Tentang Keimanan : Kesempatan & Pengorbanan


stock-footage-woman-sitting-on-a-bench-outside-looking-out-at-the-sea-at-sunset-in-copenhagen-denmark

Jumat sore kemarin seorang teman lama mendadak menghubungi dan kami pun langsung terlibat obrolan serius mengenai keputusan yang harus dia ambil dalam kurun waktu 2 jam. Rabu kemarin dirinya mendapatkan tawaran untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri dan tanpa disangka-sangka dua hari setelahnya teman saya ini harus memberikan keputusan terkait tawaran tersebut. “Sudah ditunggu Gubernur, mbak. Jadi diambil atau tidak?”, ceritanya menuturkan kembali perkataan atasannya.

Ohya sebelum saya bercerita lebih jauh, akan saya ceritakan sedikit latar belakang teman saya ini. Dia adalah salah seorang teman akrab satu kosan semasa kuliah dulu. Sebut saja dia Dina. Dina adalah teman yang punya mimpi sangat sederhana, sebatas ingin lulus tepat waktu dan menjadi PNS di salah satu kabupaten istimewa di Sumatera sana. Dan bertahun setelahnya mimpi sederhananya itu yang ia jalani. Disaat saya dan salah seorang teman akrab yang lain sibuk bercerita tentang betapa memesonanya kehidupan di luar negeri, betapa hebatnya jika suatu hari nanti bisa melanjutkan sekolah keluar negeri, Dina tetap focus hanya dengan mimpi sederhananya.

Tahun kemarin Dina telah melepas masa lajangnya dan melimpahkan tanggung jawabnya untuk menjadi istri seorang lelaki Sumatera yang dipertemukan disekitar tempat bekerja. Beberapa bulan lalu saya sempat berkesempatan untuk bertemu-kangen dengannya dan bercerita banyak hal yang lama tidak diupdate. Dina bercerita, bahwa dia sudah beberapa kali berlibur ke Singapura, ternyata kesederhanaan mimpinya dan tuntutan akan hidup yang tidak macam-macam tetap bisa menyampaikannya untuk sekilas menyambangi dan melihat langsung bagaimana cara orang luar negeri hidup. Dan kesederhanaannya itu pula yang pada minggu kemarin menyampaikan Dina kembali menemukan satu kesempatan yang tidak disangka-sangka, sekolah diluar negeri. Ohya, sebagai info, Dina satu-satunya yang direkomendasikan untuk menjadi perwakilan sebagai awalan terjalinnya kerjasama antar pemerintah.

Saya terkesima. Benar-benar tidak bisa menutupi ketakjuban saya. Masih dengan caranya yang sederhana tanpa bumbu ingin terlihat hebat, tersampaikanlah berita tersebut kepada saya melalui diskusi panjang untuk mencapai satu keputusan jangka panjang.

Saya sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Dan tentu saja tanpa pikir panjang saya dukung dia untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Sebelum banyak berkomentar, saya tanyakan bagaimana pendapat orangtua dan suami? Ternyata tak ubahnya saya, orangtua Dina sangat mendukungnya untuk mengambil keputusan tersebut, namun suami Dina belum banyak memberikan komentar. Saya tau, saya belum menikah, tapi entah kenapa saya merasa perlu mengingatkan apa-apa yang saya pelajari sebagai persiapan saya jika kelak telah menikah. “Dina, betapapun bahagianya kamu dan orangtua, kewajibanmu yang lebih tinggi adalah untuk taat kepada suami dan memperoleh izin darinya. Bagaimana suamimu? Setujukah dia?.”

Saat itu Dina terdiam. Saya tau, ini waktu yang sulit untuknya. Saat dimana dia harus memutuskan untuk mengambil kesempatan langka yang begitu saja datang atau harus melepaskan kesempatan yang belum tentu akan kembali menghampiri. “Kalau memang suami tidak setuju, coba dipikirkan lagi. Tapi kamu tetap berkewajiban menyampaikan pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan kebahagian pribadi kamu tanpa mengesampingkan resiko dan konsekuensinya terhadap kepentingan bersama. Apapun keputusan kamu nanti, kalau sudah dibicarakan dengan baik-baik dan dipertimbangkan bersama-sama, mudah-mudahan Allah akan meridhoi dan memberkahi apapun yang akan dipilih pada akhirnya. Memang ini kesempatan langka, yang belum tentu datang lagi, tapi Allah juga kan Maha Kaya dan Maha Pemberi, bukan tidak mungkin kesempatan serupa akan datang lagi kalau memang kali ini harus dilepas pergi dengan alasan baik apalagi untuk mentaati keputusan suami.”

Entah dari mana pernyataan yang sekilas terdengar bijak itu saya peroleh, saya merasa seperti sedang berkaca andai saja bertahun yang akan datang saya dihadapkan pada situasi yang sama. Saya berharap saya pun tidak lupa akan kedudukan saya sebagai seorang istri yang menjadi makmum dari suami tanpa dengan terpaksa membunuh kebahagiaan pribadi. Kuncinya ada pada komunikasi. Selama sudah dibicarakan bersama, meskipun keputusan yang bersifat memenangkan kepentingan pribadi harus ditangguhkan, setidaknya suami telah mengetahui apa saja yang bisa membuat kita (wanita) bahagia dan bahwa kita telah meletakkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi.

Sungguh. Ini bukan hal yang mudah. Mengikis kepentingan pribadi demi kebahaggiaan bersama. Dan satu sama lain pasangan harus benar-benar menyadari pengorbanan (melalui penundaan kepentingan pribadi) yang telah masing-masing pihak putuskan, agar timbul penghargaan lebih terhadap kualitas kebahagiaan bersama. Saya tidak tau ujian semacam apa yang akan saya hadapi kelak, dan saya berharap catatan kecil ini bisa menjadi pengingat dikemudian hari.

Andai tidak ada keimanan terhadap apa yang terbaik dari Allah, tentu akan lebih sulit untuk menerima ujian semacam ini. Andai tidak ada keyakinan akan rezeki yang tidak akan lari kemana pun tidak akan tertukar, tentu tidak habis-habis ratapan penyesalan akan kesempatan yang terlewatkan pun kesempatan yang tak kunjung menghampiri. Untung saja masih ada iman, tidak harus sampai gila ataupun terpikir akan bunuh diri karena sesuatu yang tidak mampu kita dapatkan.

Jakarta, 031114

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s