Thanks for Making Up Your Mind


image

Gini nih, sekali nulis langsung pengen lagi dan lagi.

Kali ini saya mau bercerita soal rutinitas pagi dan sore hari saya berkereta. Oh man.. At first it was reaally hard to survive but gradually I found my own method to stay alive until I reach my destination. Hahaa..

Saya sudah pernah merasakan naik kereta di gerbong wanita yg sadisnya minta ampun, sampai akhirnya saya memutuskan untuk bertahan di gerbong campur meskipun penuh sesak. Banyak alasannya, tapi nanti saja saya jelaskan, karena bukan itu yang mau saya ceritakan.

Hampir setiap kali naik kereta saya menemukan banyak penumpang yg jauh lebih muda dan sehat yang enggan memberikan tempat duduknya kepada yang lebih membutuhkan (lansia, ibu hamil, ibu mmbw anak, penumpang brkebutuhan khusus) entah karena memang sudah terlelap tidur hingga tidak lagi menyadari situasi disekitar maupun yang pura-pura tidur berharap agar tidak dilirik untuk sekedar menggeser posisi sedikit atau sampai harus berdiri. Saya sebenarnya sangat mengerti bahwa mereka-mereka ini sudah berusaha lebih untuk berangkat lebih pagi demi mendapatkan kenyamaan duduk saat berkereta. Tidak heran saat beberapa waktu lalu ada kasus yang heboh di media sosial soal seorang wanita muda yang enggan berbagi dengan ibu hamil dan malah menyalahkan ibu hamil tersebut karena tidak berusaha lebih. She’s being reasonable, hanya saja mungkin sedikit kurang empati dalam mengandaikan bagaimana jika suatu hari nanti kita jadi mereka (red-ibu hamil).

So, what I’m about to tell you adalah ucapan terima kasih kepada mereka (orang-orang muda) yang pada awalnya sebenarnya sangaatt enggan memberikan kenyamanan duduknya kepada orang lain yang datang belakangan. Tidak sedikit saya menemukan situasi (karena sering juga terjadi pada saya) dimana mereka pada awalnya membiarkan yang membutuhkan duduk kemudian berpikir untuk beberapa saat lalu beberapa saat kemudian akhirnya memutuskan berdiri. Saya pernah menjadi pemberi dan yang diberi duduk. Dan saya berterima kasih banyak kepada mereka karena menyempatkan berpikir ulang dan pada akhirnya memutuskan untuk membantu orang lain.

Saya pribadi setiap kali merasa harus memberikan tempat duduk saya dengan pamrih kepada Tuhan, agar setidaknya ketika ibu saya/saudara saya lainnya berada dalam situasi serupa, semoga ada yang bersedia berbaik hati berbagi. Saya ingin membayar kembali kebaikan banyak orang kepada saya yang itu bisa jadi buah dari kebaikan orang tua dan saudara-saudara saya lainnya dijauh sana. Saya ingin belajar menabung kebaikan berharap nanti hal tersebut akan kembali kepada saudara dan kerabat.

Ketika saya mendapat tawaran untuk duduk pun tidak jarang saya berpikir, bisa jadi niatan mereka (setelah berdiam diri dan pada akhirnya memutuskan untuk merelakan tempat duduknya) pada awalnya hanya karena tidak enak dengan penumpang yang lain (bukan bermaksud suudzon), bisa jadi mereka pun sebenarnya sedang membutuhkan (misalnya karena sedang sakit pinggang, migrain berat, mual, dll), namun pada akhirnya bisa berakhir dengan melakukan kebaikan. Dan mereka layak mendapatkan reward atasnya. Setidaknya saya akan ikut membantu memintakan kebaikan Tuhan untuk membagi pahalanya kepada mereka, tentu diberikan atau tidak ituy hak prerogatif Tuhan, tapi yang saya tahu Tuhan Maha Pemberi, Maha Kaya, dan Maha Pemurah.

So, thanks a lot people for making up your mind and ending it up with a good action. You’re all a champion of your ownselves.

Jakarta, 300415, 07.26

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s