[Rekonsiliasi] Berdamai dengan diri sendiri


autumn-road-243281
“Ombak yg tenang tidak membuat pelaut menjadi tangguh.”

Begitu bunyi status salah seorang teman di media sosial. Yang membuat berlayar ke lautan itu jadi seru kan karena ada ombaknya, ada hujan badainya, ada saat terombang-ambingnya, sehingga pengalamannya lebih mengesankan. Yang membuat hidup jadi lebih seru kan karena tidak semua yang kita inginkan bisa diperoleh. Apalagi yang harus dicari kalau semua sudah didapatkan. Hidup jadi kurang seru.

Berawal dari ketidaknyamanan saya dituding sebagai seorang yang sulit mendengarkan oleh seseorang (sebut saja L), saya jadi ngambek dan memilih untuk tidak menyapanya untuk beberapa waktu. In the meantime, I’m questioning myself. I’m thinking a lot on the issue came up between us. Maybe I never really listen to anybody. Perlahan-lahan saya jadi tersadar bisa jadi saya marah bukan karena kritikannya tidak benar, justru karena yang disampaikan adalah apa yang benar-benar (disadari atau tidak) telah saya lakukan, tidak pernah benar-benar mendengarkan orang lain. Saya akui, saya memang masih belajar untuk lebih banyak mendengarkan yang juga membuat saya jadi belajar lebih peka terhadap apapun yang terjadi disekitar. Gak ada ruginya kan mengakui kesalahan, it won’t take away your pride or make you any uglier. 😀

Anyway, setelah saya sampai pada tahap mengakui diri, saya sapa kembali L. Tetap ada hal yang ingin saya koreksi dalam caranya menyampaikan beberapa kalimat yang cukup menohok diri saya, hanya saja saya simpan hal tersebut untuk disampaikan diwaktu lain. Ini bukan soal kalah atau menang, karena saya pasti akan berusaha untuk menjadi pemenang dalam kejadian ini. Ini soal menyelamatkan yang lebih penting dari sekedar kompetisi. Menurunkan ego, mengakui kesalahan, dan menyelamatkan hubungan dengan L. Lebay mungkin, tapi kejadian ini jadi simulasi kecil hal-hal besar yang sifatnya lebih prinsip yang mungkin terjadi (dengan siapapun) di masa datang. Saya memilih untuk berdamai. Berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan ego pribadi yang selalu ingin menang dalam hal apapun. Guess what? I found out that I enjoyed this a lot. I treasured both happy and sad moments. It’s like enriching my story with L.

Dalam beberapa tulisan lampau, saya pernah mengutip kata-katanya Opa Felix “Never extend any error”, dan saya berusaha mengingatnya. Selain itu juga “Never go to bed while you’re angry”. Saya ingin membiasakan diri menutup hari dengan perasaan tenang setelah menyelesaikan semua kegundahan di belakang. It feels so good. Jadi, andai saja teman-teman mengalami hal yang sama, mungkin pengalaman saya ini bisa dijadikan pelajaran. Once you about to do things that lead you on giving things up, just remember why you hold on for so long in the first place.

Most of the time, we’re angry because what anger us probably right. Becareful and never jeopardize your loved one. Make them realize how precious they are to you.

Jakarta, 311013, 16.26
***Intermezzo
Saya jadi ingat, kemampuan saya yang rendah dalam mendengarkan yang jadi penyebab saya rajin menulis. Menulis membantu saya merunut kembali kejadian demi kejadian dan mendengarkan diri saya dan orang lain dengan melihatnya dari luar kotak. Hanya saja dalam prakteknya masih suka lupa dipraktekkan didukung dengan kekurangan saya yang sulit berkonsentrasi.

Advertisements

2 thoughts on “[Rekonsiliasi] Berdamai dengan diri sendiri

  1. hehehe… long time no see mamiih… 😀
    pas banget… bedanya saya suka ‘pundung’ kalo dikritik orang, apapun itu. meski ngga nunjukin langsung sih… thanks aniway 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s