cinta. Sedikit saja hati mereka terluka, mampu menjadi penyebab kerusakan rumah tangga. Tidaklah aneh, karena orang tua adalah kepanjangan tangan dari Tuhan, yang sedikit doanya mampu membuat beribu malaikat mengamini dan mewujud menjadi kenyataan dalam sekejap.

Ah, betapa pembicaraan soal ujian dengan om dan tante saya ini begitu sarat dengan pengingatan diri. Sungguh menjadi nasehat yang benar-benar sedang dibutuhkan. Jangan pernah lupa, dunia ini hanya ciptaanNya, ketika kita mentok kembalilah kepada pencipta dunia.

Jakarta, 120615, 03.42

Tentang Rasa Takut


uppsala-sweden-psychology-study-erasing-fear
“Fear is how you lose your life, a little bit at a time. What we give to fear, we take away from faith.”
Mitch Albom, The First Phone Call from Heaven

Belakangan ini saya sedang berusaha menyelesaikan membaca buku karangan penulis favorit saya yang tidak pernah berhenti memesona saya dengan ide sederhana dan sangat mendasar di setiap tulisannya. Kali ini Mitch bercerita tentang telepon dari surga yang membuat heboh penduduk ColdWater. Bukunya memang belum selesai saya baca dan saya tidak bermaksud untuk membuat review buku tersebut, saya hanya tergelitik ingin membahas quote diatas.
Rasa takut akan membuat kita kehilangan hidup perlahan-lahan, ketika kita mulai merasakan rasa takut, keyakinan kita terhadap akan terjadinya hal baik pun perlahan akan ikut memudar.

Presiden Franklin Roosevelt pernah berkata bahwa satu-satunya hal yang perlu kita takuti adalah rasa takut itu sendiri. Dan saya sangat setuju dengan beliau. Rasa takut benar-benar akan mengikis keyakinan kita terhadap sesuatu. Sontak saya terbayang semua rasa takut yang pernah dan masih menghampiri hidup saya hingga saat ini, seperti : ketakutan akan kematian, ketakutan akan ditinggalkan, ketakutan akan pengalaman orang lain yang mungkin akan terjadi pula pada kita, ketakutan akan dilupakan, ketakutan akan kehilangan kesempurnaan nikmat hidup, ketakutan akan ancaman terhadap kenyamanan dan keamanan, dan seterusnya. Rasa-rasanya setiap hari ada saja ketakutan yang menghampiri. Lantas, sebenarnya apa sie rasa takut itu?

Menurut sumber yang saya baca (the Pshychology of Fear dan Psychology today), rasa takut adalah salah satu emosi dasar manusia yang muncul dari kecemasan kita terhadap imajinasi/pengalaman kita akan sesuau hal buruk yang mungkin akan terjadi pada kita. Pada dasarnya, rasa takut adalah reaksi biologis standar yang dihasilkan sebagai respon dari informasi yang masuk, sama seperti emosi dasar manusia lainnya. Penerimaan informasi ini membawa pengetahuan dan pemahaman terhadap satu kondisi yang selanjutnya kita kategorikan sebagai ancaman yang menimbulkan rasa takut.

Setidaknya ada 5 sumber datangnya rasa takut (psychology today):
1. Fear of Extinction
Rasa takut akan kepunahan/kehilangan eksistensi. Ketakutan akan kematian termasuk dalam kategori ini. Rasa takut ini biasanya ditimbulkan dari kejadian yang mengakibatkan kita mencemaskan akan menghilangnya kita untuk selamanya. Contohnya seperti ketakutan yang ditimbulkan ketika kita berada di gedung tinggi, kekhawatiran akan jatuh dan kemudian mengantarkan kita pada kematian, juga bisa ketakutan kita akan terjadinya kecelakaan yang bisa menyebabkan kematian. Bisa jadi ketakutan akan kehilangan diri sendiri karena sibuk menyesuaikan diri dengan standar orang lain termasuk dalam kategori ini, ketakutan akan kehilangan eksistensi diri. What do you think?

2. Fear of Mutilation
Selanjutnya adalah rasa takut akan kehilangan anggota tubuh, yang biasanya menyerang tubuh hingga menyebabkan hilangnya fungsi alaminya. Biasanya ketakutan ini disebabkan oleh ketakutan akan serangan hewan seperti ular, serangga, buaya, singa, dan lainnya.

3. Fear of Loss of Autonomy
Rasa takut akan ketidakmampuan bergerak, menjadi lumpuh, terjebak, terpenjara, atau apapun yang diluar kendali kita. Contohnya seperti claustrophobia atau ketakutan akan tempat sempit, ketakutan akan kelumpuhan, dan menurut saya ketakutan akan degradasi kemampuan motorik anggota tubuh juga demensia akibat penuaan termasuk dalam kategori ini. Sadarkah teman-teman, ketakutan kategori ini pasti akan menghampiri kita, karena menjadi tua adalah suatu keniscayaan, kecuali kalau umur kita tidak sampai usia lanjut atau mungkin kita punya kelainan seperti Benjamin Button. 😛
Selain itu, ketakutan akan komitmen bisa masuk dalam kategori ini, ketakutan akan ketidakmampuan untuk bergerak sebebas ketika masih sendiri dan belum terikat. Dan saya pernah sekali mengalami hal ini. But at the end, I defeated it.

4. Fear of Separation
Nah, rasa takut ini adalah ketakutan akan dilupakan, diabaikan, tidak dipedulikan, ditolak, dan kehilangan keterikatan. Menjadi seseorang yang bukan siapa-siapa, tidak diinginkan, dan tidak berharga bagi orang lain. Biasanya menghasilkan semacam perlakuan pendiaman (silence treatment) yang berakibat pada efek psikologi yang teramat buruk. Ketakutan akan penolakan pada dasarnya menjadi celah munculnya silence treatment. Btw, perlakuan diam ini sering juga sie saya lakukan ketika saya sudah teramat marah sampai tidak lagi bisa diwakilkan dengan kata-kata. Pada intinya, pendiaman yang dilakukan bertujuan untuk kembali mendapatkan perhatian sekaligus sebagai gertakan terhadap kemungkinan ketiadaan kita dalam hidup seseorang yang kita maksudkan. Akan tetapi, pada akhirnya saya menyerah dan selalu kembali memilih untuk memecah keheningan dan kembali menyelamatkan hubungan. Harga diri tidak lagi jadi harga yang sepadan dibandingkan penyelamatan hubungan antar manusia, itu menurut standar saya lho ya. Oia, cemburu masuk dalam kategori ini lho.

5. Fear of Ego-death
Rasa takut akan penghinaan, rasa malu, atau mekanisme lainnya yang berkaitan dengan penerimaan diri dan mengancam hilangnya integritas terhadap diri, rasa takut akan pudarnya kepercayaan yang dibentuk dari rasa cinta, kemampuan, juga kelayakan diri. Contohnya seperti ketakutan berbicara didepan public, ketakutan akan konsekuensi penerimaan yang jauh dari ekspektasi. Erat hubungannya dengan ketakutan akan kegagalan. Keinginan diri untuk selalu menjadi layak di mata orang lain membuat diri terus menuntut kesempurnaan, penerimaan terhadap kegagalan pun menjadi hal yang sulit dihadapi.

Nah, dari penjelasan diatas kita mulai bisa mengidentifikasi berbagai rasa takut dan penyebabnya. Bisa berasal dari satu sumber, bisa juga berasal dari beberapa sumber. Muncul pertanyaan baru, apakah rasa takut semenakutkan itu sehingga harus benar-benar dihindari dan sama sekali tidak boleh dimiliki? Lalu, untuk apa diciptakan rasa takut? Bukankah Tuhan tidak menciptakan sesuatu tanpa tujuan? Saya pribadi meyakini bahwa rasa takut itu perlu dimiliki, hanya saja dalam tujuan perbaikan diri, tidak untuk membuat diri menjadi terpuruk.

Sebut saja rasa takut akan dosa, rasa takut akan api neraka, rasa takut akan ketidaktaatan kita pada Tuhan, rasa takut ini adalah rasa takut yang teramat perlu dimiliki, sehingga bisa membantu kita mencipta batasan-batasan diri agar tidak keluar jalur. Seperti kata Agnes Monica dalam satu kesempatan ketika saya sempat menonton shownya, Agnes Mo berkata “Saya selalu nervous tiap kali akan tampil didepan umum, selalu deg-degan khawatir tidak bisa memuaskan penonton dengan memberikan yang terbaik yang saya bisa. Dan sampai saat ini, rasa deg-degan dan nervous yang saya alami itu tetap saya jaga, karena bagi saya hal tersebut menjadi pemicu untuk selalu menampilkan yang terbaik.” Kurang lebih inti perkataannya adalah tentang perlunya memiliki rasa takut, jika motivasinya untuk terus memberikan yang terbaik, tentu dengan toleransi terhadap penerimaan hasil apapun yang akan dihadapi nantinya. Sama seperti rasa takut kehilangan pasangan (suami/istri) setelah menikah, tidak dalam porsi yang berlebihan ya, tapi cukup untuk menjadi motivasi bagi kita sebagai pasangan untuk terus memberikan yang terbaik dan untuk tetap bertahan dalam ikatan pernikahan.

Kalau boleh bicara jujur, saya sebenarnya masih sering terjebak pada rasa takut yang berlebihan, dan saya sadar sekali bahwa rasa takut yang berlebihan itu bisa membawa kita pada pemikiran irrasional. Kadang akal sehat menjadi tak lagi sehat. Untuk itu, seperti nasihat dari zaman Nabi dulu, tetaplah menjaga segala sesuatu sesuai porsinya, apapun yang berlebihan pasti tidak berbuah baik.

Apalah apalah yang saya tulis ini, semoga ada manfaatnya ya buat teman-teman.
#NulisRandom2015 #NulisBuku Day 1
Jakarta, 040615 – 090615, 02.07

Tentang Menyerah


image

Bukan tidak pernah aku berpikir untuk menyerah
Hanya saja terlalu tidak mau merugi
Terlalu tidak mau menyesal dikemudian hari
Lagi dan lagi, aku memilih untuk terus berusaha
Untuk terus berjalan sambil memegang erat genggamanmu yang kadang meregang dan mengapit jemariku hanya sekedarnya saja

Tentang menyerah..
Bukan tidak pernah terlintas, kemarin pun saat ini
Ada saja hal-hal yang tak jarang membawaku tiba diujung sabar
Hanya saja, aku terlalu takut tidak mendapati kesempatan sebaik ini lagi di masa datang..

Lagi pula, memilih mencintaimu sebenarnya adalah hal yang sangat mudah
Adalah sesuatu yang telah lama kukumpulkan beribu alasan untuk sesering mungkin kubaca kembali
Adalah memori yang tidak pernah akan kuhapus dengan mudah, malah kuingat lamat-lamat tiap rincinya

Lagi pula, mencintaimu adalah soal konsistensi
Dimana aku tak ingin kalah mempertahankan ikatannya
Karena aku terlalu ingin membuktikan diri pada Tuhan bahwa IA amat bisa mengandalkanku
Iya, mencintaimu..
Dengan cara yang sederhana
Tapi tidak dengan usaha seada-adanya.

Jadi, sekali lagi aku sampaikan
Menungguku untuk menyerah adalah hal yang sia-sia
Dan kau tau?
Tuhan ada dipihakku..

Mencintaimu, terlalu istimewa untuk tidak aku jalani dengan sungguh-sungguh
Dan rasanya, aku tak perlu menanyakan seberapa besar usahamu
Karna kata mereka, usaha tidak pernah mengkhianati hasil
Meski sesederhana caraku mencintaimu..

Bogor, 120515, 05.50

Thanks for Making Up Your Mind


image

Gini nih, sekali nulis langsung pengen lagi dan lagi.

Kali ini saya mau bercerita soal rutinitas pagi dan sore hari saya berkereta. Oh man.. At first it was reaally hard to survive but gradually I found my own method to stay alive until I reach my destination. Hahaa..

Saya sudah pernah merasakan naik kereta di gerbong wanita yg sadisnya minta ampun, sampai akhirnya saya memutuskan untuk bertahan di gerbong campur meskipun penuh sesak. Banyak alasannya, tapi nanti saja saya jelaskan, karena bukan itu yang mau saya ceritakan.

Hampir setiap kali naik kereta saya menemukan banyak penumpang yg jauh lebih muda dan sehat yang enggan memberikan tempat duduknya kepada yang lebih membutuhkan (lansia, ibu hamil, ibu mmbw anak, penumpang brkebutuhan khusus) entah karena memang sudah terlelap tidur hingga tidak lagi menyadari situasi disekitar maupun yang pura-pura tidur berharap agar tidak dilirik untuk sekedar menggeser posisi sedikit atau sampai harus berdiri. Saya sebenarnya sangat mengerti bahwa mereka-mereka ini sudah berusaha lebih untuk berangkat lebih pagi demi mendapatkan kenyamaan duduk saat berkereta. Tidak heran saat beberapa waktu lalu ada kasus yang heboh di media sosial soal seorang wanita muda yang enggan berbagi dengan ibu hamil dan malah menyalahkan ibu hamil tersebut karena tidak berusaha lebih. She’s being reasonable, hanya saja mungkin sedikit kurang empati dalam mengandaikan bagaimana jika suatu hari nanti kita jadi mereka (red-ibu hamil).

So, what I’m about to tell you adalah ucapan terima kasih kepada mereka (orang-orang muda) yang pada awalnya sebenarnya sangaatt enggan memberikan kenyamanan duduknya kepada orang lain yang datang belakangan. Tidak sedikit saya menemukan situasi (karena sering juga terjadi pada saya) dimana mereka pada awalnya membiarkan yang membutuhkan duduk kemudian berpikir untuk beberapa saat lalu beberapa saat kemudian akhirnya memutuskan berdiri. Saya pernah menjadi pemberi dan yang diberi duduk. Dan saya berterima kasih banyak kepada mereka karena menyempatkan berpikir ulang dan pada akhirnya memutuskan untuk membantu orang lain.

Saya pribadi setiap kali merasa harus memberikan tempat duduk saya dengan pamrih kepada Tuhan, agar setidaknya ketika ibu saya/saudara saya lainnya berada dalam situasi serupa, semoga ada yang bersedia berbaik hati berbagi. Saya ingin membayar kembali kebaikan banyak orang kepada saya yang itu bisa jadi buah dari kebaikan orang tua dan saudara-saudara saya lainnya dijauh sana. Saya ingin belajar menabung kebaikan berharap nanti hal tersebut akan kembali kepada saudara dan kerabat.

Ketika saya mendapat tawaran untuk duduk pun tidak jarang saya berpikir, bisa jadi niatan mereka (setelah berdiam diri dan pada akhirnya memutuskan untuk merelakan tempat duduknya) pada awalnya hanya karena tidak enak dengan penumpang yang lain (bukan bermaksud suudzon), bisa jadi mereka pun sebenarnya sedang membutuhkan (misalnya karena sedang sakit pinggang, migrain berat, mual, dll), namun pada akhirnya bisa berakhir dengan melakukan kebaikan. Dan mereka layak mendapatkan reward atasnya. Setidaknya saya akan ikut membantu memintakan kebaikan Tuhan untuk membagi pahalanya kepada mereka, tentu diberikan atau tidak ituy hak prerogatif Tuhan, tapi yang saya tahu Tuhan Maha Pemberi, Maha Kaya, dan Maha Pemurah.

So, thanks a lot people for making up your mind and ending it up with a good action. You’re all a champion of your ownselves.

Jakarta, 300415, 07.26