Tentang Mendapatkan Rasa Hormat


“One of the most sincere forms of respect is actually listening to what another has to say.” – Bryant H. McGill

Banyak cara untuk mendapatkan rasa hormat dari orang lain. Salah satunya menurut quote diatas adalah dengan menjadi pendengar yang baik. Wah, ini problem saya nih, masih belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Kalau diperhatikan, memang orang-orang yang bisa menjadi pendengar yang baik rasanya lebih dihormati karena mereka telah lebih dulu menghormati orang lain dengan mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang lain dengan seksama. Pendengar yang baik seperti ini biasanya lebih bijak dalam bersikap dan memberi tanggapan setelah sebelumnya berhasil dengan utuh mendengarkan duduk perkara hingga kemudian masalah terpetakan dengan lebih baik. Menjadi pendengar yang baik tentu saja membuat kita lebih dekat pada kebajikan dan kebijakan karena disaat orang lain sudah lebih dulu tersulut api, kita masih berusaha melihatnya secara utuh sehingga hipotesa terhadap suatu masalah kita simpulkan dengan lebih imbang. Pada akhirnya, penghormatan terhadap orang lain yang terlebih dahulu kita berikan tidak hanya membuat mereka balik menghormati kita tapi juga membuat kita melebarkan jangkauan kebijakan diri kita. Respect other first and they’ll respect you back.

Selain itu, rasa hormat dari orang lain bisa juga diperoleh dengan mudah berpuas diri atas apa yang dimiliki dan tidak membanding-bandingkannya dengan yang dimiliki orang lain. Seperti kutipan Lao Tzu ini “When you are content to be simply yourself and don’t compare or compete, everybody will respect you.”. Iya, orang-orang yang senantiasa bersyukur tidak akan pernah memandang rendah dirinya pun orang lain. Sehingga rasa iri, dengki, ataupun merasa dirugikan oleh kebahagiaan dan capaian orang lain tidak pernah terlintas dipikirannya. Hal ini membuatnya hidup lebih bermartabat. Orang-orang yang hidup penuh kesyukuran tanpa sadar membuatnya earning the respect atau mendapatkan rasa hormat dari orang disekitarnya. Tidak sedikit mereka-mereka dari level ekonomi menengah kebawah yang hidup hanya dengan berjualan bubur ataupun mengayuh becak yang menjalaninya dengan penuh kesyukuran lebih dihormati dibanding mereka-mereka yang hidup berlimpah harta tapi tak juga merasa puas atas apa yang dimiliki. Jadi, rasa hormat bisa diperoleh dengan senantiasa menjadi orang yang penuh syukur.

Nah, ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan rasa hormat dari orang lain yaitu dengan tidak membeda-bedakan sikap antara satu orang dengan lainnya apalagi dilihat hanya dari tingkat ekonominya. Sepertinya primitif sekali ya cara pandang semacam itu. Rasanya sangat tidak pantas melevel-levelkan seseorang hanya berdasarkan tingkat ekonomi, pendidikan, warna kulit, agama, atau bahkan silsilah keluarga. Semua orang pantas untuk mendapatkan penghormatan yang sama dan jika kita mampu untuk memandang setiap orang tanpa dibeda-bedakan, bisa dipastikan orang pun akan lebih menghormati dan menghargai kita. Ini bukan berarti orangtua dan anak muda kita perlakukan sama dalam hal interaksi tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kesopanan dan kepantasan lho ya. Tentu nilai-nilai tersebut tetap diterapkan dalam interaksinya. Ah, teman-teman pasti mengerti apa yang saya maksudkan. Hehe..

Selanjutnya -dan ini baru saja saya temukan- adalah kemampuan kita berkorban. Ada salah seorang teman saya yang membesarkan anaknya sendirian sejak kecil (single parent). Takdir membawanya untuk menjalani jalan hidup yang demikian. Bukan tidak mungkin dia memilih untuk mencari pendamping baru dan mencari cinta yang baru untuk menemaninya bertahun-tahun hidup di masa datang, for the sake of her own happiness. Tapi ternyata dia memilih untuk kuat dan tegar juga bahagia menjalaninya sendirian. Ternyata, tanpa dia sadari, anak yang mulai tumbuh besar menyadari bahwa ibunya lebih memilih terus ada disampingnya dan mendahulukan kebahagiaan anaknya dibandingkan kebahagiaan dirinya sendiri. Dan hal ini membuat anaknya amat menghormatinya sebagai ibu. And eventually she earned her respect.

Ada juga seorang teman wanita saya yang saya kenal sangat suka bekerja pada akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja demi memenuhi permintaan suami untuk membesarkan anaknya yang berkebutuhan khusus. Saya sangat tahu bahwa teman saya ini pasti amat berat meninggalkan pekerjaannya. Ada satu waktu dimana dia bisa ber-me time dengan mengaktualisasikan diri melalui pekerjaannya, bercengkrama bersama teman-teman sebayanya dan sejenak memiliki dunia sendiri yang dia sukai selama waktu bekerja dikantor. Pada akhirnya dia memilih untuk memodifikasi langkahnya dan memprioritaskan kebahagiaan keluarga lebih tinggi dibanding kebahagiaan pribadinya. Sama seperti seseorang yang memutuskan untuk menunda pencapaian mimpinya demi kebahagiaan pasangan dan keluarga kecilnya. Dalam kehidupan (tidak bisa kita hindari) pasti kita akan bertemu saat dimana kita harus memilih untuk berkorban dan meletakkan kebahagiaan pribadi kita setelah kebahagiaan lainnya. Kemampuan dan kemauan kita berkorban ini akan menjadikan orang-orang disekitar kita (terutama yang terlibat langsung didalamnya) akan lebih menghormati kita, tanpa disadari. Sacrifice helps you earn respect.

Setelah kemampuan untuk menghormati orang lain lebih dulu, senantiasa bersyukur, tidak membeda-bedakan satu orang dan lainnya, kemampuan dan kemauan berkorban, yang terakhir (yang saat ini sempat terpikir oleh saya) adalah konsistensi. Seseorang yang konsisten berbuat dan memberi teladan pasti menjadikan mereka dirasa pantas untuk lebih dihormati. Setidaknya begitu menurut saya. Saya akan sangat menghormati orang-orang yang konsisten dengan pergerakan kecilnya, dengan teladan yang senantiasa ditunjukkan dari waktu ke waktu. Saya akan sangat menghargai beliau-beliau yang mampu konsisten dalam bersikap. Bagi saya ini karakter penting yang membuat mereka berbeda dari banyak orang lainnya. Dan hal ini sangat membantu mereka untuk menjadi lebih dihormati. Dan saya pribadi masih berusaha untuk konsisten dengan usaha konsistensi ini. Hehee..

Anyway, mungkin tulisan saya agak berantakan dan sulit dimengerti, tapi saya berharap teman-teman bisa menangkap apa yang saya ingin bagikan disini. Siapa sie yang tidak ingin dihormati, semua juga ingin. Hanya saja masalahnya kita tidak bisa meminta orang menghormati kita begitu saja. Kita akan dihormati orang lain hanya jika kita pantas dihormati. We have to earn it. Dan beberapa hal diatas semoga bisa membantu kita untuk menjadi orang yang lebih layak lagi untuk dihormati.

Adios!

Jakarta, 010714

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s