You Can’t Win All The Hearts


Thanks for asking pal, me miss writing so bad… I guess I’m too busy doing sports lately… Hahaa.. As you know, baru-baru ini saya mendapat pelajaran bahwa tidak semua orang bisa kita menangkan hatinya. Banyak orang diluar sana yang hanya menggunakan topeng kebaikan, tidak benar-benar mengartikan kebaikan yang diberikan. Ah, entah saya terlalu polos atau memang manusia terlalu mengerikan untuk bisa dinilai baik, sebaik penampilan luarnya. Tapi hal ini membuat kelemahan saya dalam mempercayai orang lain menjadi kambuh kembali.

Mungkin ini edisi curhat, tapi tidak masalah, semoga diakhir tetap ada hal yang bisa dipelajari. Saya mau berbagi, entah sebanyak apa pertemanan yang terjalin diluar sana di banyak acara dan komunitas-komunitas, tapi untuk menentukan seorang sahabat bagi saya sungguh tidak mudah. Sahabat yang benar-benar mengenali saya luar dan dalam, benar-benar tau apa-apa saja yang saya hadapi, yang benar-benar tau bahwa kadang saya adalah orang yang menyedihkan dan kadang terlampau bahagia dengan hal-hal kecil. Benar-benar tidak mudah menamakan mereka sahabat, yang jadi tempat prioritas untuk sekedar mengurai masalah meski belum tentu bisa mensolusikannya.

Btw, intinya saya sempat kecewa dengan mereka-mereka yang mungkin menilai kebaikan yang saya lakukan justru mengganggu atau lebih parahnya lagi menanggapinya dengan baik dan membiarkan saya menganggap mereka senang-senang saja dengan apa yang saya lakukan tetapi ternyata mengkritik atau bahkan sebenarnya merasa terganggu dan membicarakannya dibelakang saya. Ah, itu sungguh menyakitkan. Mungkin karena saya orangnya saklek, ceplas-ceplos, dan apa adanya jadi saya lebih suka orang mengatakan tidak suka didepan saya daripada memasang wajah baik dan ternyata mengumbar ketidaksukaannya dibelakang saya.

Hufftt,, bukankah untuk itu Tuhan ada sebagai tempat kita meminta yang menjadi satu-satunya yang kuasa mengubah hati? Pada awalnya saya sempat terkontaminasi dan menjadi murung, tapi rasa-rasanya saya kehilangan diri saya jika saya harus murung hanya karena hal tersebut. Masih lebih banyak orang yang menyukai keceriaan saya. Tidak pula peristiwa ini lantas membuat saya memutuskan berusaha menjadi orang seperti mereka yang berusaha sebaik mungkin bersikap ramah padahal di hati penuh kebencian. Bukankah itu menyulitkan diri sendiri? Melelahkan hati yang menjalani. Untuk itu saya menyimpulkan bahwa “We can’t win all the hearts, that’s fine… You just have to keep what you’ve owned and protect it ‘cause it’s fragile..”.

Jika saja saya memutuskan untuk belajar menjadi seseorang yang tetap bisa bermuka manis meskipun dibelakang saya begitu tidak menyukai orang tersebut maka apa bedanya saya dan dia/mereka bukan? Bagi saya sih People talk behind because they don’t have enough courage to talk in the front, mengerikan… Semoga saya tidak pernah kehilangan keberanian untuk setidaknya menjadi diri sendiri tanpa topeng dan tulus menunjukkan apa yang saya rasakan. Btw, apa yang saya sampaikan bukan berarti memberikan rujukan untuk boleh bersikap kasar dengan menunjukkan ketidaksukaan secara blak-blakan untuk menghindar dari kepalsuan berekspresi. Maksud saya, sewajarnya, kalaupun teman-teman tidak suka atau kurang nyaman dengan satu atau beberapa orang disekitar tidak perlu blak-blakan menunjukkan ketidaksukaan tapi tidak juga berbaik hati berlebihan sedang dibelakang teman-teman menjelek-jelekkan mereka. Jaga hubungan sebatas hubungan profesionalitas kerja atau apapun status yang menghubungkan teman-teman dengan mereka. Well, this is just my point of view, feel free to filter it and take just the positive one.

Selalu ada lebih banyak alasan untuk bersyukur

Dan beberapa hari setelahnya saya di-encourage langsung oleh Allah melalui beberapa peristiwa yang membuat saya bangkit dari keterpurukan (hahaa, berlebihan sepertinya). Ah, Allah memang adil sekali memberikan ujian dengan tidak lupa menyertakan penawar diujungnya, lagi-lagi selalu ada alasan untuk merasa bersyukur karena jika kita bisa melihat bahwa dunia ini dibuat dengan komposisi lebih banyak hal positif, that’s what will come to us eventually.. 😀 Saya kemudian menemukan bahwa I can’t give up smile, seriously,,, Maybe not everyone willing to be our friend, some of them destined to be (just) our workmate, businessmate, or playmate, no need to try any harder so we won’t get hurt and we won’t hate them any further..

Haduh,,,, ini bener-bener murni curhat dan berbagi rasa, semoga tetap ada yang bermanfaat.. saya sudahi saja deh.. hehehee

Be Sincere pals!!

Jakarta, 1-21112, 13.54

Advertisements

8 thoughts on “You Can’t Win All The Hearts

  1. bisa dibayangkan histor bagaimananya baik Rasulullah SAW khan? dan kamu tahu berapa banyak yang membenci, bermuka dua… ya khan? tetep saja akhlaq beliau ndak berubah, santun, sedih ya seperti ketika peristiwa thaoif, namun beliau mendoakan agar kebaikan untuk ummatnya, be your self histor, biar saja Allah yang melihat. cmgt 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s