(Sedikit) Tentang Karakter Diri


falling___faling____by_sugarock99-d2ljiow

Manusia membuat ratusan keputusan dalam satu hari, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur. Akan bangun jam berapa? Langsung bangun atau snooze alarm ketika berbunyi? Mandi jam berapa? Keramas tidak ya? Pakai baju warna apa? Bawa tas yang mana? Berangkat jam berapa? Makan siang apa? Makan siang dikantor atau diluar? Pulang kantor kemana dulu ya? Makan malam tidak ya? Makan malam apa? Makan malam dimana? Mandi sore jam berapa? Malam mengerjakan apa? Tidur jam berapa? Begadang tidak ya? Besok pagi mau bangun jam berapa? Dan begitu seterusnya. Itu baru pertanyaan yang timbul dari pilihan dalam rutinitas sehari-hari, belum lagi pertanyaan yang timbul dari pilihan yang muncul ketika bertemu teman kantor, tak sengaja bertegur sapa dengan teman ketika berangkat kerja, ketika bertemu orang baru, menganalisa keadaan dan mengkalkulasi perbuatan yang selanjutnya diputuskan untuk dilakukan, dan sebagainya.

Manusia yang sedang tidak dalam kegalauan kronis saja selalu diharuskan membuat beratus keputusan dalam sehari, apalagi yang memang sedang ditempatkan dalam kondisi yang mengharuskannya menghitung-hitung segala kemungkinan untuk menerka keputusan terbaik yang seharusnya diambil agar berujung baik. Itulah rutinitas kita sebagai manusia yang akan membedakan kita hari ini dengan kita di hari esok. Hal ini saya bahas sehubungan dengan pembentukan karakter saya yang akan saya ceritakan selanjutnya.

Saya berasal dari keluarga yang (alhamdulillah) sangat hangat. Saya dan keluarga mungkin tidak melulu bergelimang hadiah-hadiah mewah dalam merayakan hari bahagia salah satu diantara kami, tapi apresiasi selalu diberikan dalam setiap pencapaian yang diraih. Saya dan keluarga mungkin tidak lantas sering-sering berkumpul dan berwisata bersama ke tempat-tempat yang menakjubkan, tapi kehadiran satu sama lain dari kami melalui pesan singkat atau sekedar sapaan bertukar kabar melalui telpon tak pernah luput dari keseharian kami. Saya dan keluarga yang memang tak selalu tinggal dalam satu rumah (dikarenakan tuntutan pendidikan dan pekerjaan) tapi tak membuat kami kemudian kurang update soal kehidupan satu sama lain. Dan kehangatan itu yang membuat batin saya dan keluarga sangat dekat satu sama lain. Kami akan ikut bersedih ketika ada salah satu dari kami yang sakit ataupun tertimpa musibah, sampai-sampai tak henti berpikir tentang berbagai cara untuk bisa mengurangi beban yang lain. Akan ikut bahagia ketika yang lain berhasil meningkatkan derajat dirinya melalui berbagai prestasi dan pencapaian hingga ikut terpikir sebentuk sederhana cara untuk mengapresiasi. Dan banyak hal lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Tuhan telah begitu baiknya menganugrahkan orang tua dan adik-adik yang begitu hangatnya hingga tak sempat terlintas dalam pikiran kami soal beriri hati disaat yang lain berhasil memiliki kehidupan yang lebih baik.

Begitu hangatnya keluarga yang saya miliki, sampai-sampai siang kemarin saya baru tersadar bahwa saya telah begitu lama hidup terpisah dari keluarga, tepatnya sejak tahun 2000. Sudah hampir 14 tahun lamanya saya hidup jauh dari orang tua. Mereka tetap bisa mengontrol saya, tidak lantas luput mengajar banyak hal baik yang saya butuhkan untuk bekal menghadapi berbagai kejutan dalam kehidupan meskipun kami terpisah jarak. Tidak lantas merasa kurang diperhatikan hanya karena saya tidak lagi tinggal dirumah. Dan ternyata 14 tahun saya hidup sendiri (jauh dari orang tua), membuat saya membuat keputusan jauh lebih banyak dibanding teman-teman lain yang mungkin masih tinggal bersama orang tua. Contoh sederhananya saja, saya harus memutuskan sendiri harus makan menu apa hari ini dan dimana mendapatkannya. Jika saja saya tinggal dirumah tentu menu makan siang setiap harinya akan saya pasrahkan dengan menu yang tersaji di meja makan yang dibuat oleh ibu di rumah.

Mungkin ini awalnya hanya sekedar kesadaran kecil soal lebih banyaknya keputusan yang telah saya buat. Ternyata belakangan (setelah bertukar pikiran dengan teman) saya baru sadar, bahwa hal tersebut menjadikan watak saya lebih keras. Karena saya telah terbiasa membuat keputusan lebih banyak dari orang lain untuk menentukan apa yang baik dan membahagiakan buat diri saya dengan segala konsekuensi dari pilihan yang diambil, maka saya menjadi orang yang tidak mudah diarahkan oleh orang lain. Terlebih lagi semenjak bisa menghidupi kehidupan sendiri tanpa bergantung dengan orang tua. Saya menjadi orang yang lebih keras dan tidak bisa dipaksa. Jika saya tidak suka, maka saya akan mencari cara untuk membuat kondisi menjadi nyaman bagi diri saya. 😀

Jika teman saya (yang lain) pernah bercerita soal betapa sulitnya menyatukan dua karakter untuk membangun pernikahan, maka hal ini (soal terbentuknya karakter) menjadi penting untuk diketahui. Kita hari ini terbentuk dari serentetan kejadian dan kebiasaan di masa lampau. Dan menurut hemat saya, hal-hal semacam ini penting untuk diketahui jauh hari sebelum pada akhirnya kita memutuskan untuk mengarungi bahtera pernikahan. Tidak hanya soal bagaimana terbentuknya karakter diri hingga menjadi seperti kita saat ini tapi juga soal trauma-trauma masa lalu yang menjadikan kita phobia akan satu atau beberapa hal di hari ini. Ketakutan akan ikatan mungkin, atau kecemasan berlebih akan kesetiaan, atau soal sulitnya memberikan kepercayaan, dan lain-lain. Ketika kita telah mengetahui hal-hal tersebut, akan muncul lebih banyak pemakluman terhadap calon pasangan kita, akan timbul lebih banyak toleransi terhadap kekuranglenturan pasangan terhadap sesuatu tertentu, pun akan membantu kita untuk memilih cara yang lebih efektif untuk mengurangi trauma masa lalunya.

Pada akhirnya, saya berkesimpulan untuk tidak mudah men-judge orang lain atas apa yang terlihat hari ini. Segala hal yang terbentuk hari ini sedikit banyak dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di masa lalunya. Segala keputusan yang akhirnya diambil oleh mereka (yang mungkin banyak bersebrangan dengan apa yang kita yakini), bukan tanpa alasan diputuskan demikian. Hanya saja, kita tidak lantas merasa menjadi boleh-boleh saja menjadi apa yang kita mau dan menyalahkan masa lalu yang menjadikan kita yang bisa jadi tidak jauh lebih baik dari hari kemarin. Kewajiban kita tetap tidak boleh terlupa, untuk terus belajar menjadi lebih baik dari diri kita di hari kemarin.

Happy Monday!!
Jakarta, 120514, 02.56
Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s