Tentang Menjadi Diri Sendiri


survival

Suatu sore selepas buka puasa, saya dan teman yang sedang berkumpul berbicara soal kepribadian. Salah satu teman bercerita tentang betapa berbedanya dirinya saat berada di tempat kerja atau di rumah bersama keluarga dibandingkan dengan saat berkumpul bersama saya dan teman-teman. Teman saya menyoal bahwa dirinya merasa seperti memiliki kepribadian ganda. Dia merasa seolah tidak menjadi dirinya di beberapa tempat tertentu. Teman saya yang lain pun langsung menimpali bahwa tidak hanya dia yang punya masalah serupa.

Selidik punya selidik, sepertinya kami semua merasakan apa yang teman saya tadi utarakan. Ada tempat-tempat dimana kita bisa menjadi sebenar-benarnya diri kita yang ceria, banyak bicara atau terkadang jahil, sedang ditempat lain kita benar-benar menjadi seorang yang bertolak belakang memilih untuk lebih banyak diam, mendengarkan dan mengamati dari jauh dibanding menimpali dan turut serta dalam obrolan. Setelah sempat berdiskusi, kami menyimpulkan bahwa menjadi orang yang berbeda di tempat yang berbeda bukanlah suatu persoalan. Di beberapa tempat memang kita butuh untuk menjadi orang yang lebih banyak diam dan memperhatikan atau sering terkesan jaga image (jaim) agar lingkungan juga bisa lebih focus pada profesionalitas kerja kita. Di tempat lain saat berkumpul bersama teman akrab kemudian kita menjadi lebih ceria dan apa adanya karena kita ingin membangun kehangatan hubungan yang lebih intim antar individunya.

Pada awalnya, saya yakin, kita pasti berusaha untuk menjadi apa adanya diri kita. Hanya saja, seiring berjalannya waktu dan seiring bertambahnya pembelajaran dari pengalaman dalam komunitas social ditempat kita bernaung, kita memutuskan untuk hanya menunjukkan sebagian dari diri kita dalam rangka penyesuaian diri di tempat tersebut. Kan tidak lucu kalau kita menjadi seorang yang tak henti-hentinya berkelakar ditengah teman-teman pekerja yang lebih banyak melibatkan kita dalam pembahasan proyek-proyek yang penuh keseriusan.

Saya sama sekali tidak menyarankan untuk kemudian tidak menjadi diri sendiri dibeberapa tempat tertentu (seperti kantor), hanya saja sesuai dengan porsi kebutuhan komunitas social tempat kita berpijak. Tetap jangan kehilangan karakter diri yang sudah terbentuk sekian lama, hanya lebih dikontrol saja kapan harus menjadi seperti apa.

Ah, sepertinya pembahasan ini hanya mengawang-awang, tidak jelas dimana intinya, tapi semoga saja ada yang mendapat manfaat. Tetaplah jadi apa adanya diri kita, tombol kendali dirinya lebih sering diaktifkan saja agar tau kapan harus bagaimana. Yang penting, jangan jadi orang lain!

Buka masih 3,5jam lagi 😛

Jakarta,  260713, 14.22

Advertisements

One thought on “Tentang Menjadi Diri Sendiri

  1. Setuju ama histor,,,kadang- kadang nampak seperti dua kepribadian …2 kepribadian dengan 2 tempat yang berbeda …ini tercermin bgt pas kuliah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s