Tentang Pesan Pernikahan


message

“Siap-siap aja stor, ketika tujuan nikah lo buat beribadah, siap-siap untuk tidak mencintai suami lo dengan terlalu.”

Saya sempat terdiam. Memproses kembali kata-kata dari teman baik saya. Mengulang-ulang lagi maksud yang tersirat didalam kalimat teman saya tersebut. “Maksudnya gimana ya?”, saya lanjut bertanya untuk memperjelas kalimatnya tadi. “Iya stor, tidak bisa ada dua cinta dalam satu hati. Apalagi ketika motivasi lo dan pasangan menikah karena ibadah. Allah pasti akan menguji niatan lo untuk tetap menjadikan pernikahan lo dalam motivasi untuk beribadah kepada-Nya. Untuk tetap menjadikan Allah prioritas diatas semua makhluk.” Saya terhenyak. Saya merasa pembicaraan saya dengannya ini tidak kebetulan. Ini pasti kepanjangan tangan Allah untuk mengingatkan saya meluruskan kembali niat menikah. Saya harus sadar untuk tidak sekedar mengucapkan menikah untuk ibadah tanpa makna.

Terlalu naïf kalau saya hanya membayangkan yang indah-indah dan bahagia saja setelah menikah, saya sangat sadar, ujian ada saja yang akan datang sesuai dengan kemampuan saya dan pasangan kelak. Pada akhirnya nikmat dan ujian yang akan diberi Allah hanya untuk menguji sebatas mana saya bisa tetap mengembalikan semua kepada-Nya, sejauh mana saya mampu mengingat bahwa Allah tetap yang paling Maha atas segala sehingga saya tidak luput untuk terus memohon kepadaNya. Saya sangat sadar bahwa perjalanan tidak lantas menjadi lebih mudah setelah menikah, tapi saya juga tau ada hadiah yang manis diujung perjalanan. For something worth having, nothing comes easy, right?

Ah, untung saya orangnya gak mau kalah. Semakin orang menggambarkan hal-hal yang menakutkan, semakin saya tertantang untuk menaklukkannya. Semakin orang berbicara tentang kesulitan perjalanan pernikahan, semakin saya penasaran untuk menjadi orang yang mampu melewatinya. Saya selalu ingin membuktikan bahwa saya berbeda, saya bisa melewati tantangan yang telah saya pilih melalui konsistensi untuk memilih tidak menyerah melainkan kembali bangkit dan terus bertahan. Lagipula, saya sudah dibekali oleh ibu untuk terus mendahulukan berprasangka baik kepada Allah hingga Allah memberi sesuai dengan yang dipersangkakan juga untuk terus bersyukur agar nikmat yang telah dianugrahkan terus bertambah. Ketika pun suatu hari saya lupa dan tidak tau lagi bagaimana caranya untuk bertahan, semoga saya tidak lupa untuk setidaknya membuka kembali catatan ini dan menjadikannya pengingat diri di masa depan.

“Ketika kamu sudah sampai di penghujung sabar dan berpikir untuk menyerah, ingat kembali niat di awal, semoga bisa kembali memperbaharui komitmen untuk bertahan dalam pernikahan”, kata seorang teman lagi. Terima kasih semua teman dan saudara yang tak henti mengingatkan saya.

Bismillahirrahmaanirrahiim,,,

InsyaAllah jika memang telah sampai waktunya untuk menikah pertanda sudah sampai kemampuan saya untuk menjejaki jenjang yang lebih tinggi lagi dalam kehidupan. Mohon doanya ya teman-teman.

Jakarta, 200115, 16.20

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s