Malaikat Bumi


Cara kerja Tuhan memang gak bisa diprediksi. Manusia tak jarang sombong mengandalkan logikanya untuk menebak langkah Tuhan selanjutnya. Pada akhirnya, kalaupun terjadi seperti yang diperkirakan, tetap saja ada keistimewaan yang Tuhan sisipkan hingga kita mau tidak mau harus mengakui bahwa yang terjadi tak lain adalah andil dari campur tangan Tuhan.
Saya mendadak jadi inget drama serial Korea, Stairway to Heaven. Nonton film tersebut rasanya capek sekali, baru sejenak bahagia sudah langsung kembali tertimpa kesedihan, dan itu terjadi dari awal hingga akhir film. Film tersebut hanya skenario buatan manusia yang mengambil sedikit contoh kehidupan manusia dengan alur yang dibuat runyam. Pada kenyataannya, saya yakin Tuhan memberikan ujian dan kebahagiaan berimbang. Bukankah Tuhan tidak suka sesuatu yang berlebihan? Jadi sepertinya sangat tidak bijak menganggap Tuhan tidak adil dalam memberikan porsi ujian dan bahagia.

Saya jadi ingat lagi, banyak film percintaan yang salah satu pasangannya terkena penyakit dan divonis akan meninggal. Hampir selalu ada adegan dimana si pasangan yang akan meninggal tersebut pada akhirnya melepas pergi kekasih hatinya. Diikhlaskannya pasangannya untuk mencari cinta lain yang bisa membuatnya lebih bahagia. Bahkan tak jarang dibuatnya agar pasangannya membenci dirinya sehingga lebih mudah untuk berganti hati yang baru. Saya sering sekali kesal, kenapa tidak mati-matian dipertahankan jika memang keduanya saling mencinta. Tapi belakangan saya mulai sedikit memahami, justru keinginan untuk mempertahankan itu adalah bentuk dari egoisme satu pihak yang selalu ingin bahagia dengan tetap memiliki pasangannya. Padahal kalau memang sejati cintanya, tentu kebahagiaan pasangan letaknya seharusnya diatas kebahagiaan pribadi. Ternyata benar kata salah satu blog di huffingtonpost “true love is never about you, it’s about the person you love–their wants, their needs, their hopes, and their dreams. Selfishness demands, “What’s in it for me?” while Love asks, “What can I give?””.

Sebenarnya saya ingin bercerita soal malaikat bumi, nama yang saya beri untuk mereka-mereka yang hadir begitu saja tanpa diharap-harapkan dan pergi dengan banyak memori yang membahagiakan orang-orang yang ditinggalkan. Malaikat bumi bisa menjelma orang tua, sahabat, pasangan, pun orang asing. Mereka datang membawa kekuatan tambahan dan pergi berbekas bahagia. Mereka datang membawa satu kepingan kecil untuk menutupi keretakan diri, memberikan satu sunggingan senyum kecil untuk menambal kebocoran emosi. Mereka datang menjelma pelukan yang menghangatkan, menentramkan, juga memberikan rasa aman.
Malaikat bumi datang serupa embun pagi yang berkolaborasi dengan udara untuk perlahan menandai pagi sebelum mentari melenyapkannya. Mereka datang serupa berkah yang baru dirasai sepeninggal pergi. Mereka datang melambatkan hari dan mengajari cara menikmatinya. Mereka datang mengajari cara berterima kasih, mengingatkan bagaimana cara menjaga segala yang masih dalam genggaman. Mereka datang mengetuk pintu perbaikan diri, meminta kerendahan hati untuk lebih sering menampakkan diri. Mereka datang melalui hal kecil yang bahkan tak sempat menjadi memori dengan guratan jejak yang tak kan terhapus hingga kesekian hari.

Malaikat bumi datang dengan sangat biasa dan tak memukau, melenyapkan takut juga mengajari ketakutan yang pantas dimiliki. Melampaui kata, melebihi garis norma-norma, mengajar berkali maaf melewati batas kemanusiaan. Mereka menjelma menjadi banyak manusia, yang terus memberikan harapan akan menemani meski yang lain beranjak pergi.
Seperti L.

Serupa pelangi setelah hujan, serupa matahari setelah gelap, serupa kicauan burung musim semi selepas salju. Sesederhana payung di bulan Desember atau segelas air hangat disetiap bangun pagi. Datang untuk mengajarkan bagaimana berterimakasih atas kepanjangan Tuhan yang mengutusnya ke bumi.

Terima kasih Malaikat-malaikat bumi.

***

L,
Thank you for sharing your life with me. You made me realized that I’m blessed for whoever, whatever, and however I am right now. You accepted me as the whole I am. I wish you’ll always be in frame with me. Thank you for sharing your life with me, you are the best thing that ever been mine.

Jakarta, 241213, 15.34

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s