Recall it



We need to remember why we started?

Sudah menjadi keniscayaan datangnya kebosanan bahkan pada hal yang paling kita sukai, setidaknya itu yang saya rasakan. Akan selalu ada titik jenuh terhadap sesuatu yang sudah terlalu sering dilakukan. Kebosanan yang ditimbulkan bisa jadi permanen dan biasa dibahasakan dengan ke-muak-an yang menghasilkan keinginan untuk menggantikannya dengan yang baru, bisa pula diartikan sebagai keinginan untuk memberi jeda sesaat untuk kembali mengerjakan aktivitas sebelumnya dengan semangat yang lebih tinggi.

Contoh kecilnya adalah kebosanan dalam dunia kerja yang berbuah menjadi keinginan untuk mencari pekerjaan baru atau keinginan untuk memiliki sebatas aktivitas tambahan. Tak jarang kebosanan semacam ini membuat kita hilang syukur karena terus mengikuti hasrat hati yang menginginkan hal yang lebih besar lagi. Untuk menghindarinya, kita seharusnya lebih sering mengingat-ingat kembali betapa bahagianya kita saat pertama kali mendapatkannya. Betapa hal tersebut mewujud sebagai keajaiban dalam satu fase hidup kita yang sempat tak habis-habis disyukuri.

Bukan tidak boleh kita mempersiapkan diri untuk hal yang lebih besar lagi. Tapi tidak lantas membuat kita jumawa dengan cita-cita dan lupa untuk mensyukuri apa-apa yang telah dimiliki. Never forget the first time it occurred to you like a miracle. Hal ini juga berlaku terutama dalam urusan hati. Belakangan ini saya sering bertemu dengan kasus-kasus kebosanan dalam hubungan pernikahan, dan saya sangat takut hal serupa terjadi pada saya kelak. Karenanya, saya berusaha sesering mungkin me-recall rasa bahagia yang tercipta saat pertama kali hal tersebut terjadi pada saya. Ah, untuk urusan hati saya berharap tidak punya terlalu banyak pengalaman agar tidak banyak celah untuk membanding-bandingkan satu dengan lainnya. Jika nanti kebosanan itu menghampiri, saya akan terus mengulang-ngulang video dalam kepala soal betapa bahagianya saat ‘dia’ menghampiri dan meminta saya untuk tinggal disisinya.

Hanya secuil pengingat diri yang sepertinya harus segera saya akhiri sebelum saya terjebak dalam khayalan jomblowati. Hahaa.. have a good day, everyone!

***

To my future : I’ll love you more than my past but less than my love for you in the future.

Jakarta, 300913, 14.29

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s