Bahasa Cinta


image

“A, aku izin pulang malam ya, ada janji dengan teman kantor”, malam sebelumnya aku meminta restumu untuk keluar rumah. Kau hanya mengiyakan. Esok pun datang dan sore pun menjelang. Tepat sekitar jam pulang kantor tiba-tiba datang pesan singkatmu “Pulangnya hati-hati ya”. Dan langkah ringanku yang telah mengantongi izin darimu mendadak menjadi berat, rasanya ingin aku segera berlari pulang dan memelukmu barang sedetik hanya untuk berkata “Terima kasih ya.” Kekhawatiranmu sudah cukup jadi bekalku sore ini.

Aku tau kau peduli…

Sore di penghujung tahun, tak lepas dari rintik hujan yang tak jarang berubah bergemuruh dan turun tiada henti menyapa penghuni bumi. Wah, lagi-lagi lupa membawa payung. Kebiasaan lama yang tak juga berubah. Padahal sedari pagi sudah kau ingatkan untuk tidak lupa membawa payung dimusim penghujan yang sedang deras-derasnya. “Tutup kepalanya, tunggu hujan reda dulu,” katamu. Kau benar-benar tau kalau aku tak peduli akan hujan, kakiku tetap akan melangkah ke tujuanku selanjutnya dengan berbagai cara. Lekas kutersadar, kau benar-benar mengenalku dengan baik tanpa harus kau jelaskan tiap hari seperti apa pribadiku.

Aku tau aku kau sayangi…

Aku marah. Marah sekali dengan gerakanmu yang lambat dan kelewat santai. Aku tidak biasa dengan ritme selambat itu. Aku pun bermuka masam padamu. Lalu, beberapa hari kemudian kita bicara. Membuka komunikasi yang sempat tersumbat karena kemarahanku melalui aksi diamku. Kau membukanya dengan menanyaiku lebih dulu tentang apa yang aku inginkan, tentang alasan kenapa harus terburu-buru jika perlahan pun rencana yang akan kita lakukan terselesaikan juga. Dan, aku, tak bisa berkata banyak, emosiku menguap begitu saja. Terkesima dengan ketenanganmu mendamaikan kita. Aku pun kembali berucap syukur pada Yang Kuasa, bukankah perilakumu itu anugrah cinta untukku? Tak pernah diliputi emosi, dan tak sekalipun bernada lebih tinggi dari nada bicaramu sehari-hari.

Aku tau kau yang aku ingini…

“Aku cinta kamu”, kataku suatu waktu, dan kau hanya terdiam sibuk menikmati anugrah cinta untukmu sendiri. Kadang jika aku sedang beruntung, kudapatkan balasan kecup di dahi yang cukup untuk membahasakan cintamu yang sulit kau verbalkan. Aku yang cepat merasa puas, lagi-lagi hanya bisa diam tiap kali kecup atau peluk mendarat seketika. Apa masih belum cukup jelas isyarat cinta darimu?

Ah, aku tau aku engkau cintai…

Walau pada awalnya sulit kuterjemahkan tapi akhirnya aku mengerti juga bahwa semua perlakuanmu padaku adalah Bahasa cintamu, yang tak mampu kau transformasi menjadi kata. Ternyata bahasamu bahkan jauh lebih indah dari ekspresi cintaku. Seindah puisi yang meminta sebaris kata yang tak serupa untuk terangkai menjelma indah penuh makna.
Aku benar-benar meyakini, kau telah memilihku dengan sepenuh hati.

Dari separuh jiwamu yang tak tau bagaimana cara berhenti mencintai.
Bogor, 090715

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s