Keikhlasan


let-go-2

Tidak terasa bulan Ramadhan yang dinanti-nanti sudah di depan mata, namun rasanya kesiapan diri belum juga sampai pada titik optimal. Ah, sayang sekali sepertinya kalau Ramadhan kali ini terlewatkan begitu saja tanpa ada usaha lebih untuk mendulang keberkahan di setiap detik yang akan terlewati. Langsung teringat dikuncinya setan-setan di setiap bulan suci ini, tak lupa pula pelipatgandaan pahala bagi setiap amal baik yang dilakukan. Sudah sangat layak untuk kita mengkhususkannya dari bulan-bulan lainnya.

Berbicara soal amalan, tidak satu dua kali saya kerap bertanya, bagaimana agar amal baik yang telah dilakukan tidak berkurang kebaikannya, salah satunya mungkin dengan sesering mungkin mengecek kembali keikhlasannya. Tak jarang saya temui (bahkan saya sendiri menjadi pelakunya) amal-amal baik yang diumbar melalui media sosial, yang pencitraannya bisa ditangkap siapa saja tanpa bisa kita control. Saya sering menyayangkan hal ini, mungkin tujuannya baik untuk mengingatkan hanya saja tak luput tertangkap juga penginformasian bahwa si pelaku telah mengamalkannya. Saya yakin bahwa tujuannya sama sekali bukan untuk riya’, tapi akankah lebih baik jika siapapun yang merasa teringatkan tidak mendapatkan kesan-kesan riya’ tersebut.

Saya punya sedikit tips untuk menghindari terjebaknya kita pada riya’-riya’ halus yang sangat mungkin jadi lintasan hati yaitu dengan memberikan penjelasan, contoh-contoh, atau bentuk-bentuk pengingatan dari cerita-cerita Nabi dan Rasul juga para sahabat atau tokoh-tokoh yang bisa dijadikan rujukan. Tujuan kita untuk mengingatkan tetap tercapai tanpa perlu mengumbar apa-apa yang sudah kita kerjakan. Ada juga contoh kasus yang seringkali menampilkan audio yang sedang didengarkan. Tak jarang orang-orang diluar sana menganggap hal tersebut sebagai sebentuk pengumuman bahwa saat ini si pengguna gadget sedang membaca alma’tsurat atau sedang menghapalkan surat Al Mulk, atau mungkin sedang mendengarkan ceramahnya Ustad siapa mengenai apa. Saya yakin dan percaya bahwa tidak ada niatan buruk untuk showing of kemampuan atau kedalaman ilmu, hanya saja tidakkah lebih baik jika hal-hal tersebut tidak ditampakkan. Bukankah bahkan ketika tidak satu makhluk pun menyaksikan kita beramal baik, Allah tetap selalu tau dan akan menghitung amalan kita? Tidak ada satu hal pun yang luput dariNya, jadi tak perlu lah mencari-cari credit dari sesama makhluk, mereka pun tidak mampu menaikkan derajat kita bukan?

Mungkin sedikit berlebihan, tapi bagi saya bahkan surga pun sebaiknya tidak dijadikan harapan atas setiap amal baik yang dilakukan, agar amalan kita tidak ternodai dalam prosesnya. Surga kan tetap akan jadi reward untuk mereka-mereka yang telah Allah pilih tanpa harus mengharapkannya berlebihan hingga mengurangi kemurnian ibadah kita yang hanya diniatkan untuk Allah. Semata-mata demi menjaga keikhlasan beramal.

Hal lain yang perlu juga kita persiapkan menjelang Ramadhan adalah saling memaafkan. Masih berkaitan dengan tema keikhlasan, kerelaan untuk membiarkan luka lama sembuh perlahan dengan tidak lagi mengingat kejadian menyakitkan yang pernah dilakukan orang lain pada kita. Forgive like you have amnesia. It’s not easy, it’s seriously hard, tapi keikhlasan bisa meringankan proses penyembuhannya. Ikhlas memaafkan, try to love them again like they’ve never hurt you. Saya jadi ingat kalimat bijak love your enemy, that way you’ll get your victory. Nah jadi makna kemenangannya bukan setelah kita berhasil membalas perlakuan mereka setimpal dengan rasa sakit yang pernah kita rasakan, tapi kemenangan sesungguhnya ketika kita bisa memaafkan mereka dan kembali belajar menyayangi mereka lagi. Become softer will not (and should not) make you weaker, in fact it shows your strength.

Baiknya apa yang saya tulis hari ini bisa kita terapkan bersama tidak hanya menjelang bulan Ramadhan saja, tapi juga di bulan-bulan selanjutnya, aamiin. Nah, sebelum saya akhir tulisan ini, saya mohon dibukakan pintu maaf atas segala khilaf yang sempat saya lakukan disengaja ataupun tidak, semoga kita semua bisa menjalani Ramadhan kali ini dengan lebih khusyuk dan lebih akrab dengan aktivitas mendekati Allah.

Selamat sore…

Jakarta, 080713, 16.14

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s