Istimewa


image

Gemuruhnya menggetarkan dinding perut
Seperti larva yang siap tersembur dari gunung berapi
Anomali rasanya menggelitik dada
Seolah jatuh dari puncak tertinggi dan jantung berlari pelan dibelakangnya
Panas dingin tak karuan dirasa badan
Semacam air yg dipanaskan kemudian dicampurkan air dingin lalu dipanaskan kembali

Tak jarang sangsi, cukup berhargakah aku baginya?
Lebih dari satu dua kali kubertanya dalam hati, benarkah kau mencintaiku?

Suatu waktu, aku pernah bertanya, ‘pernahkah walau hanya sekali saja kau merindukanku?’
Tanpa jeda waktu kau menjawab ‘tentu pernah!, pertanyaanmu aneh.’ ekspresi tidak suka kau tampakkan karena pertanyaanku.
Sedikit merona merah pipiku mendengar jawabanmu.

Hanya saja tiap kali kuingat kembali, tak pernah satu kali pun kudapatkan engkau seolah sedang berpikir tentangku.

Pintar sekali kau menyembunyikan ekspresi
Hingga tak satu pun mampu tanpa sengaja kutemui
Yang tak jarang buatku rendah diri dan terus bertanya “benarkah kau dengan sungguh-sungguh memilihku untuk dicintai?”

Namun, ketika kurunut kembali pelan-pelan..
Kurangkai kejadian demi kejadian..
Rasanya hanya aku yang mendapatkan perlakuan istimewa
Bagaimana tidak?
Sapaan pagi dan malammu yang sederhana itu hanya untukku..
Pertanyaan singkatmu tentang kesehatanku yang sangat biasa itu tak pernah kau lontarkan dengan sengaja kepada org lain..
Pesan balasan ‘aku juga mencintaimu’ mana pernah terpikir akan keluar dari orang semacam dirimu
Dan aku cukup beruntung mendapatkannya diantara waktu-waktu romantis kita.

Tidakkah sesederhana itu menjadi istimewa?

Kurapihkan kembali rasaku yang sering berserakan tak karuan..
Kuucapkan keras-keras agar telingaku dapat mendengarnya dengan jelas dan memoriku mampu merekamnya kuat-kuat
Bahwa kau begitu mencintaiku
Dengan caramu yang tak biasa..

Tak perlu lagi memperpanjang tanya dan menyibukkan diri dengan praduga
Kau pun tak suka berbasa-basi kecuali menyampaikan apa yang sungguh-sungguh ingin disampaikan dengan ekspresi maksimal yang kau miliki.
Berusahalah cukup dengan itu
Toh kau tetap disampingku meski berkali tertangkap olehmu aku sering tak puas dengan perlakuanmu

Apalagi yang harus kuminta, sedang aku punya banyak alasan untuk merasa istimewa?

Jakarta, 0914, 00.57

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s