(Masih) Tentang Kanker Payudara


image

overexposedandunderdeveloped.com

Terima kasih teman-teman yang sudah menyempatkan mampir dan membaca tulisan saya sebelumnya. Tulisan kali ini masih lanjutan pengalaman saya mengenai Kanker Payudara.

Saat pertama kali saya mendengar vonis dokter, saya sempat terdiam lama, mengawang-awang membayangkan akhir hidup yang seolah telah didepan mata. Setelah sejenak terdiam, saya lalu bertanya kepada dokter “Apa yang menyebabkan penyakit ini bersarang ditubuh saya ya dok?”. Saya coba menganalisa, apa yang salah dengan pola hidup saya? Sepertinya masih banyak teman diluar sana yang pola hidupnya lebih tidak karuan dan sehat-sehat saja. Dokter Walta menanggapi “It’s given. Bukan karena kamu telah melakukan pola hidup yang salah, kamu terpilih saja untuk dihinggapi penyakit ini.”. Tentu maksud dokter tidak semena-mena tanpa tendeng aling-aling penyakit itu begitu saja ada di tubuh saya, hanya saja karena penyebab kanker yang selama ini disebutkan amat beragam membuat tidak bisa dipatenkan pola hidup atau jenis makanan seperti apa yang benar-benar menjadi penyebab kanker. Saya rasa jawaban dokter juga bermaksud untuk mempermudah penerimaan pasien terhadap apa yang divoniskan terjadi padanya. Terima saja dengan lapang dada dan penuh keikhlasan agar selanjutnya bisa fokus pada cara mengobatinya dan mencegahnya muncul kembali, begitu mungkin kurang lebih yang dokter maksudkan.

Banyak sekali orang yang merokok tidak terkena kanker paru-paru, dan orang yang rajin berolahraga malah menjadi penderita kanker paru. Banyak orang yang menjauhi makanan berpengawet, ber-MSG malah diserang tumor ganas sedang disisi lain banyak pula yang tiap harinya jajan sembarangan ternyata sehat-sehat saja. Tentu dengan menjaga kesehatan akan mengurangi resiko terserangnya penyakit semacam ini, tapi kalaupun sudah dijaga dan masih pula ditakdirkan penyakit tersebut muncul di tubuh kita yasudah hadapi dan perbaiki. Bisa jadi sebenarnya kalau kita tidak menjaga kesehatan, penyakit semacam ini muncul lebih awal dan lebih kronis, who knows?

Lalu pertanyaan saya berlanjut, “Kalau begitu, apa yang bisa saya lakukan untuk mencegah tumor/kanker ini tumbuh dengan baik ditubuh saya?”. Dokter dengan cepat menjawab “Menikah, dan punya anak.”. Hah? Becanda aja nih si dokter, gumam saya kala itu. Kebetulan pula saat itu saya sedang ditemani (yang sekarang menjadi) suami saya, jadi sekalian ber-kode deh. “Beneran dok?”. Dokter pun menjelaskan bahwa setelah menikah biasanya hormone wanita menjadi lebih stabil, biasanya terlihat dari siklus menstruasi yang menjadi lebih teratur setelah menikah. Hormon kita (khususnya estrogen) (yang jadi makanannya sel kanker) pun jadi lebih stabil. Terlebih ketika punya anak, masa kehamilan 9 bulan membuat hormone estrogen yang sebagian berada di payudara dipinjam semua untuk menguatkan Rahim. Jadi setidaknya selama 9 bulan kehamilan, kita tidak perlu mengkhawatirkan soal sel kanker yang mungkin tumbuh memamah biak dengan baik. Begitu kurang lebih penjelasan dokternya.

Teman kantor di lain waktu pernah pula mengingatkan, berhubung saya sudah positif memiliki benjolan tumor/kanker, saya sangat tidak disarankan menggunakan obat-obat penstabil hormone seperti obat KB (pil/suntik), obat-obatan yang mengandung steroid, dsb. Obat-obatan semacam itu hanya akan menyuburkan tumbuhnya sel yang mudah bermutasi menjadi sel kanker. Sari kedelai pun tidak disarankan dikonsumsi, kabarnya sie juga bisa memicu pertumbuhan sel kanker terutama yang sudah jelas ada riwayatnya seperti tubuh saya. Ah, saya kurang tau benar atau tidaknya, selama masih logis dan diyakini benar berhubungan ya saya hindari saja. Walaupun tidak jarang pula saya langgar sie.

Tidak hanya pelajaran medis yang saya dapati, melalui perjalanan menghadapi penyakit ini saya juga merasa Allah sedang membantu saya untuk memilah-milah calon pendamping. Di saat-saat sulit pada waktu itu, suami saya terus menemani, mendukung saya dengan terus berada disekitar. Tidak kemana-mana. Allah seolah ingin berkata, apa yang kamu butuhkan dari pendamping hidup? Ekonomi yang mapan? Wajah yang tampan? Harta yang berlimpah? Atau yang mau menerimamu apa adanya dan tak pernah pergi meski aral melintang dihadapan? Melalui perjalanan ini saya menjadi semakin yakin, ia amat layak saya pilih menjadi suami. Terima kasih malaikat bumi. Terima kasih teman hidup kesayangan!

Dan hari ini, alhamdulillah saya masih hidup dengan sehat wal’afiat. Tulisan perpisahan yang dulu sempat saya siapkan untuk pembaca blog saya pun urung saya terbitkan. Ucapan perpisahan yang telah jauh-jauh hari saya rangkai, tak jadi saya sampaikan kepada yang terkasih. Namun saya tetap bersyukur, saya sudah pernah dan masih terus berbagi melalui tulisan di blog ini. Setidaknya ketika kelak ajal sampai entah dengan cara apa, teman-teman yang sempat berkenalan dengan saya bisa mengobati rindunya melalui tulisan-tulisan disini (yang semoga ada manfaatnya). Dan untuk teman-teman baru yang mungkin akan singgah di kemudian hari, semoga blog ini bisa menjadi sarana kita untuk berkenalan dan saling mendulang manfaat. Karena memang tujuan saya menulis adalah untuk mengabadikan momen dan pelajaran hidup.

Untuk kalian yang sedang berjuang diluar sana, jangan pernah lupa, Tuhan selalu menyediakan kekuatan yang cukup untuk setiap ujian juga orang-orang yang tepat untuk menemanimu melewatinya. Kita semua bisa jadi pemenang!

Jakarta 020915, 15.49

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s