A Moment of Silence


Break_The_Silence_by_shutte

Akhirnya, istirahat juga walaupun harus ‘dipaksa’ sama Allah.. Benar-benar enak sekali rasanya sehat setelah sakit dan terbaring di rumah sakit tanpa bisa ngapa-ngapain.. Pasrah mau disuntik dimana, disuruh makan apa, ditensi dan diambil darah kapan saja, udah gak bisa milih, demi kebaikan tubuh..

Nah, selama di rumah sakit yang kerjaannya cuma berbaring dan berbaring lagi, saya jadi punya ‘moment of silence’ yang melimpah ruah. Segala sesuatu disekitar jadi lebih terlihat, lebih terperhatikan.. Lebih banyak juga waktu utk memikirkan hal-hal yang sedang terjadi dalam hidup saya. Mulai dari menatap sembari menghitung tetes demi tetes infus dan membandingkan kecepatan tetesnya dengan infus lainnya, mendengarkan instrument saxophone semacam Keny G yg membawa saya pada ide utk seniman Indonesia memproduksi hal serupa khusus lagu Indonesia asli, meresapi kata per kata lirik lagu heal the world, sampai membayangkan mungkin saya akan bertemu jodoh diantara dokter dan perawat yang menangani saya yang sayangnya sebagian besarnya adalah perawat dan dokter wanita. Anyway, banyak hal yang jadi lebih tertangkap karena saya punya banyak waktu sendiri dan berdiam.. Saya jadi berpikir, nanti saya akan mengusulkan kepada pasangan masa depan saya untuk duduk berdua dan hanya diam, menikmati setiap momen yang terlewati untuk memperkuat ikatan non-verbal diantara saya dan dia.. Ah, lagi-lagi terjebak topik jodoh.

Saya juga sempat sampai pada perenungan, ‘Bagaimana jika pertemuan saya dengan orang-orang sebelum saya sakit adalah pertemuan saya yang terakhir?’, ‘Kesan terakhir apa yang telah saya tinggalkan?’, ‘Bagaimana saya akan dikenang?’, ah, banyak sekali yang terlintas dipikiran. Saya jadi ingat kakak kelas saya yang baru saja menutup usia dipenghujung tahun 2012, balasan DM twitter saya pun tidak sempat terbalas karena almarhum lebih dulu dipanggil Sang Maha Pemilik Manusia. Overthinking bisa jadi, lebay mungkin, silahkan tertawa, tapi kan memang ajal tidak ada yang tau kapan datangnya bukan? Saya bisa saja diakhiri kontrak hidupnya kemarin saat dirawat di rumah sakit atau mungkin setelah sembuh disaat sedang melenggang dengan santai di tempat yang aman dan jauh dari bahaya, ajal tetap saja misterius dan tidak bisa ditebak-tebak, datangnya tidak pilih tempat, waktu, dan keadaan. Masih ingat kasus Afriani? Kurang aman apa pejalan kaki yang berjalan memang ditempat yang seharusnya, atau malah yang sedang duduk dipinggir jalan? Ketika Allah bilang ‘Kun fayakun’ semua bisa terjadi. Astagfirullah, jauh dari siap rasanya mengingat dosa masih jauh dari bisa tertutupi dengan sedikit kebaikan yang pernah dilakukan.

Nilai kekal apa yang pernah saya tinggalkan untuk hidup yang sementara ini? Nah, itu salah satu pertanyaan yang benar-benar jadi PR buat saya. Saya selalu ingin bermanfaat buat orang lain, tapi saya rasa usaha saya belum optimal, masih jauh dari keinginan saya untuk bisa bermanfaat.. Saat menonton Kick Andy disela waktu istirahat panjang saya, pernyataan mengenai meninggalkan kekekalan di hidup yang sebentar ini benar-benar membuat saya iri dengan mereka dengan umur yang beda tipis dengan saya tapi sudah berkarya banyak untuk orang lain. Saya masih sampai pada batas niatan, belum juga sampai tahap eksekusi. Hal kecil saja yang saya niatkan dari dulu untuk membukukan tulisan yang mungkin bermanfaat bagi yang lain belum juga terealisasikan. Ah, malu rasanya.

Banyak alasan pada awalnya, apalagi kebelakang ini memang hidup sedikit keras rasanya, tapi bukannya saat terjepit seharusnya kreatifitas kita memanfaatkan keterbatasan jadi makin terasah? Tanpa tapi seharusnya.. Jangan cuma bermimpi ingin menjadi seorang yang bermanfaat tanpa ada langkah apapun. Jangan terus bermimpi tanpa pernah menjadikannya bagian dari kenyataan suatu hari kelak. Kebahagiaan yang sebenarnya kan adanya di dunia nyata bukan di dunia mimpi.

Masa mau nunggu pasangan hidup mendampingi, iya kalo segera datang, kalau sedikit delay bagaimana? Seharusnya tidak boleh bergantung pada siapapun, pada harap apapun. Hidup memang tidak pernah terprediksi, tapi jangan salah, tidak jarang lebih baik dari apa yang telah kita rencanakan. Jadi, semoga saja saya segera bisa menemukan ‘certain way’ untuk membuat diri saya bisa lebih bermanfaat bagi orang lain, bisa jadi caranya lebih mudah dari yang telah saya rancang, yang penting dimulai dulu actionnya..

Udahan deh meracau tanpa juntrungannya.. Mendadak saya pengen ke salon atau karaokean jadinya, cara memulihkan energi selain menulis. Sedikit quotes penutup, “Things that we don’t know how it came today seems like magic but once we know how to get (or create) it, it becomes science, magic no more” – Dedy Corbuzier.

Bandung, 260113, 21.38

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s