Tentang Menjadi Ibu


hug-mommy

Saya belum menjadi ibu dan saya tidak tau bagaimana caranya dan seperti apa rasanya menjadi ibu. Saya hanya berusaha mendulang ilmunya sedikit-sedikit dari ibu hebat yang saya miliki.

Belakangan ini setelah bekerja dan mulai berusaha menjadi kakak di rumah, saya menjadi lebih mengerti mengapa banyak orang berkata ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Menjadi ibu ternyata menjadi penanggung jawab pertama yang bertanggung jawab membentuk karakter seorang anak yang akan jadi bagian dari generasi pengubah masa depan. Seperti apa kita hari ini, hampir sebagian besarnya dibentuk dari didikan dari dalam rumah. Menjadi ibu kerap kali berarti menjadi kambing hitam ketika seorang anak berlaku tidak baik dalam komunitas social dan jarang mendapat apresiasi kala sang anak dihujani pujian. Ah, sulit dan tugas berat ternyata. Tugas berat yang diembankan tanpa imbalan yang pantas jika dicari balasan dunianya.

Beberapa kisah dari ibu baru saya pahami beberapa waktu kebelakang ini tentang bagaimana ibu membentuk pribadi saya dan adik-adik. Sebut saja saat dulu zaman SD saya dan adik bermain-main diarea dapur hingga menyebabkan termos air panas jatuh dan pecah. Saya dan adik saya pun mendapat hukuman atas perbuatan kami dengan terpaksa menyisihkan uang jajan kami untuk beberapa waktu agar bisa membeli termos baru. Belakangan ibu bercerita bahwa sebenarnya ibu sudah membeli termos baru keesokan hari setelah termos lama pecah, hanya saja ibu simpan terlebih dahulu agar kami belajar tentang bagaimana bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya.

Dilain waktu ibu bercerita kembali soal membangun mental. Dulu saat pertama kali saya dan keluarga diharuskan keluar dari Timor-Timur menjelang keputusan merdekanya Tim-Tim, kami tak punya pilihan selain menyelamatkan nyawa dan membawa bekal seadanya. Semua orang sibuk berlomba untuk segera menyelamatkan diri tanpa sempat berpikir soal semua pencapaian fisik dan finansial yang telah diraih disana. Bisa dibilang kami dan masih banyak eksodus Tim-Tim harus kembali meniti dari bawah. Masa-masa itu sangat mudah menjadikan sebagian besar eksodus Tim-Tim frustasi dan hampir gila. Saya dan adik-adik, yang pada saat itu masih di usia SD, pun menyadari bahwa kami akan melewati masa ekonomi yang cukup sulit. Saya dan adik sempat bertanya pada ibu “Bu, ibu sudah gak punya uang lagi ya?”, mempertanyakan kelanjutan hidup esok hari. Hebatnya ibu langsung menjawab “Oh, enggak, siapa bilang ibu gak punya uang? Tabungan ibu banyak, ssstt… jangan bilang-bilang orang ya, ibu Cuma pura-pura kok.”. Menjadi ibu juga berarti harus menjadi seorang yang mampu menenangkan orang lain (keluarga) dan tetap menjaga harapan serta cita-cita menjulang tinggi. Tidak sampai disana, tapi juga memastikan bahwa keluarganya bisa meyakini ketercapaiannya. Ah ibu, lagi-lagi saya hanya bisa bertepuk tangan kencang. Apa bisa saya setidaknya punya kemampuan-kemampuan seperti yang sudah ibu terapkan pada saya dan adik-adik?

Ibu sering sekali mengutip Kahlil Gibran, “Bangunlah rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya.”. Ibu selalu berkata bahwa semua mimpi mungkin dicapai, segala asa tak ada yang terlalu besar untuk diraih dan saya pribadi sudah membuktikannya dengan meraih satu demi satu mimpi dalam hidup saya. Ibu pernah berkata bahwa tak perlu selalu menempatkan anak dibawah ketiak hanya untuk memastikan mereka akan baik-baik saja diluar sana, beri kepercayaan dan buat mereka (anak-anak) menunjukkan bahwa mereka bisa dipercaya. Hal ini berkaitan dengan pertanyaan saya beberapa waktu lalu soal bagaimana cara ibu hingga berani melepas hampir kami semua jauh dari rumah tanpa ada masalah moral. Dan saya masih belum bisa benar-benar mendapatkan jawaban paling teknis, karena memang terbentuknya by process.

Ah ibu, lebih candu dari rindu. Semoga ibu masih diberi kesempatan membimbing saya hingga beranak-cucu kelak. Terlalu banyak ilmu yang belum saya pelajari.

Jakarta, 200913, 15.51

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s