Tentang Rasa Takut


uppsala-sweden-psychology-study-erasing-fear
“Fear is how you lose your life, a little bit at a time. What we give to fear, we take away from faith.”
Mitch Albom, The First Phone Call from Heaven

Belakangan ini saya sedang berusaha menyelesaikan membaca buku karangan penulis favorit saya yang tidak pernah berhenti memesona saya dengan ide sederhana dan sangat mendasar di setiap tulisannya. Kali ini Mitch bercerita tentang telepon dari surga yang membuat heboh penduduk ColdWater. Bukunya memang belum selesai saya baca dan saya tidak bermaksud untuk membuat review buku tersebut, saya hanya tergelitik ingin membahas quote diatas.
Rasa takut akan membuat kita kehilangan hidup perlahan-lahan, ketika kita mulai merasakan rasa takut, keyakinan kita terhadap akan terjadinya hal baik pun perlahan akan ikut memudar.

Presiden Franklin Roosevelt pernah berkata bahwa satu-satunya hal yang perlu kita takuti adalah rasa takut itu sendiri. Dan saya sangat setuju dengan beliau. Rasa takut benar-benar akan mengikis keyakinan kita terhadap sesuatu. Sontak saya terbayang semua rasa takut yang pernah dan masih menghampiri hidup saya hingga saat ini, seperti : ketakutan akan kematian, ketakutan akan ditinggalkan, ketakutan akan pengalaman orang lain yang mungkin akan terjadi pula pada kita, ketakutan akan dilupakan, ketakutan akan kehilangan kesempurnaan nikmat hidup, ketakutan akan ancaman terhadap kenyamanan dan keamanan, dan seterusnya. Rasa-rasanya setiap hari ada saja ketakutan yang menghampiri. Lantas, sebenarnya apa sie rasa takut itu?

Menurut sumber yang saya baca (the Pshychology of Fear dan Psychology today), rasa takut adalah salah satu emosi dasar manusia yang muncul dari kecemasan kita terhadap imajinasi/pengalaman kita akan sesuau hal buruk yang mungkin akan terjadi pada kita. Pada dasarnya, rasa takut adalah reaksi biologis standar yang dihasilkan sebagai respon dari informasi yang masuk, sama seperti emosi dasar manusia lainnya. Penerimaan informasi ini membawa pengetahuan dan pemahaman terhadap satu kondisi yang selanjutnya kita kategorikan sebagai ancaman yang menimbulkan rasa takut.

Setidaknya ada 5 sumber datangnya rasa takut (psychology today):
1. Fear of Extinction
Rasa takut akan kepunahan/kehilangan eksistensi. Ketakutan akan kematian termasuk dalam kategori ini. Rasa takut ini biasanya ditimbulkan dari kejadian yang mengakibatkan kita mencemaskan akan menghilangnya kita untuk selamanya. Contohnya seperti ketakutan yang ditimbulkan ketika kita berada di gedung tinggi, kekhawatiran akan jatuh dan kemudian mengantarkan kita pada kematian, juga bisa ketakutan kita akan terjadinya kecelakaan yang bisa menyebabkan kematian. Bisa jadi ketakutan akan kehilangan diri sendiri karena sibuk menyesuaikan diri dengan standar orang lain termasuk dalam kategori ini, ketakutan akan kehilangan eksistensi diri. What do you think?

2. Fear of Mutilation
Selanjutnya adalah rasa takut akan kehilangan anggota tubuh, yang biasanya menyerang tubuh hingga menyebabkan hilangnya fungsi alaminya. Biasanya ketakutan ini disebabkan oleh ketakutan akan serangan hewan seperti ular, serangga, buaya, singa, dan lainnya.

3. Fear of Loss of Autonomy
Rasa takut akan ketidakmampuan bergerak, menjadi lumpuh, terjebak, terpenjara, atau apapun yang diluar kendali kita. Contohnya seperti claustrophobia atau ketakutan akan tempat sempit, ketakutan akan kelumpuhan, dan menurut saya ketakutan akan degradasi kemampuan motorik anggota tubuh juga demensia akibat penuaan termasuk dalam kategori ini. Sadarkah teman-teman, ketakutan kategori ini pasti akan menghampiri kita, karena menjadi tua adalah suatu keniscayaan, kecuali kalau umur kita tidak sampai usia lanjut atau mungkin kita punya kelainan seperti Benjamin Button. 😛
Selain itu, ketakutan akan komitmen bisa masuk dalam kategori ini, ketakutan akan ketidakmampuan untuk bergerak sebebas ketika masih sendiri dan belum terikat. Dan saya pernah sekali mengalami hal ini. But at the end, I defeated it.

4. Fear of Separation
Nah, rasa takut ini adalah ketakutan akan dilupakan, diabaikan, tidak dipedulikan, ditolak, dan kehilangan keterikatan. Menjadi seseorang yang bukan siapa-siapa, tidak diinginkan, dan tidak berharga bagi orang lain. Biasanya menghasilkan semacam perlakuan pendiaman (silence treatment) yang berakibat pada efek psikologi yang teramat buruk. Ketakutan akan penolakan pada dasarnya menjadi celah munculnya silence treatment. Btw, perlakuan diam ini sering juga sie saya lakukan ketika saya sudah teramat marah sampai tidak lagi bisa diwakilkan dengan kata-kata. Pada intinya, pendiaman yang dilakukan bertujuan untuk kembali mendapatkan perhatian sekaligus sebagai gertakan terhadap kemungkinan ketiadaan kita dalam hidup seseorang yang kita maksudkan. Akan tetapi, pada akhirnya saya menyerah dan selalu kembali memilih untuk memecah keheningan dan kembali menyelamatkan hubungan. Harga diri tidak lagi jadi harga yang sepadan dibandingkan penyelamatan hubungan antar manusia, itu menurut standar saya lho ya. Oia, cemburu masuk dalam kategori ini lho.

5. Fear of Ego-death
Rasa takut akan penghinaan, rasa malu, atau mekanisme lainnya yang berkaitan dengan penerimaan diri dan mengancam hilangnya integritas terhadap diri, rasa takut akan pudarnya kepercayaan yang dibentuk dari rasa cinta, kemampuan, juga kelayakan diri. Contohnya seperti ketakutan berbicara didepan public, ketakutan akan konsekuensi penerimaan yang jauh dari ekspektasi. Erat hubungannya dengan ketakutan akan kegagalan. Keinginan diri untuk selalu menjadi layak di mata orang lain membuat diri terus menuntut kesempurnaan, penerimaan terhadap kegagalan pun menjadi hal yang sulit dihadapi.

Nah, dari penjelasan diatas kita mulai bisa mengidentifikasi berbagai rasa takut dan penyebabnya. Bisa berasal dari satu sumber, bisa juga berasal dari beberapa sumber. Muncul pertanyaan baru, apakah rasa takut semenakutkan itu sehingga harus benar-benar dihindari dan sama sekali tidak boleh dimiliki? Lalu, untuk apa diciptakan rasa takut? Bukankah Tuhan tidak menciptakan sesuatu tanpa tujuan? Saya pribadi meyakini bahwa rasa takut itu perlu dimiliki, hanya saja dalam tujuan perbaikan diri, tidak untuk membuat diri menjadi terpuruk.

Sebut saja rasa takut akan dosa, rasa takut akan api neraka, rasa takut akan ketidaktaatan kita pada Tuhan, rasa takut ini adalah rasa takut yang teramat perlu dimiliki, sehingga bisa membantu kita mencipta batasan-batasan diri agar tidak keluar jalur. Seperti kata Agnes Monica dalam satu kesempatan ketika saya sempat menonton shownya, Agnes Mo berkata “Saya selalu nervous tiap kali akan tampil didepan umum, selalu deg-degan khawatir tidak bisa memuaskan penonton dengan memberikan yang terbaik yang saya bisa. Dan sampai saat ini, rasa deg-degan dan nervous yang saya alami itu tetap saya jaga, karena bagi saya hal tersebut menjadi pemicu untuk selalu menampilkan yang terbaik.” Kurang lebih inti perkataannya adalah tentang perlunya memiliki rasa takut, jika motivasinya untuk terus memberikan yang terbaik, tentu dengan toleransi terhadap penerimaan hasil apapun yang akan dihadapi nantinya. Sama seperti rasa takut kehilangan pasangan (suami/istri) setelah menikah, tidak dalam porsi yang berlebihan ya, tapi cukup untuk menjadi motivasi bagi kita sebagai pasangan untuk terus memberikan yang terbaik dan untuk tetap bertahan dalam ikatan pernikahan.

Kalau boleh bicara jujur, saya sebenarnya masih sering terjebak pada rasa takut yang berlebihan, dan saya sadar sekali bahwa rasa takut yang berlebihan itu bisa membawa kita pada pemikiran irrasional. Kadang akal sehat menjadi tak lagi sehat. Untuk itu, seperti nasihat dari zaman Nabi dulu, tetaplah menjaga segala sesuatu sesuai porsinya, apapun yang berlebihan pasti tidak berbuah baik.

Apalah apalah yang saya tulis ini, semoga ada manfaatnya ya buat teman-teman.
#NulisRandom2015 #NulisBuku Day 1
Jakarta, 040615 – 090615, 02.07

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s