Worth the wait


6769558803_5f50ee6d5c_z

“Satu hal yang tidak bisa kita ubah adalah kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita terlahir dan keluarga seperti apa yang membesarkan kita.”

***

Pernah gak teman-teman berpikir bagaimana rasanya jika saja kita terlahir dan besar dari keluarga ningrat, atau jadi anaknya presiden atau keturunan raja di Eropa sana, atau malah terlahir dari seorang napi, atau besar tanpa pernah mengetahui siapa ayah/ibu kita, dan semacamnya yang tidak kita jalani saat ini? Pernah tidak, sekali saja berpikir demikian? Saya pernah banget berpikir begitu. Mungkin kita lebih sering mengandaikan diri kita menjadi bagian dari lingkungan yang kita anggap lebih baik dari lingkungan kita saat ini, sayangnya kita hanya bisa berhenti sampai pada mengimajinasikan. Kita tidak bisa meminta dimasukkan kembali kedalam Rahim ibu yang melahirkan kita dan mencoba mengajak Tuhan bernegosiasi mana tau kita bisa terlahir dari keluarga yang lebih baik dari yang kita miliki saat ini. Pernah tidak berpikir bahwa yang mengkhayalkan hal serupa tidak hanya kita. Mereka-mereka yang kita anggap memiliki pekarangan yang lebih hijau pun tak jarang berimajinasi andai saja mereka terlahir dari keluarga biasa saja namun lekat dengan kasih sayang dan kehangatan keluarga.

Ah, bicara soal membandingkan kehidupan rasanya kita tidak pernah akan cukup alasan untuk bisa protes. Tuhan sudah mengamanahkan kehidupan ini kepada hamba-hambaNya sesuai porsinya, sesuai ketahanan dirinya untuk mengemban amanah. Kalau mau terus melihat keatas sie akan selalu saja ada yang terbaik. Kita harus tau kapan kita harus berhenti bertanya dan mulai bersyukur.

Saya jadi ingat, suatu waktu saya pernah tercenung menyoal konsep yang terbaik. Kalau kita benar-benar menginginkan Tuhan menganugerahkan kita segala yang terbaik seharusnya tidak ada ambang batasnya. Karena ketika kita mulai memberikan batasan terbaik maka mulai dari saat itu pula kita tidak akan pernah sampai pada yang sebenar-benarnya terbaik menurut Tuhan. Contoh kecilnya ketika seorang anak kecil minta dibelikan sepatu oleh ibunya dan berkata “Ibu,, ibu., belikan adek sepatu yang paling bagus ya… Yang croc*s ya bu yaa…”. Nah, pernyataan seperti itu agak dilematis tuh. Kita meminta yang terbaik tapi sudah dibatasi merknya harus croc*s, padahal mungkin Kick*ers masih jauh lebih nyaman dikaki. Kesimpulannya, kalau mau bener-bener minta yang terbaik ya jangan tanggung-tanggung, percayakan sama Tuhan yang Maha Mengetahui segala yang terbaik untuk hambanya.

***

Maklum sudah berumur jadi agak susah lepas dari bahasan jodoh. Bicara soal jodoh, saya yakin semua akan sampai pada jodoh terbaiknya, hanya saja waktunya berbeda-beda (ngomong sambil ngaca). Ada salah seorang teman yang bertemu dengan belahan jiwanya diumur hampir 40tahun. Meskipun terlambat, tapi teman saya ini benar-benar bertemu orang yang tepat yang bisa menerimanya apa adanya dan bisa jadi sparring partnernya ngocol bareng. Haduhh…  senang sekali melihat si teman tersebut yang merasa tidak buang-buang waktu menunggu jodoh terbaiknya dari Allah. Atau kisah Putri Herlina seorang yatim piatu yang terlahir dengan fisik kurang sempurna yang kemudian menemukan jodoh seorang lelaki normal, baik hati, dan berasal dari keluarga baik-baik yang benar-benar dengan tulus dan sepenuhnya sadar memilihnya. Ah, seperti kisah-kisah di negeri dongeng. Dan bukan tidak mungkin satu dari kisah manis itu adalah kisah kita.

Saya jadi ingat obrolan dengan salah seorang teman soal jodoh. Teman saya berkata “Kalau mau nunggu siap sih gak akan pernah siap Histor, yang kita cari itu seseorang yang meskipun kita tau kita belum siap tapi kita berani menantang segala ketidakpastian masa depan karena bersama dia.” Ah, benar sekali. Seseorang yang benar-benar berani menemani kita yang masih ragu melangkah menghadapi segala ketidakpastian masa depan. Seseorang yang dengan dampingannya kita merasa cukup dan sempurna. Seseorang yang tidak akan kemana-mana meski kita menjadi tua, sakit, dan tidak lagi punya kebanggaan masa muda. Seseorang yang tetap memutuskan untuk bersama kita meski dia tau kita tetap tidak akan menjadi seperti yang mereka harapkan.

Umur, rejeki, jodoh, memang benar-benar rahasia langit. Jika ingin umur yang bermanfaat, rejeki yang berkah, dan jodoh yang baik, jadilah seseorang yang baik. Seperti pesan teman saya “Selama kita tau kita sudah menjadi pribadi yang baik, bergaul dengan orang-orang baik, dan berada di lingkungan yang baik, yakin saja, jodoh kita pun orang baik.”.  Apa yang ditanam, itu yang dituai, sederhananya seperti itu. Buatlah segala hal terkait pemanfaatan umur, keberkahan rejeki, dan kebaikan jodoh selayak lama tunggu kita mengusahakannya.

***

Berhubung judul sama isi tulisan rada dipaksakan dan berhubung saya lebih sering menulis suka-suka tanpa memperhatikan lagi kualitasnya, saya mohon maaf yaaa… Semoga dari coretan saya masih kacau ini tetap ada hikmah yang bisa diambil. Selamat menanti malam teman…

Jakarta, 241013, 16.42

Dear L, thank you for seeing me the way I am…

Advertisements

3 thoughts on “Worth the wait

  1. Agak melompat pembahasannya ya antara paragraf pembuka dengan isinya. Hehehe. Gw doain slalu yg terbaik buat histo “mak comblang” :)) Insya Allah penantian ini akan berbuah manis. Tetep istiqomah dan membuka diri. Wanita baik akan mendapat jodoh yg baik. Amin.
    -awank-
    Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s