Sayap Ibu


DSCF7495

Bocah kecil berbaju orange dengan kacamata yang tak pernah lepas, sibuk menghampiri ingin melihat hasil jepretan wajahnya. “Mana lagi? Mana lagi?” teriaknya sambil terus meminta saya memperlihatkan hasil foto. “Ini mamah siapa?” tanyanya kemudian. Saya yang ditanya sempat bingung, ini pertanyaan untuk saya? Dan setelah sempat tak bergeming beberapa waktu, saya jawab “Ini mamah Histor”, sambil senyum-senyum kecil.

Namanya Ferdi, terlahir dengan kondisi menderita katarak. Setelah dioperasi, Ferdi masih diharuskan menggunakan kacamata minus 10. Ah, lucunya bocah ini. Kenapa nasib mesti menggariskannya tumbuh tanpa dampingan orang tua?

***

DSCF7488

“Aplil”. Begitu celotehnya. Gadis kecil yang terus tersenyum ramah meminta diajak main sejak kami memperhatikannya dari luar ruang balita. Tidak terlalu banyak tingkah, hanya sibuk mengakrabi mamah-mamah yang datang mengunjunginya. Berbeda dengan Ferdi, April lahir dengan kondisi usus terburai keluar. Operasi penutupan telah dilakukan, namun belum sempurna. April tak mengerti apa yang berbeda darinya, dia hanya tau menikmati masa kecil dan bermain bersama teman sebayanya.

***

Tentang Sayap Ibu. Sebuah yayasan yang menampung anak-anak terlantar yang ditinggal orang tuanya setelah dilahirkan ataupun yang terlahir dengan tidak lagi memiliki orang tua (meninggal). Ada sekitar 19 anak yang sedang dibesarkan disana. Sebagian penyandang syndrome down, terbelakang mental, sebagian seperti Ferdi dan April, dan sisanya bayi merah yang terus dirawat intensif oleh pengasuh dan suster-suster disana.

Banyak yang mereka butuhkan disana, dan kebutuhan paling crusial adalah penyediaan susu bagi bayi-bayi dan balita. Saya sempat kaget mendapati harga susu yang mencapai sekitar 250ribu untuk ukuran 900gr. Belum lagi jika bayi yang mengonsumsi punya alergi, harga susunya mencapai 222ribu per 400gr. Ah, betapa saran Allah untuk kita menyusui langsung buah hati kita menjadi solusi yang sangat baik. Tidak lagi perlu biaya untuk mendapatkan asupan ASI kualitas nomor 1. Namun, mereka tidak punya pilihan selain mengonsumsi susu formula, ASI tak lagi bisa mereka peroleh dengan cuma-cuma dari ibu kandungnya sendiri.

Mana tau ada teman-teman yang ingin berkunjung atau ingin berdonasi, silahkan hampiri tempatnya langsung.

Yayasan Sayap Ibu

Jl. Barito II No.55, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Website : http://sayapibujakarta.org/panti/

***

Saya jadi tak habis-habisnya bersyukur. Apalah artinya beban yang saya emban dibanding dengan mereka yang harus tumbuh tanpa dampingan orang tua? Betapa beruntungnya saya yang dikenalkan tentang baik-buruknya, keras-lembutnya kehidupan dengan bimbingan orang tua. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”.

Ternyata kehidupan kita masih jauh lebih baik dibanding mereka. Masih terlampau banyak yang mesti disyukuri setiap saatnya. Tidak ada lagi alasan untuk tidak menyunggingkan senyum pada hidup ini. Segala yang diberi telah ditakar sesuai dengan kemampuan kita memikulnya. Segala yang terlihat lebih baik, sesungguhnya telah begitu adil dianugrahkan kepada tiap hambanya.

Hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan hanya untuk sibuk merutuki nasib. Hiduplah dengan penuh syukur dan bagikanlah kesyukuran kita kepada mereka yang punya kesyukuran berbeda dengan kita. Semoga adik-adik kecil di Yayasan Sayap Ibu tak pernah kehilangan motivasi untuk meyakini bahwa esok selalu ada janji kehidupan yang lebih baik.

Ah, Allah lagi-lagi membantu saya untuk belajar tentang hidup dan kehidupan.

Jakarta, 300713, 11.20

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s