Kembali Kepada Allah


Enjoying the sun

Suatu sore, seorang teman berkata ‘Histor, don’t worry, everything’s gonna be just fine..’, dan saya langsung bingung ‘why did you say that? Am I look sad to you?’, teman saya tersebut menjawab ‘Mungkin gw terlalu sensitif but I can see that you often feel sad inside..’. Ahahahaa, saya hanya terkekeh dan menyanggah ‘I’m fine and thank’s a lot for saying those words..’, sambil mengingat-ngingat kembali, apakah saya tanpa sadar sudah sering mengekspose kesedihan ke khalayak ramai melalui media sosial? Ah, g keren banget kayaknya kalau ternyata benar saya sudah melakukannya.  Saya pun jadi berpikir, apakah saya kehilangan kemampuan saya mengontrol ekspresi wajah? Wah, ini sama gak kerennya nih, ‘share only happiness and keep the sadness yourself’, begitu seharusnya.

Anyway, ngomong-ngomong soal kesedihan,  saya jadi ingin berbagi sedikit cuplikan ceramahnya AA Gym. Ada salah seorang jamaah yg bertanya ‘kenapa ya A ketika saya lebih mendekatkan diri kepada Allah, saya malah merasa ujian yang diberi makin banyak?’. Sambil manggut-manggut saya menanti-nanti jawaban AA Gym, begini kurang lebih kata beliau ‘Allah itu ingin kita kembali dalam keadaan bersih. Allah kasih kita ujian disaat kita mendekat padaNya justru sebagai bentuk kasih sayangNya yang ingin membantu membersihkan hambaNya dari dosa-dosa yang tidak cukup dibersihkan hanya lewat tobat dan beramal baik. Allah beri ujian dan kepahitan untuk mempercepat pembersihan diri, sekaligus juga mengetes keimanan hambaNya pada keputusan Allah. Kira-kira niatan untuk berserah diri pada Allahnya sudah 100% belum nih, atau jangan-jangan masih ragu sama putusan terbaiknya Allah buat kita. Kalau memang sudah sampai pada keyakinan tertinggi pada Allah, seharusnya tidak akan lagi ada pertanyaan ‘mengapa’ dan seharusnya tidak lagi ada rasa terbebani. Sesuatu akan terasa membebani kan karena ketiadaan keikhlasan dalam menerimanya, bukan? Coba kalau kita ikhlas, pasti gak akan jadi beban, alih-alih jadi hal menyenangkan yang dinikmati setiap inci perjalanannya.

Bentuk keikhlasan kita ketika mendapatkan ujian adalah dengan mempercayakan kembali pada Allah. Allah tau yang terbaik, kita cukup mengucap اِنّا لِلّهِ وَ اِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ, semua berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya. Sesuatu akan kembali karena kemarin pernah pergi, bukan? Nah, dunia yang memang dari awal tidak pernah benar-benar kita miliki kenapa harus sulit untuk dilepas pergi? Pada akhirnya juga kita tidak akan bisa membawa apapun (bahkan berjenis-jenis emosi kasat mata) saat mati dan dijadwalkan kembali kepada Allah, bukan?. Kenapa kita susah payah sekali sepertinya menjalankan hidup di dunia? Sayang sekali ya jika tujuannya hanya dunia yang pada akhirnya tidak bisa dijadikan bekal setelah kembali pada Allah. Ah, sebenarnya, susah payahnya kita karena masih belum ketemu formulanya saja. Sama seperti sedang ujian semester, yang bikin pusing gak karuan kan karena kita gak tau jawabannya, bukan karena soalnya yang susah. Itu tuh tugas kita, mencari jawaban untuk pada akhirnya menyelesaikan misi dunia dan berharap kembali tanpa beban. Well, memang gak semudah meyeh-meyehnya saya diblog ini, tapi kita selalu bisa memberikan ruang pada keikhlasan untuk menyederhanakan kesulitan yang dihadapi.

AA Gym bercerita lagi ‘ketika suatu hari seorang anak pulang dalam keadaan kotor dan bau dan menolak disuruh ibunya mandi, apa yang kira-kira ibunya lakukan? Membiarkan anaknya tidak mandi atau justru memaksanya mandi dan bebersih diri? Tentu saja ibu yang sayang anaknya akan memaksanya mandi agar bersih dan kembali wangi. Begitu juga Allah, Allah pengen memaksa kita yang sudah berniat ‘kembali pulang’ untuk tetap mandi agar kembalinya dalam keadaan bersih dan enak dibaui, untuk itu Allah beri ujian-ujian penggugur dosa’. Jadi, gak perlu sangsi lagi menyoal ujian yang malah semakin menjadi-jadi saat keteguhan untuk mendekat kembali padaNya semakin kokoh, ujian tersebut justru bentuk dukungan Allah pada kita.

Ayo kita berlomba kembali kepada Allah dalam keadaan paling bersih. Gak perlu lagi ada polesan sedih berlarut-larut apalagi bermuka masam sambil bersungut-sungut. Keep it to yourself and trust Allah for whatever offered by future.

Jakarta, 240613, 23.23

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s