Serendipity – Fortunate Accident


image

Beberapa waktu lalu saya merasa ajal akan segera menyapa saya. Jari pun mulai sibuk berhitung, berapa lama lagi waktu yang masih mungkin saya miliki? Terlintas setiap memori yang telah dilewati berganti-gantian dengan lintasan wajah orang-orang tersayang. Ah, rasanya masih banyak salah yang belum saya mohonkan kerelaan maaf, terlalu banyak budi yang belum sempat terbalaskan sekedar ucapan terima kasih, terlalu banyak cinta yang belum tersampaikan pada yang dituju, dan terlalu banyak kebahagiaan yang masih tersendat di saya.

Sesuatu tiba-tiba datang meruntuhkan langit harapan hari esok, tinggal sementara kemudian pergi berbekas sesayat luka fisik yang tak ada apa-apanya. Lalu saya tersadar. Ini sama sekali bukan hal yang perlu ditangisi, justru keberkahan yang sangat patut disyukuri. Semacam wake up call buat saya untuk lebih alert akan hal-hal yang selama ini saya anggap sepele dan tidak penting, juga menjadi lebih waspada dan awas akan segala kemungkinan sampainya kematian akibat salah diri yang tidak melindunginya.

Mati itu pasti, tapi bukan berarti kita bisa semena-mena terhadap diri tanpa melakukaan penjagaan. Penjagaan diri yang kita lakukan tidak lantas memperpanjang umur kita, namun setidaknya kita bisa kembali dalam kondisi berusaha penuh untuk bertanggung jawab terhadap nikmat-nikmat yang telah dititipkan.

Kembali kepada beberapa waktu lalu, saya beri nama masa itu ‘serendipity’, yang menurut film dengan judul yang sama berarti fortunate accident atau kecelakaan yang menguntungkan. Seperti yang sudah saya ceritakan diawal, saya sudah memposisikan diri akan bertemu ajal segera dalam waktu yang tidak terlalu lama. Saya mulai pelan-pelan mempersiapkan diri saya yang sama sekali tidak siap dan masih terkejut atas segala yang terjadi. Saya coba kuat-kuatkan diri saya untuk menghadapi hal yang tak lagi bisa dihindari. Pada awalnya takut setengah mati, lama kelamaan mulai terbiasa dan bahkan lebih realistis menyiapkan diri akan kemungkinan terburuk. Sampai ketika masa itu terlewati (meski resiko muncul kembali masih sangat besar), saya merasa sangat terberkati. When we’ve prepared for the worst, bad news become a better one. Yeap, entah bagaimana ketika diri telah siap akan kemungkinan terburuk maka apapun hasil buruk yang level keburukannya masih dibawah apa yang kita persiapkan terasa seperti berkah yang tak ayal patut disyukuri.

Ah, rasa-rasanya saya seperti berhasil lolos dari malaikat maut yang telah siap membacakan hukuman untuk selanjutnya siap mencabut nyawa saya. Seperti diberi kesempatan kedua. Seperti kembali diberi kesempatan untuk hidup lagi. Berlebihan mungkin, tapi saya sesungguhnya merasa seperti itu. Fortunate accident.

Sepertinya memang ada hal-hal yang mesti kita pelajari melalui proses yang cukup menghancurkan. Ujian diberi untuk membuka mata kita terhadap nikmat yang masih saja terlewat untuk disyukuri. Ujian diberi untuk Tuhan menyampaikan pesannya bahwa IA menyayangi kita dengan menitipkan banyak orang yang benar-benar tulus berdiri disekitar menopang kita agar tetap tegar. Rasa-rasanya tidak ada lagi yang perlu disedihkan. Toh ujiannya pun telah terlewati. Waktu singkat yang benar-benar menyita hati dan pikiran. Ah..

Saya jadi ingat dengan seorang yang saya jadikan salah satu tempat belajar. Dia bertanya ‘kenapa kamu harus cemas berlebihan akan segala yang tidak mampu kamu genggam sedang kamu masih sering bersujud padaNya. Ketika sudah Lillah ya sudah, semua beban percayakan saja padaNya’. Wah, saya serasa ditampar, lagi-lagi pelajaran tentang Lillah ini perlu saya kembali pelajari, belum juga tertanam cukup dalam dan belum pula teraplikasikan dalam keseharian. Saya jadi ingat perkataan Glo dalam film Demi Ucok ‘Takut itu tanda kau jauh dr Tuhan.’. Kalau sudah Lillah, pasrah, seharusnya tidak perlu lagi cemas, takut, dan semacamnya, kan sudah dititipkan pada Yang Maha Kuasa atas segala.

Benar kata Asma Nadia ‘Kebahagiaan akan menemukan bentuk yang semakin sederhana manakala ujian demi ujian menghampiri’. Kebahagiaan bagi saya saat ini dimulai dari setiap pagi dimana saya masih bisa membuka mata dan menemukan orang-orang tersayang dan menyayangi saya. Wajar saja kemarin saya takut mati setengah mati, karena saya lupa menjadikanNya tempat pulang, tidak aneh jika saya tidak pernah ingin kembali (persis seperti kata Tere Liye).

Yes, it was a fortunate accident. Thank you God! Good night pals!

Jakarta, 190114, 22.36

Advertisements

2 thoughts on “Serendipity – Fortunate Accident

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s