Tentang Ibuku Tersayang


love mom

Sebenernya sudah sering sosok ibu saya selipkan dalam tulisan-tulisan saya, kali ini saya ingin bercerita sedikit dan lebih khusus tentang ibu saya. Berawal dari telpon-telponan dengan ibu yang mengabarkan bahwa ibu jadi kolumnis opini tetap di surat kabar media ekonomi. Memang surat kabar baru di daerah saya, tapi tetap saja, wow!! Saya salut sama ibu,, ibu yang tidak punya jabatan tertentu, bukan tokoh masyarakat pula, tetapi diminta untuk menjadi kolumnis di surat kabar tersebut. Ibu memang HEBAT!!!

Saya masih ingat cerita-cerita ibu tentang masa mudanya dulu..

“Ibu dulu masuk UNILA (Universitas Lampung) lewat PMDK (=PKAB=PMKA), satu-satunya dari Kabupaten, sampai-sampai ibu terkenal gara-gara itu. Ibu senang sekali bisa masuk UNILA tanpa test saat teman-teman sebaya ibu yang lain bahkan tidak berani untuk melirik UNILA dengan pesaing-pesaing hebat dari SMA-SMA ibukota. Tapi ibu juga sadar, tidak mungkin ibu bisa menyelesaikan kuliah dengan kondisi ekonomi keluarga yang seperti ini, ibu pun harus merelakan cita-cita menjadi sarjana menjadi mencari sarjono. Dapetlah ayah. ”

Jelas ibu sambil berkelakar sesekali..

Iya, ibu sebenernya seorang yang cerdas, tapi nasib tidak membawa ibu menjalani path orang-orang cerdas pada umumnya yang terfasilitasi keinginannya. Mungkin bisa saja dulu mencari beasiswa atau sejenisnya, tapi setau saya beasiswa jaman dulu tidak semudah sekarang mendapatkannya, terlebih lagi beban keluarga dengan 7 orang adik tanpa seorang ibu yang mendampingi lantas menjadikan pendidikan prioritas kesekian untuk ditindaklanjuti. Tak ubahnya air, jika memang fitrahnya menjadi air yang terus mengalir maka meski dihadapkan dengan bendungan pun air akan terus berusaha menelusup celah-celah untuk terus melanjutkan perjalanannya dengan tidak berhenti bergerak dan mengalir. Begitulah ibu, meski mungkin tingkat pendidikannya tidak setara dengan teman-teman yang lain tapi ibu terus berkarya.

Kualitas memang acapkali dinilai dari pendidikan formal tapi pendidikan formal tidak kemudian menjadi hal mutlak yang mengeneralisasi kualitas dan potensi seseorang, hingga akhirnya ibu pun seringkali menulis ke media-media cetak setempat ingga akhirnya menjadi kolumnis tetap, ada yang mengajak ibu berbicara tentang politik, SIAP!! Isu internasional, benazir butho, palestina, filipina, HAYUKKK!! Berita-berita lokal dan nasional, jadi lalapan sehari-hari,,, Ibu tidak pernah tidak menanggapi apa yang sedang dibicarakan orang,, bahkan seringnya ketika mendampingi ayah bersama ibu-ibu pejabat lainnya malah ibu yang paling muncul dan dijadikan tempat bertanya juga problem solver. Yaahhh,, itulah ibu, yang menjadi sosok contoh bagi kami anak-anaknya untuk tidak pernah kalah dengan yang lain, Ekonomi boleh rata-rata, Sekolah boleh swasta, Pakaian boleh murahan, Tapi OTAK harus selalu berisi dan mampu bersaing dengan kebanyakan orang…. Saya benar-benar mendapatkan pelajaran tentang ini. Tapi bukan tiba-tiba begitu saja ibu mampu berbicara ini itu, memang inputnya pun tidak kalah,, ibu tidak pernah melewatkan sehari pun tanpa mengetahui berita terkini,,, Jika saya pergi hari ini meninggalkan rumah dan besok kembali dengan pertanyaan apa yang mau dioleh-olehkan, ibu selalu bilang belikan saja ibu surat kabar.. Sebegitu cintanya ibu dengan membaca.

Ibu sangat suka berbicara bahkan seringkali cerita-cerita (yang kebanyakan menginspirasi saya) yang diceritakan sudah pernah tersampaikan, hahaha…. Tapi saya tidak pernah bosan mendengarnya. Ibu juga mendidik kita selalu PEDE, karna itu saya menjadi seorang yang Pede bahkan malah seringnya KEPEDEAN,, hehehehee… Oia, suatu kali ibu pernah menyampaikan sesuatu yang sempat disembunyikan dari saya (yang biasanya jadi teman bercerita dan mempertimbangkan segala sesuatu yang akan diputuskan (setelah ayah)), “Kak, ibu sudah 4 bulan kuliah lho,.,” Saya kaget!! Sangat kaget mendengar inisiatif ibu untuk kuliah lagi (ekstensi) tepatnya difakultas Hukum. Ckckckckckk,… “ibu kq gak bilang2??” “Abisnya ibu malu, ntar diledekin sama kakak.”

Hahahahaa,,, ibuuuu ibu,, justru kakak bangga sekali… ternyata eh ternyata karna pernah ibu dipertimbangkan untuk menempati posisi pimpinan dalam salah satu partai politik tapi tidak jadi karna melihat riwayat pendidikan ibu yang pendidikan terakhirnya hanya SLTA, ibu sakit hati akhirnya kuliah deh,,, nahhh ini nieh hal lainnya yang dipelajari dari ibu, sakit hati yang bener, yang bisa berimbas positif untuk diri sendiri,, Setelah ditanya lagi, “ibu mau ke Parpol lagi kayak dulu??” ibu menjawab “Nggak ah nak, mendingan ngurus anak dan suami daripada nanti kayak Maria E*va.” Weeewww,,, setujuu,,, ngeri juga sie,, lagian kan kalo dalam buku risalah Hasan Al Banna ada hadits yang menyebutkan bahwa sebaiknya jangan ikut Parpol jika tujuannya bukan untuk Allah dan tegaknya Islam dimuka bumi,, jadi kalo untuk tujuan pribadi insyaAllah lebih banyak Mudharatnya daripada Maslahatnya,, Setelah saya sampaikan informasi tersebut ibu pun semakin yakin untuk meninggalkan dunia perpolitikan dan dengan setia tetap dalam posisi mendampingi ayah dan mengurus anak-anak.

Ahh,, banyak sekali yang bisa diceritakan tentang ibu, tulisan tidak akan pernah cukup sepertinya menggambarkan sosok ibu yang sangat saya sayangi,, sosok ibu Gokil, Lucu dan Penuh Inspirasi,,,, Love you mom coz Allah…

Menjadi tanggung jawab saya untuk bisa lebih hebat lagi dari ibu, jika memang mau dikatakan orang-orang yang beruntung, yang tiap generasinya lebih baik lagi, InsyaAllah,,,

Jatinangor, 080610, 20.53

Advertisements

7 thoughts on “Tentang Ibuku Tersayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s