A step upward


Yes-I-did-it

Jadi ceritanya saya baru sadar kalau saya sudah lebih baik dalam menghandle kecemasan saya yang berlebih. Cemas berlebihan itu berefek pada panik tak kenal waktu. Karena semua hal dikhawatirkan dalam satu waktu, walhasil otak jadi suka butek duluan padahal yang dikhawatirkan juga masih kemungkinan yang belum tentu terjadi. Ibu selalu bilang ‘kakak, jangan semuanya dipikirin sekarang, besok juga tetap dihadapi kan? Satu-satu dipikirkan di waktu yang seharusnya, jangan sampai hidup hari ini jadi gak nikmat karena hal yang belum tentu terjadi besok.’. Dan saya baru benar-benar bisa menerapkannya akhir-akhir ini setelah dengan terpaksa tidak boleh menampakkan kecemasan dihadapan orang lain yang belum tentu dalam tenang pun mereka suka dengan apa yang kita kerjakan. Lama-lama, saya jadi benar-benar bisa belajar tenang dan hasilnya semuanya jadi lebih terkendali. Sayanya yang menjalaninya juga tidak capek. Alhamdulillah..

Nah, setelah saya benar-benar mulai bisa menerapkan sedikit demi sedikit ilmu untuk tidak panik, ternyata hari-hari selanjutnya pelajaran yang saya pelajari meningkat kadarnya. Saya diharuskan untuk belajar membuat orang lain tidak panik (yang hanya bisa dilakukan jika saya sudah berhasil mengendalikan kepanikan saya). Hal demi hal yang terjadi membuat saya diceramahi ibu saya kembali ‘nah, kakak harus yakin dengan pertolongan Allah, dan jangan buat orang lain khawatir. Tenangkan saja orang lain dengan menyampaikan hal-hal baik seperti yang direncanakan sebelumnya, setelahnya kakak tetap maksimalkan ikhtiar dan memasrahkannya sama Allah saja. Kan dulu kakak yang bilang kalau Allah bisa melakukan apa saja, yakinnya gak boleh setengah-setengah.’. Malu deh jadinya, dulu berbagi ilmu, eh ternyata penerapannya saya belum 100%. Saya jadi berpikir, wah wajar ya ayah dan saya juga adik-adik selalu tenang kalau berbagi apapun dengan ibu, ternyata bukan karena ibu punya segala solusinya tapi karena ibu punya kemampuan menenangkan orang-orang terkasih melalui pembagian keyakinannya akan kekuasaan Allah. Ah, kerja ibu memang bukan kerja sembarangan, pekerjaan mulia.

Pada akhirnya saya menyadari bahwa hari ini saya harus belajar lebih dari apa yang sudah saya pelajari di hari kemarin. Bahkan lebih cepat sebelum sepenuhnya pelajaran kemarin saya terapkan. Terngiang kembali perkataan ibu ‘kakak itu pengganti ibu, kakak sudah bisa ibu berikan tanggung jawab yang besar, adek sudah tidak dipungkiri lagi kesabarannya paling hebat, dan yunda dengan pengorbanan yang paling dahsyat. Anak ibu semuanya sudah besar, sudah bisa ibu percayakan banyak hal. Ibu kaya sekali punya anak-anak seperti kakak dan adek-adek..’ Ah, tidak ada yang lebih membanggakan lagi selain bisa diandalkan oleh ibu.

Ibu, ketika ceritamu sudah berganti tentang betapa menyedihkannya meninggalkan satu kali ibadah sunnah saja, tentang betapa sayangnya ibadah tidak tepat waktu, rasa-rasanya tidak lagi ada yang lebih membahagiakan. Dengan caramu dan kuasa Allah, ibu selalu bisa mengingatkan kita kembali kepada jalan Tuhan. Good luck mom,, God will look over you for sure.

Whenever a tree loses its leaf, a new leaf is ready to take its place, so why worry about losing anything when everything is gonna get replaced? Running away from our problems is a race we’ll never win, face it and pass it. Move one step upward..

Jakarta, 040413, 00.49

‘You keep me flying 
You keep me smiling
You keep me safe in a crazy world
You understand me
Embrace my fragility 
You keep me safe in a crazy world
And in your arms I find the strength 
To believe in me again’
-Corrinne May-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s