Tentang Perubahan & Pilihan


Change is unavoidable

Seperti orang tua yang menolak menyadari anaknya telah tumbuh dewasa dan tak lagi membutuhkannya sesering dulu. Seperti seorang kakak yang menolak melihat sang adik yang telah memiliki pelindung baru. Seperti seorang anak korban perceraian yang menolak mengakui orang tuanya lebih memilih kebahagiaan masing-masing dibanding kebahagiaan untuknya. Seperti seorang kekasih yang menolak mengakui kebosanan yang mulai hinggap dan menolak mengakui cinta yang tak lagi se-meletup-letup saat awal bersama. Seperti seorang mantan kekasih yang menolak membiasakan diri tanpa sapaan pagi dan malam seperti dulu dan menolak menerima mantan kekasihnya telah memilih membiasakan cinta pada seorang yang baru. Seperti seorang teman lama yang menolak digantikan dengan teman baru dan segudang cerita baru. Seperti seorang penjelajah yang menolak keasingan dirinya di tempat yang pernah sangat dikenalinya. Seperti seorang petualang yang menolak mengakhiri perjalanan pada satu penghujung waktu.

Dan..
Seperti seorang manusia yang menolak bahwa dirinya bukan makhluk yang dihidupkan untuk abadi dan suatu saat akan menemui mati.

Entah karena konsistensi untuk berpegang pada komitmen dan pada keputusan untuk selalu melihat sisi baik atau karena kekerasan kepala untuk menerima perubahan, saya tak jarang protes keras terhadap perubahan yang membuat saya mulai kesulitan hidup menyesuaikan diri dengan sesuatu yang telah begitu saya kenali. Padahal, sejak lahir, hidup mengajarkan kita untuk berkenalan dengan perubahan, yang sejak saat itu tidak pernah berhenti terjadi. Sejak saat kita terpaksa mninggalkan kubangan plasenta yang kita sebut rumah selama sembilan bulan sepuluh hari dan terpaksa melihat dunia dengan segala bahagia dan sedihnya. Kita telah sejak lama diajarkan untuk memilih menyesuaikan diri dengan perubahan atau bersikeras bertahan menahan perubahan agar bisa mengubah sekecil mungkin keadaan.

Seperti saat sepuluh hari yang lalu saya dihadapkan pada kenyataan yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Saat dimana saya harus rela melepas adik kecil saya untuk berpindah tangan penjaga pada seorang lelaki asing yang kemudan dipanggil ‘suami’ olehnya. Seperti saat saya harus terpaksa mengakui kali ini saya yang harus belajar darinya yang telah lebih dulu menikah. Disaat seumur hidup hingga sepuluh hari kemarin saya selalu menjadi tempatnya bertanya tersebab urutan lahir membuat saya berkenalan lebih dulu dengan berbagai pengalaman dibanding dia.

Harus saya akui, banyak sekali ilmu yang layak saya timba darinya sebagai pendahulu dalam hal mengarungi bahtera pernikahan. Bagaimana caranya bisa sampai pada keyakinan untuk menyimpul mati hatinya pada satu orang yang masih sangat mungkin akan kehilangan cinta padanya suatu hari nanti. –Dan saya, tanpa sadar, telah mengakui bahwa perubahan itu akan datang– Karenanya rasanya pernikahan terlalu rumit untuk bisa diputuskan dengan mudah dan tanpa diwarnai keraguan. Rasanya terlalu menyedihkan membayangkan ketidaktepatan pilihan jika saja orang yang telah dipilih tak mampu lagi konsisten dan tak cukup keras kepala untuk berpegang teguh pada komitmen yang telah disepakati. –Seolah saya tak akan pernah menjadi orang yang akan mengingkari janji pernikahan– Rasanya terlalu tak terbayangkan, menemukan diri tak lagi menjadi tokoh utama seperti dulu saat kita sama-sama sibuk mendapatkan yang masih mungkin menjadi milik orang lain. Rasanya terlalu menyayat hati membayangkan kesyukuran yang dulu sempat hinggap suatu saat mungkin akan berganti menjadi penyesalan. Dan rasanya, sulit sekali menjangkau komitmen pernikahan jika saya tak juga berhenti berkutat dengan pemikiran-pemikiran tadi.

Mungkin itu sebab saya lebih suka menemukan diri tergambar dalam sebuah tulisan yang tak mampu saya pahami, atau dalam lirik lagu yang butuh pencernaan tingkat dewa untuk bisa dimengerti, pun melodi yang punya beragam translasi. Agar setidaknya saya menemukan alasan kesalahan tafsir jika suatu waktu kelak mungkin kecewa. Padahal takut akan perubahan sama saja dengan takut akan kenyataan yang tak melulu indah dan membahagiakan. Sedang saya selalu lebih memilih ugly truth dibanding beautiful lie. Tidak bisakah saya meminta agar setidaknya janji manis yang pernah diucapkan tidak diingkari apapun kondisinya? Agar tidak terlalu sakit hati pada kenyataan yang mampu benar-benar mengubahnya kelak menjadi tidak lagi menyenangkan untuk dikenang.

Setelah saya baca kembali, sepertinya keegoisan saya berbicara melalui tulisan yang hanya tidak berpihak pada perubahan buruk, sedang Tuhan menyeimbangkan alam dengan menghadirkan baik dan buruk silih berganti. Namun, jika benar “Things change when you’re not in danger anymore “ seperti kata Posey dalam buku Mitch Albom, For one more day, artinya ketika perubahan terjadi seharusnya kita tidak lagi dalam bahaya. Yang juga berarti bahwa kita punya cukup bekal untuk bertahan dalam perubahan? Sederhana sepertinya, tapi tetap ngeri membayangkan harus menghadapi perubahan yang belum tentu baik.

Apa cukup berbekal kepercayaan bahwa Tuhan selalu membersamai kita dalam tiap tingkatan perubahan yang harus dihadapi? Pertanyaan retoris dan tulisan sia-sia yang jadi jalan bagi saya untuk kembali menemukan jejak-jejak Tuhan dalam kehidupan. Pada akhirnya, monolog ini saya tulis untuk menapaki kembali jalan menujuNya. Yang berjanji tak akan pernah meninggalkan hambaNya.

Ah, Tuhan,, ternyata saya hanya sedang kembali mencari cara berdialog denganMu melalui kerumitan pikir yang tak terlalu perlu. Yang kuyakini, Engkau jua yang memaksa jemariku mengurai gulungan benang dan menyulapnya menjadi jalan menujuMu. Jujur Tuhan, ketidakyakinan tidak pernah pergi dan selalu tertinggal sesedikit apapun setiap saat piihan akan perubahan harus kuhadapi, tapi sudah seharusnya kupasrahkan langkah rapuhku selanjutnya pada ayunan kecil arahanmu untuk masa depanku.

Namun, bukankah ketika bumi dan langit bersatu maka kesedihan dan kebahagiaan (baik dan buruk) sama saja?

Jakarta, 181014, 11.11

Advertisements

One thought on “Tentang Perubahan & Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s