Pertemuan [Lara- Dewa]


forget-your-first-love

‘Hidup ini keras, dear’. Persis kalimat dan intonasinya, joke yang sama diujung obrolan yang mendadak berubah berat. Cara yang sama untukmu mengakhiri pembicaraan yang hanya membuat kita tidak lagi bisa menikmati hidup seperti apa adanya hari ini.

‘Jadi, apa tema yang kamu angkat minggu ini untuk pendengar-pendengarmu yang katanya romantis itu?’, sambil bergidik kau berpura-pura tertarik dengan tema siaranku besok sore. ‘Ah, udah gak usah basa-basi, syaraf romantismu juga gak akan mendadak tumbuh lagi setelah aku ceritakan tema siaranku besok’. Kau tergelak kecil, ‘hey, I just did what you called romance. Asking bout your activity is part of being romantic dear Lara’. Part of enjoying you being you is where I found the romance, gumamku.

‘Eh, masih inget gak? Kita kan kenalnya justru karna siaranku yang kamu hina itu.’. Kita mendadak sibuk menekuri ujung langit dan terdampar pada satu memori yang sama. ‘Sampai sekarang, aku masih gak habis pikir, kenapa kamu yang mengaku begitu logis sampai seniat itu mengirimkan email protes tentang tema-tema romantis yang katamu terlalu dipaksakan? Why did you listen to it at the first place?’. Aku tertawa kecil mengingat-ingat kembali isi emailmu yang seperti kebakaran jenggot mengutuki kelihaianku menggali setiap hal dengan manis dan romantis. Katamu aku sedang membuai mereka yang tak berani menghadapi kenyataan bahwa dunia nyata jelas-jelas tak seindah dan tak sehangat angin musim semi yang aku umbar-umbar di radio.

Kau terdiam, kembali sibuk menekuri tiap helai daun kering yang berserakan di hamparan hijaunya rumput. ‘Karena aku mulai muak dengan ketidaksabaranku mengalami keromantisan dari tiap hal kecil yang kamu jual kepada setiap pendengarmu. Entah kenapa, aku jadi makin ingin bertemu kamu.’. Suara angin yang begesekan dengan dedaunan mendadak lenyap, dan seketika degup jantungku seolah diperdengarkan dari pengeras suara. Aku menunggu dengan sangat kata selanjutnya yang sedang kau rangkai.

‘Aku yang sedang berada di kota paling romantis sedunia pun masih belum bisa bertemu hal romantis bahkan dari pertunjukan-pertunjukan cinta disepanjang hari disekitar menara. Banyak yang menekuk lutut dan berteriak keras menyatakan isi hatinya, bagiku terlihat seperti orang bodoh yang tak sedang berada dalam kewarasannya akan apa yang ia corengkan dalam sejarah hidupnya. Entah kenapa streaming radio yang gak sengaja aku dengar di flat temanku membawa tuts keyboardku untuk mengenalmu lebih jauh dari perbedaan pandangan kita.’, aku menelan ludah dan masih duduk kaku menantimu mengujungi kalimat-kalimat tadi. ‘Lalu aku berpikir untuk mengajakmu melakukan hal gila demi keromantisan yang biasa kau rangkai diantara cerita-ceritamu -yang entah nyata entah palsu-.’.

Tiap jengkal langit telah aku telusuri, aku mulai hafal dengan bentuk awan yang ada disekitarnya, mulai terhitung ada berapa jumlah burung yang sudah melintas, dan mulai tak kuasa menunggumu menyelesaikan kata-kata. ‘Aku langsung saja menantangmu untuk mengenaliku tanpa clue apa-apa selain nama yang ada di alamat email yang aku kirimkan padamu’, katamu lagi. ‘Aku ajak kamu bertemu di bandara bermaksud menantang hati dan logikaku sendiri yang rela aku akui kekalahannya jika saja kau benar-benar mampu menemukanku.’.

Ah, Dewa.. Tahukah kamu? Karenamu aku benar-benar percaya mimpi gombalku bisa berubah nyata. Setelah membaca email darimu, aku langsung mencari segala cara untuk bisa menemukanmu. Mungkin seperti berkhianat dengan hati dan romantisme yang seharusnya terjadi tanpa rencana dan tanpa bekal observasi apa-apa. Tapi aku terlalu ingin kamu percaya bahwa romantisme rasa bisa kita ciptakan dan aku akan membuatmu mempercayai keajaibannya. Susah sekali menemukanmu dijejaring dunia maya yang tiap posenya tak pernah menampakkan foto jelas wajahmu, entah kenapa aku merasa kita pasti akan bertemu, bahwa kamu tidak hanya sekedar datang tanpa aba-aba dan tidak akan menghilang tanpa jejak.

‘Hey, jadi bagaimana kamu menemukanku?’, aku terhenyak dari lamunanku. ‘Aku bisa membaui keberadaan hatimu yang kerontang dari romantisme rasa.’, jawabku sekenanya. ‘Ah, gak logis!’, ‘hey, yang penting aku bisa menemukanmu dan kamu harus mulai memberikan ruang untuk hatimu merasa lebih dari fikirmu.’.

Aku sibuk mempercepat langkahku kesana kemari berharap segera menemukan petunjuk hadirmu disana. Semesta membisu sekian lama, tak kunjung datang tanda untukku bisa menemukanmu. Sampai satu ketika tak sengaja aku tersandung troli yang membuatku tersuruk tepat dibelakang koper bertuliskan ‘Dewa – Noisy Champ’. Aku sempat tak percaya dan tergugu sekian ratus detik. Segera kubenahi pakaianku dan menepuk pundakmu dari belakang ‘I found you! Lara..’, sembari aku menjulurkan tangan. Kau tak mampu lagi menutupi keterkejutanmu. ‘Hey, Dewa. You found me!’, sepersekian saat sorot matamu masih menyiratkan ketidakpercayaan.

‘Ngelamun lagi deh. Hey dear, thanks anyway for finding me there at that time. We’re meant to meet each other that way.’. Aku tertawa, ‘I found you, that’s all that matter, don’t ask me how. We’re destined. No more explanation.’. Sekilas kulirik kembali cincin di jari manisku. Thank God for taking a part on my story, ucapku lirih.

Jakarta, 070413, 13.26

-fiksi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s