Tentang Pemimpin Indonesia


Saya tidak punya ketertarikan khusus di dunia politik, pun tidak berani sesumbar mengaku diri sebagai pengamat politik. Saya hanya satu dari sekian banyak orang yang hanya ingin Indonesia lebih baik, yang hanya ingin masa depan rakyat Indonesia lebih sejahtera, yang ingin masyarakat Indonesia lebih baik moralnya. Berharap Indonesia bisa dipimpin oleh pemimpin yang bisa bekerja untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat.

Bicara soal pemimpin tentu tidak lepas dari keriuhan PEMILU yang belakangan ini hanya mampu disaingi popularitasnya dengan demam Piala Dunia. Periode sebelumnya, saya tidak terlalu ambil pusing dengan siapa calon yang akan terpilih dan mungkin juga karena peran media juga sosial media belum seberpengaruh beberapa tahun terakhir ini. Belakangan, saya rasa bahkan yang apatis terhadap politik pun pasti mendapatkan informasi dari berbagai media sosial yang dimiliki menyoal tentang kapabilitas dan rekam jejak calon presiden periode 2014 – 2019. Saya jadi salah satu masyarakat yang senang akan ketercapaian berita melalui berbagai media kepada sekian ratus juta masyarakat Indonesia yang tersebar dari perkotaan padat penduduk hingga pelosok nusantara. Hanya saja saya ikut pula menyayangkan ketidaknetralan media yang memfasilitasi pengenalan calon dengan penyesuaian preferensi pemilik media. Media jadi satu kekuatan sendiri yang mampu mengendalikan massa dengan membentuk opini publik dari berbagai berita yang entah banyak benarnya atau sebaliknya.

Rasanya sedih, melihat berbagai kampanye negatif maupun kampanye hitam yang justru makin mudah ditemui di media sosial. Kenapa kita sibuk membuka aib saudara kita hanya karena kita tidak berada di kubu yang sama? Kenapa pula simpatisan masing-masing calon sibuk memcari-cari alasan sehingga calon lawan tidak layak pilih? Saya tidak melarang siapapun untuk punya preferensi terhadap salah satu calon, hanya saja bukankah lebih baik jika kampanye yang dilakukan fokus terhadap alasan kenapa calon yang kita dukung layak dipilih? Tidak perlu lah megurusi kubu lawan, perkuat saja hal-hal positif yang bisa dijual dari kubu sendiri. Tidak akan ada yang tersakiti dan tidak akan ada pembalasan dendam dengan berbagai cara melalui kampanye negatif dan kampanye hitam.

Saya jadi ingat ketika semalam saya sedikit mengikuti tayangan ILK yang bertemakan “Black Campaign”, disitu notulen menyampaikan bahwa dalam memenangkan kompetisi, strategi yang paling rendah adalah merendahkan orang lain. Tidakkah lebih baik jika kita menjadi lebih tinggi karena ketinggian kualitas kita, bukan karena kita rendahkan lawan kita. Pelempar sampah sebenarnya melempar sampah karena didalam rumahnya sudah penuh dengan sampah, tidak lagi tertampung. Jadi ketika kita sibuk membuka aib lawan kita tidakkah sebenarnya kita sadar bahwa pada saat itu kita sedang sibuk mencari tameng karena khawatir sampah calon yang kita usung akan dikorek-korek?. Bersainglah dengan elegan, dengan bermartabat, dengan tetap menjunjung norma-norma kebaikan. Kita harus ingat, meskipun kita mengusung bendera yang berbeda dengan kubu lawan, pada dasarnya kita masih bersaudara. Jangan berlebih-lebihan. Segala sesuatu harus dilihat secara imbang.

Sesuka apapun kita dengan salah satu lawan, jangan sampai menjadikan kita terlalu mendewa-dewakan calon yang kita usung. Mereka juga manusia yang sangat mungkin punya masa lalu yang tidak membanggakan. Pun kubu lawan, pasti punya cerita-cerita yang membuat rekam jejaknya tidak sempurna. Kita bantu saja dengan doa, semoga siapapun kelak yang diamanahi untuk memimpin Indonesia akan membawa kebaikan bagi rakyat Indonesia dan agar mereka tidak lupa bahwa amanah kepemimpinan itu diibaratkan seperti meletakkan satu kaki di surga dan kaki lainnya di neraka. Begitu sulitnya mendapatkan amanah untuk menjadi pemimpin hingga jaman Nabi dulu tidak ada yang berlomba-lomba ingin menjadi pemimpin seperti saat ini. Karena mereka sangat sadar akan beban dan tanggung jawab yang harus mereka emban terhadap amanah tersebut.

Presiden boleh siapa saja, tapi ingat, jangan sampai kita kehilangan kepekaan untuk menjaga prosesnya dalam prioritas kebaikan.

Jakarta, 200614, 11.46

Advertisements

One thought on “Tentang Pemimpin Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s