Tentang Chemistry dan Teman Hidup


chemistry_of_love_by_nekoreport-d4zm9js

Chemistry. Banyak yang mengartikannya sebagai ikatan kimia, yang biasa dipakai untuk menggambarkan keterikatan antar pasangan yang sulit digambarkan, sesulit belajar kimia. Pada dasarnya, chemistry ini tentang koneksi istimewa antar pasangan yang mungkin bagi orang luar terlihat biasa-biasa saja atau bahkan beberapa diantaranya terlihat seperti tidak cocok tapi entah bagaimana keduanya selalu menemukan cara untuk kembali ke pasangan tersebut. Mereka sebut karena sudah ada chemistry.
Chemistry menurut saya sifatnya resiprokal. Berbalas. Harus datang dari kedua belah pihak. Ketika sudah menemukan chemistry bahkan hal tidak penting bisa membuat keduanya merasa terkoneksi dan merasa saling memahami. Pada akhirnya kecocokan kecil bisa mengalahkan ketidakcocokan lain yang berkaitan dengan kebiasaan, watak, apalagi fisik.

Untuk pasangan-pasangan baru atau mungkin orang-orang seperti saya, biasanya sangat mengandalkan chemistry dengan seseorang untuk pada akhirnya memutuskan berkomitmen hingga menikah dan tua bersama. Bagi saya pribadi, chemistry ini hanya jadi fase pertama untuk mulai mempertebal bemper mewaspadai benturan-benturan yang akan dihadapi kelak. Bukan hanya memiliki chemistry, pengenalan pribadi dan penyimpanan memori pun sangat penting untuk menambah lapis demi lapis bemper agar kapanpun benturan terjadi, kelebaman berada pada tingkat yang cukup tinggi untuk mentoleransi untuk selanjutnya dievaluasi melalui duduk bersama.

Pada akhirnya, proses yang harus dilakukan adalah to accept, to adapt, and to adjust into each other. Bekalnya, ya bemper-bemper yang saya sebutkan tadi. Ah, tapi siapa sie saya ini, hanya bisa berteori padahal belum juga praktek. Saya sebenarnya hanya memanfaatkan saat pikiran saya sedang netral karena belum jadi pelaku, semoga bisa membantu diri sendiri kelak.

Bicara soal teman hidup, saya baru saja kemarin berbicang-bincang tentang hal ini. Soal suatu kasus rumah tangga dimana suami tidak suka melihat istrinya pergi ikut kajian ilmu yang bermanfaat. Menurut hasil bincang-bincang, mungkin sebaiknya kita tidak lupa bahwa setelah menikah kita wajib menaati suami bahkan lebih dahulu dibandingkan orang tua sendiri. Perihal kita punya pendapat bahwa kajian ilmu tersebut tidak seharusnya dibatasi sebenarnya adalah bagian dari usaha berkomunikasi antar pasangan. Nah, ini yang jadi tantangannya, bersabar dalam berkomunikasi tanpa memaksakan kehendak dan membuat diri menjadi lebih superior daripada suami dengan tidak mengesampingkan kewajiban untuk taat. Karena saya pun belum mengalami, saya juga tidak tau apa mampu saya melewati hal semacam ini. Semoga kita tidak lupa bahwa sesulit-sulitnya bertahan masih jauh lebih baik daripada harus berpisah karena alasan apapun, yang meskipun halal tapi dibenci oleh Tuhan.

chemistry_love_by_ninjabin-d4iz6nb1

Saya jadi ingat quote yang pernah saya baca dan cukup menginspirasi “Life is fair, because it is unfair to everyone.”. Hidup ini adil, karena hidup gak adil buat semua orang. Jadi setiap dapat kesulitan, ingat-ingat saja, bahwa semua orang juga menghadapi kesulitan yang kadarnya sesuai dengan porsi yang mampu diterima, hanya saja bentuknya berbeda-beda.

Nah, kenapa coba jadi ngomongin hidup padahal tadi ngomongin chemistry. Baiklah, sebelum makin menyimpang dari tujuan menulis diawal lebih baik disudahi saja. Maaf kalau berkesan sok tau dan menggurui, saya hanya sedang berusaha membuat catatan pelajaran untuk diri sendiri. Terima kasih!!

Stay positive!
Jakarta, 271114

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s