Tentang Ujian


dont-leave
Makhluk hidup manapun pasti pernah mengalami ujian dalam hidupnya. Bahkan manusia yang dijaga sepanjang hidupnya dan telah dijanjikan surga pun mendapat bagian ujian yang tetap harus dilewatinya. Datangnya bisa kapan saja, dan dalam bentuk apa saja. Tujuannya sebenarnya cuma satu, untuk kembali diajak beribadah pada sang Maha Pencipta. Bahwa sehebat apapun kita, kita tetaplah ciptaannya yang pada suatu masa mau tidak mau akan kembali mencariNya dan berpasrah agar ujian yang datang dariNya kembali diangkat olehNya.

Bergantung pada macam ujiannya, cara menghadapinya pun beragam. Sebatas mensolusikan ujian dengan logika standar manusia berpikir menggunakan akal yang penuh dengan keterbatasan, sampai dengan menggunakan usaha tak logis semacam bersedekah dan berdoa –biasa kita sebut usaha langit—untuk keluar dengan sukses dari ujian kehidupan.
Beberapa waktu lalu saya terlibat pembicaraan dengan sepasang om dan tante yang telah puas mengecap asam garam kehidupan. Sampailah kami pada pembicaraan mengenai ujian hidup. Mereka berbagi banyak hal, betapa sulitnya masa-masa awal berjuang sebelum keadaan menjadi senyaman hari ini. Mereka berkata, banyak ujian bisa disolusikan dengan cara-cara duniawi, namun ketika cara duniawi tidak juga mempan menjadi solusi coba dengan cara-cara langit. Om dan tante saya ini ternyata pernah mengalami ujian yang benar-benar tidak tersolusikan juga, sampai akhirnya mereka berupaya dengan cara yang tidak masuk akal, salah satunya adalah bersedekah. Kalau dipikir-pikir sedekah dan selesainya ujian tidak ada hubungan langsung, tapi terbukti bisa membantu kita melewati ujian. Om dan tante lanjut bercerita bahwa ketika mereka bersedekah dulu, mereka benar-benar meniatkannya untuk menyelesaikan masalah, entah itu untuk melepaskan diri dari lilitan hutang atau untuk kesembuhan penyakit yang tak kunjung terobati atau bahkan hanya untuk mendapatkan ketenangan diri. Cara langit ini benar-benar bisa bekerja dengan baik. Kalau diibaratkan dialog dengan Tuhan, mungkin Tuhan semacam memberi reward atas kesungguh-sungguhan kita melakukan amalan dijalan kebaikan dengan membantu sesame melalui infak, sedekah, dan lainnya. Lantas Tuhan bisa jadi memutuskan untuk membantu meringankan ujian atau memberi bantuan-bantuan tak kasat mata yang bisa membuat kita mampu melewati ujian.
Well, saya tidak bermaksud menempatkan Tuhan seolah-olah pamrih dan hitung-hitungan atau bahkan menjadi sosok yang keji yang senang melihat hambanya berada dalam kesulitan. Hanya saja itu semacam siklus dunia yang harus kita lewati untuk melaksanakan tujuan dilahirkannya kita ke dunia, untuk belajar mengenal dan beribadah kepadaNya.

Selanjutnya om dan tante saya tersebut kembali berbagi wejangan tentang cara lain melewati ujian, yaitu dengan memohon maaf. Kenapa memohon maaf? Karena ada ujian yang hadir karena terkabulnya doa mereka-mereka yang tersakiti hatinya oleh kita, hingga tanpa sadar membuat kita memperoleh ujian dalam tujuan membersihkan diri. Om dan tante berkata bahwa ketika mendapat ujian, coba meminta maaf terlebih dahulu kepada orangtua kita, pasangan (suami/istri), anak-anak kita, kerabat keluarga lainnya, teman dan orang-orang disekitar kita, mana tau tanpa sadar kita pernah melukai hati mereka. Ah, saya rasanya seperti disiram air dingin. Bukan tidak mungkin kesalahan tersebut pernah saya lakukan, menyakiti hati orang tua, pasangan, teman, dan lainnya yang mampu mendatangkan ujian kepada diri. Hanya karena mereka “our person” (orang-orang kita), tidak berarti kita bisa semena-mena berperilaku tanpa mengindahkan perasaan dan kenyamanan mereka, apalagi orang tua yang telah hadir dalam kehidupan kita sejak pertama kali melihat dunia. Ah, ibu, ayah, rasanya saya banyak sekali berlaku salah pada kalian. Apalagi setelah menikah, dimana kita mendapat tambahan orangtua dan keluarga baru, rasa-rasanya semakin banyak hati yang harus kita jaga dan mungkin telah tersakiti oleh ucapan dan perilaku kita.

Saya jadi ingat, bagi seorang suami prioritas pertama mereka adalah ibu baru kemudian istri, sebaliknya bagi istri, ketaatan paling pertama adalah kepada suami baru kemudian ibu. Sebenarnya disini ada celah bagi laki-laki untuk terperosok pada jebakan perilaku taat, hanya karena ketaatan seorang istri ada pada suaminya terlebih dahulu baru orangtuanya seharusnya tidak lantas membuat para suami lupa untuk mengindahkan orangtua istri. Karena saya sangat percaya, kedua orang tua sama besar pengaruhnya terhadap keberkahan keluarga anak-anak mereka, jadi tak peduli betapa banyak perbedaan dalam memandang kehidupan, menjalaninya, dan memberikan respon terhadap hidup, tetap saja kedua orang tua mesti diperlakukan dengan penuh pernghormatan dan penghargaan juga cinta. Sedikit saja hati mereka terluka, mampu menjadi penyebab kerusakan rumah tangga. Tidaklah aneh, karena orang tua adalah kepanjangan tangan dari Tuhan, yang sedikit doanya mampu membuat beribu malaikat mengamini dan mewujud menjadi kenyataan dalam sekejap.

Ah, betapa pembicaraan soal ujian dengan om dan tante saya ini begitu sarat dengan pengingatan diri. Sungguh menjadi nasehat yang benar-benar sedang dibutuhkan. Jangan pernah lupa, dunia ini hanya ciptaanNya, ketika kita mentok kembalilah kepada pencipta dunia.

Jakarta, 120615, 03.42

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s