Tentang Cinta & Pengharapan


Tumbuhnya cinta adalah kematian bagi ego. Karena Cinta Ilahi yang sempurna sepenuhnya membebaskan diri pecinta dari kepentingan diri sendiri, karena itulah cinta seperti ini dapat disebut juga dengan peniadaan atau kefanaan. “Siapapun yang memasuki sekolah cinta, maka pelajaran pertama yang diterima adalah menjadi bukan apa-apa.”
Musuh terbesar cinta adalah ego, yaitu kebanggaan diri. Ini merupakan kuman yang menghasilkan semua keburukan bagi manusia. Perbuatan baik seorang egois dapat berubah menjadi dosa, dan dosa kecilnya berubah menjadi kejahatan besar. Semua agama mengajarkan manusia untuk mengalahkan egonya, dan tak ada alat yang dapat melumatkan ego dengan lebih baik dari pada Cinta Ilahi.
Dari buku Sufi – Cinta dan Kerinduan

Bicara soal cinta rasanya tidak akan pernah lepas dari pengharapan. Bicara soal cinta yang tak munafik, tentu saja ada pamrih turut serta. Bicara soal cinta yang realistis, pasti ada ego ingin terbalasi. Bagi saya, cinta masih seperti ini, belum sampai pada tahap cinta yang lebih tinggi seperti kutipan diatas, untuk menjadi bukan apa-apa.
Bagi saya, ketika dicintai tentu dengan serta merta saya ingin menjadi teristimewa, yang sepertinya sangat manusiawi. Kadang ego semacam ini masih berada dalam batas wajar, tapi tak jarang ukuran cinta masing-masing membuat ego memenangi diri dan merusak hubungan dengan pasangan. Dan ini sangat sering sekali terjadi. Bisa diperbaiki hanya memang sedikit panjang dan berliku.

Berkaca pada tulisan diatas, pada akhirnya ego bisa dikalahkan oleh cinta. Cinta yang tak lagi mengandung unsur pengharapan dan tak lagi memiliki keinginan untuk menjadi apa-apa. Ego mulai menghilang ketika kita bisa dengan lapang dada meletakkan ukuran cinta menggunakan ukuran orang yang kita cintai dan dengan sendirinya pengharapan pun perlahan menghilang. Imbasnya adalah kekecewaan akan tidak tersampaikannya harapan pun sangat jauh berkurang. Saya akui, menuliskan hasil kontemplasi ini tidak semudah implementasinya. Sangat sulit. Bahkan untuk bersedia mengganti ukuran cinta kita menjadi ukuran cinta pasangan pun rasanya ego diri meledak-ledak berteriak tak adil. Sulit. Sangat Sulit. Butuh seluas-luas kelapangan diri dan kesabaran yang tak putus-putus.

Sungguh, mengalahkan diri sendiri adalah PR terbesar yang tidak pernah putus-putusnya harus diperbaiki dari waktu ke waktu. Ada yang kita pelajari dari orang lain, ada juga yang harus dialami sendiri. Menuliskan pelajaran semacam ini saya harap dapat membantu menjadi pengingat diri kelak jika pelajaran ini belum juga mampu saya pelajari dengan baik.

Pada akhirnya pelajaran soal cinta adalah pelajaran soal mengenali diri sendiri dan Tuhan. Pelajaran soal pengharapan dan kekecewaan. Pelajaraan soal pengendalian diri. Merendah-rendahkan harapan dan ego demi yang kita cintai.

Jakarta, 180914

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s