Tentang Pernikahan – Pengorbanan & Keikhlasan


image

Mitsaqan ghaliza. Ikatan yang tidak mudah terputus, itulah penikahan. Disatukan dengan bantuan doa ribuan malaikat yang mampu menggetarkan Arsy Allah, yang putusnya pun meski halal tapi dibenci oleh Allah.
Bukan tanpa alasan mengapa pernikahan sedemikian kuat ikatannya digambarkan melalui firman Allah, karena komitmen sepasang manusia dihadapan Allah tidak mudah perjalanannya. Akan banyak ujian yang rasanya diluar kesanggupan melewatinya dan akan berlimpah ruah pula reward pahala yang menyertai perjalanannya.

Banyak formula yang diperkenalkan berbagai orang bijak dengan segala asam garam dalam mengarungi kehidupan pernikahan, namun pada akhirnya formula terbaik ada pada kedua individu yang terikat dalam pernikahan. Yang bagi pasangan lain dirasa bukan solusi terbaik namun bagi pasangan lainnya menjadi jalan keluar terbaik. Tidak sedikit nasihat bijak tentang pernikahan saya peroleh dari sekitar ataupun saya temukan sendiri melalui telusuran bacaan dan tontonan dari berbagai sumber, salah satunya adalah yang saya peroleh dari Mitch Albom, penulis kesukaan saya, yang saya rasa cukup relevan untuk diterapkan dalam kehidupan pernikahan.

Aviate. Navigate. Communicate.

3 kunci penting yang jadi modal dasar untuk belajar terbang dalam hal ini untuk menjalani kehidupan pernikahan.

Aviate. Ketika terjadi masalah, yang pertama kali harus dilakukan adalah to keep flying. Masalah apapun yang menimpa kehidupan pernikahan mengharuskan kita untuk tetap meneruskan perjalanannya. Tidak lantas pergi dan berharap semua akan berubah menjadi baik-baik saja setelah kembali. Bagi saya, sesulit apapun masalah, memilih untuk menghadapinya akan selalu menjadi awalan yang baik. Lari dari masalah hanya akan memperburuk keadaan, seperti genangan air bersih yang dibiarkan terus menerus menggenang, akan bau dan berubah menjadi air kotor yang menjadi sumber penyakit.

Navigate. To figure out where to go. Setelah mampu bertahan untuk tetap menghadapi apapun masalah yang sedang terjadi, kemudian cari tau akan dibawa kemana selanjutnya, bertahan atau menyerah. Pada akhirnya, solusi berpusat pada kebahagiaan bersama, harus win win, tidak memberatkan dan harus penuh dengan keikhlasan menjalaninya.

Communicate. Tell the ground what’s going on. Setelah tau akan dibawa kemana, komunikasikanlah dengan baik kepada pasangan. Dengan kepala yang dingin dan tanpa muatan apa-apa selain tujuan kebaikan. Mulailah dengan niat untuk mencari penyelesaian, untuk saling mengoreksi agar sama-sama menjadi lebih baik. Bukan untuk mencari yang salah. Bukan untuk menjadi pemenang.

Saya rasa, 3 hal diatas cukup untuk menjadi satu dari sekian banyak bekal untuk mengarung pernikahan. Lalu, setelah melalui tiga tahapan tersebut, sampailah pada solusi either untuk bertahan atau untuk berpisah demi kebaikan bersama. Biasanya, ketika pasangan memutuskan untuk terus bertahan, akan ada konsekuensi untuk saling berkorban, mengorbankan egoisme masing-masing sebagai individu yang bebas. Kadar pengorbanannya pun seringnya tidak seimbang, tak jarang satu pihak berkorban lebih banyak dari lainnya just to make this marriage works well, works better.

Pengorbanan. Apa sie pengorbanan itu? Seperti kisah Nabi Ibrahim yang diminta mengorbankan Nabi Ismail, anaknya, untuk disembelih atas dasar pembuktian cinta dan kepercaaannya pada Allah. Pengorbanan adalah memberikan sesuatu berharga yang kita miliki kepada orang lain. Pengorbanan memberikan kesan berat dan merugikan bagi orang yang berkorban, tidakkah lebih baik jika perngorbanan diiringi dengan keikhlasan dalam melakukan proses pemberian sesuatu berharga yang kita miliki? Pengorbanan dengan penuh keikhlasan inilah yang menurut saya sangat dibutuhkan dalam pernikahan. Akan banyak situasi yang akan ditemui sepanjang perjalanan pernikahan yang meminta kita atau salah satu dari pasangan untuk berkorban. Tidakkah lebih melegakan jika pengorbanan disertai dengan keikhlasan? Karena pada akhirnya pengorbanan yang kita berikan bertujuan untuk tujuan bersama, lagi-lagi, to make it works, the marriage.

Ah, siapa sie saya sok tau bicara ini itu soal pernikahan padahal baru saja kemarin sore menikah, masih seumur jagung yang baru ditanam, masih juga jauh dari bentuk pohon jagung. As usual, ini hanya sedikit usaha saya untuk mengingatkan diri saya di masa datang yang sangat mungkin kembali lagi dan lagi terlupa akan pelajaran hari ini.

Bogor, 050715, 18.37

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s