Pembunuhan Karakter


1280-i-care-app

Ingin melihat karakter suatu bangsa, salah satunya bisa dilihat dari tayangan televisinya. Begitu kira-kira kesimpulan saya setelah mengunjungi beberapa negara dan membandingkannya dengan Indonesia. Seperti saat di Korea, banyak sekali acara TV yang berupa reality show permainan-permainan kreatif yang bertujuan untuk menghibur penontonnya. Pada saat saya hang-out  dengan teman-teman Korea saya, yang mereka lakukan untuk killing time  ya main games, ya saat piknik di taman, saat di bus akan field trip kemana, atau bahkan saat makan malam bersama. Jadi ingat kreativitas tim kreatifnya variety show Korea RUNNING MAN. No wonder mereka punya segudang permainan, lha wong tiap harinya main melulu.

***

Berbeda dengan Pakistan. Walaupun saya tidak mengerti bahasa Urdu, namun saya bisa menangkap garis besar berita di TV Nasionalnya. Setiap harinya pasti ada berita suicidal bombing. Setelah saya diskusikan dengan salah seorang teman Pakistan, ternyata motifnya tidak melulu agama, banyak juga yang ditumpangi motif politik atau untuk tujuan pengalihan isu. Berdasarkan kuliah umum yang diberikan oleh salah satu pakar bom di Pakistan, Dr. Zeeshan Ahmad, ternyata banyak diantara pelaku bom bunuh diri yang benar-benar tidak tahu bahwa paket yang mereka bawa adalah bom dengan kontroler jarak jauh. Wah, maaf nih saya jadi sedikit out of topic. Jadi intinya, memang benar di Pakistan banyak terjadi bom bunuh diri tapi tidak selalu karena motif untuk berjihad mengatasnamakan penegakan Islam dimuka bumi. Dan kejadiannya pun sebagian besar di daerah perbatasan terutama perbatasan Pakistan-India, Kashmir. Apa yang kita dengar disini? Pakistan tidak aman, terlalu berbahaya terutama untuk orang asing dari dunia Barat. Nyatanya, Pakistan merupakan Negara yang cukup aman untuk dikunjungi dan masyarakatnya tidak se-radikal yang kita bayangkan. Saya pun banyak menemukan orang asing disekitar blue area dan tempat-tempat umum lainnya.

Tak ubahnya Indonesia, bagi banyak rekan kerja orang Jepang dikantor saya (yang belum pernah berkunjung ke Indonesia sebelumnya), mereka membayangkan bahwa Indonesia sangat under-developed, dan akrab dengan anarkisme Muslimnya. Saat tiba disini, mereka terheran-heran melihat banyaknya gedung tinggi, merk-merk terkenal, juga melihat Masjid Istiqlal bersebrangan dengan Katedral. Bahkan bagi mereka, Jakarta sudah masuk dalam hitungan kota besar dunia. Mengapa mereka bisa berpikir demikian? Karena pencitraan di media internasional lebih banyak mengeskpose kekayaan alam dan budaya di daerah pelosok. Wajar saja mereka punya bayangan seperti itu. Begitu pun media internasional memberitakan Pakistan yang melulu diwarnai bom bunuh diri. Tak ayal dunia pun enggan mengunjungi Pakistan, seperti saat konferensi saya disana dimana H-10 hari banyak peserta yang gagal berangkat karena pemberitaan serupa itu.

***

Bergeser sedikit kearah Eropa, sejak sebelum saya berangkat ke Jerman teman saya sudah mewanti-wanti. Jangan lihat acara TV mulai pukul 8 malam keatas, isinya jualan semua. Wow. Khawatir juga sie. Teman sekamar saya justru semakin penasaran setelah diperingatkan seperti itu. Walhasil, saya sempat melihat tayangan jualan yang benar-benar membuat saya bergidik ngeri. Jam 8 kan masih besar kemungkinan anak-anak SD terbangun dan tak sengaja mencuri lihat tayangan jualan tersebut. Astagfirullah… Saya jadi tidak aneh dengan maraknya free sex terutama di Negara-negara Eropa dan Barat sana. Saya jadi ingat, saat dibawa city tour dengan staff kedutaan kedaerah Frankfurt am main, ada sex shop yang kita lewati dan itu tidak hanya disatu titik. Alcoholic dan pecandu Narkoba pun mudah kita temui karena memang dilokalisasi didekat haupbanhoff (stasiun kereta).

***

Kembali lagi ke Indonesia dan tayangan televisinya sebagai citra dari wajah suatu bangsa. Kita punya segudang acara infotainment di setiap channel TV yang bisa di temui mulai dari dini hari hingga larut malam. Wajar saja kalau masyarakatnya jadi dididik untuk mudah kepo  akan urusan orang lain. Lebih sering pula yang dibicarakan belum tentu kebenarannya dan jaringan komunikasi dari mulut ke mulut (yang difasilitasi oleh berita dari media) dengan begitu mudahnya bisa memporak-porandakan hidup seseorang yang diberitakan.  Dalam Islam, bahkan yang sudah jelas kebenarannya saja tetap digolongkan menjadi ghibah, yang diibaratkan sama dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Dengan kata lain, benar ataupun tidak, yang namanya membicarakan aibnya orang lain selain tidak ada untungnya dan hanya menambah dosa, juga berpotensi membunuh karakter orang yang dibicarakan. Beritanya belum tentu benar tapi reputasinya dan nama baiknya sudah terlanjur tercoreng bahkan sulit diperbaiki hingga ke generasi selanjutnya. Naudzubillahimindzalik,,, 

Nah, sekarang saja jadi pusing membuat benang merahnya. Ah, intinya semoga teman-teman bisa lebih selektif dalam mengonsumsi tayangan televisi atau berita dari media manapun, agar tidak terjebak pada fitnah dan atau ghibah. Tetaplah berpositive thinking, coba selalu cari sisi baik dari setiap orang yang kita nilai, sisi buruk pastinya tidak akan luput, namanya juga manusia yang ditugaskan untuk iqra  (membaca = belajar). Coba untuk lebih peduli tanpa harus kepo.

Jakarta, 260713, 16.40

“If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are. Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable.”

-Robert Pattinson

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s