Yang Terbaik


Keluhanmu tidak mengubah takdirmu, syukurmu bisa jadi

– Teddy Prasetya

Ah, saya suka sekali dengan padanan kata itu, penuh energi, membuat diri malu jika harus meminta tambahan kenikmatan dan kemudahan tanpa diawali kesyukuran. Hmmm.. lagi-lagi masih tema yang sama, menganalisa kehidupan, dan kali ini tentang kebaikan pilihan.

***

Pernah tidak teman-teman merasa takut salah memilih ataupun takut salah melepaskan? Belakangan ini saya sering merasa seperti itu. Terus mencari tau sebenarnya parameter apa saja yang harus saya pertimbangkan? Allah sajakah? Allah dan realita di dunia nyata? Atau bagaimana? Jika memang Allah telah membantu kita memilihkan sesuatu, seharusnya bukankah diri kita akan dijauhkan dari kegelisahan dan didekatkan dengan ketenangan? Lalu, jika belum ditemukan ketenangan, apakah berarti parameter lainnya diluar dari parameter keimanan masih meminta untuk dijadikan satu pertimbangan? Saya tidak tau. Saya benar-benar tidak tau. Yang bisa saya lakukan, hanya memekakan diri sepeka-pekanya agar tidak salah menyimpulkan, agar tidak salah menangkap tanda-tanda yang ditunjukkan oleh Allah untuk mengarahkan saya.

Pernah tidak teman-teman merasa harus mempertahankan sesuatu hanya karena takut melepaskannya yang bisa membuat tidak ditemukannya kita dengan yang lebih baik di masa datang nanti? Tapi, bukankah itu berarti telah terjadi pengikisan keimanan, pengikisan keyakinan terhadap janji Allah bahwa setiap umatnya akan diberikan yang terbaik sesuai dengan yang dibutuhkan? Lagi-lagi saya hanya bisa sampai tahap berpikir dan berharap benar-benar bisa menyaring ilmu dibalik setiap kejadian. Seharusnya jika kita yakin apapun yang jadi milik tidak akan tertukar maka tidak akan ada kegelisahan sebagai bentuk kekhawatiran atau ketidakikhlasan akan lepasnya sesuatu yang sedang digenggaman ataupun bergantinya sesuatu tersebut. Wallahuallam…

***

Kembali pada tema tulisan kali ini, saya ingin berbagi tentang kebaikan pilihan berdasarkan kemampuan saya menganalisa kejadian melalui kontemplasi demi kontemplasi. Bagaimana menurut teman-teman yang terbaik itu datang? Yang terbaik menurut saya, yang sudah diusahakan seoptimal mungkin dan sudah didiskusikan dengan Yang Maha Pembuat Keputusan, dan yang terjadi pada saatnya. Sebaik apapun rencana kita, yang terbaik adalah yang terjadi pada saatnya meski jauh dari kebaikan parameter dalam kacamata kita sebagai manusia. Yang terbaik adalah apa yang pada akhirnya tereksekusi, dan yang terbaik hari ini belum tentu jadi yang terbaik untuk keesokan hari.

Saya jadi ingin berbagi cerita menjelang kelulusan saya. Ibu yang selama ini selalu mensupport berbagai kegiatan yang saya geluti tiba-tiba menyampaikan keberatannya untuk saya meneruskan usaha saya untuk bisa ikut kegiatan home stay di Jerman dan meminta saya untuk lebih dulu bekerja. Terus terang saya sangat kecewa, karena ibu selalu berkata ‘mimpilah setinggi-tingginya’ dan saya merasa pernyataan ibu tadi memaksa saya untuk mengekang mimpi-mimpi saya untuk menjadi nyata. Saya kecewa, tapi apalagi yang bisa saya lakukan selain mentaati apa yang diinginkan orang tua, dan saya putuskan untuk focus dulu dengan skripsi saya apapun nanti yang akan saya lakukan setelah lulus. Beberapa waktu berlalu sampai akhirnya saya selesai sidang akhir dan menanti jadwal wisuda, saya coba berpikir positif, sepertinya ibu hanya ingin menempatkan saya di posisi sulit agar saya sesegera mungkin menyelesaikan skripsi, bisa dibilang semacam gertakan. Setelah menurut saya posisi diri sudah sedikit menguat, kembali saya gencarkan usaha saya untuk menegosiasikan rencana hidup saya setelah lulus. Dan benar saja, setelah melalui pendekatan verbal dan non-verbal juga penjelasan yang lebih menyeluruh kepada ayah dan ibu, akhirnya mereka memberikan izinnya. Saya senang bukan kepalang, seolah baru saja timbul setelah lama disuruh menahan napas dalam air. Sebahagia apapun saya pada saat itu, saya tetap memahami, di dasar hati mereka tetap menginginkan saya bekerja agar mereka mungkin bisa lebih focus kepada adik-adik saya, hanya saja mereka terlalu menyayangi saya dan terlalu tidak ingin membatasi mimpi-mimpi saya. Waktu wisuda tinggal hitungan hari, dan saya terus berdoa untuk diberikan yang terbaik, yang saya tidak perlu memaksa diri untuk menjalaninya dan diberikan keridhoan sepenuhnya oleh orang tua. Singkat cerita, doa saya pun terjawab sampai akhirnya saya bekerja ditempat ini, dimana saya tidak merasa berat menjalaninya dan keinginan orang tua pun tercapaikan.

Ah, mudah-mudahan teman-teman bisa mengambil hikmahnya, bahwa apa yang terbaik di hari kemarin memang sesuai dengan kesiapan dan kebutuhan kita saat itu, esok hari, bisa jadi yang terbaik yang akan diberikan jauh berbeda dari yang terbaik di hari kemarin dan hari ini karena pada saat tersebut kesiapan kita sudah jauh lebih baik begitupun kepantasan dan kesesuaian dengan kebutuhan kita. Kadang Allah sebenarnya ingin kita berbelok tapi tidak dengan sekonyong-konyong memberikan tanda belok di perempatan lampu merah. Allah temukan kita dengan pecahan kaca atau duri dijalan sehingga kita harus menghentikan kendaraan kita dan berbelok mencari tukang tambal ban. Allah ingin kita merasa kita berbelok karna kita butuh bukan karna Allah memaksa kita untuk berbelok. Dan seperti kata Oswald Avery “Setiap kali jatuh, coba pungut sesuatu”, jangan sampai sudah jatuh tidak pula kita belajar dari jatuh tersebut. Mungkin jatuhnya kita hanya agar kita bisa melihat tanah lebih seksama dibandingkan langit yang selama ini selalu jadi arah pandang kita.

Kadang memang ada skenario yang cukup serius dan rumit karna bisa jadi hanya melalui skenario seperti itu untuk menjadi jalan tersampaikannya pelajaran. Kadang kita dipaksa belajar sepeda, bukan berarti kita akan diberikan sepeda baru, mungkin besok-besok orang-orang disekitar kita banyak yang memiliki sepeda yang membutuhkan keahlian kita untuk membantu mereka memaksimalkan penggunaannya. Apapun yang dihadapi, analisislah dengan perlahan-lahan, tidak terburu-buru, karna kadang terburu-buru bisa mengurangi penghayatannya dan melemahkan konsistensi pemegangan hasil keputusannya, pun dalam menghasilkan keputusan yang terbaik. Hati-hati, perlahan-lahan, dengan penuh pertimbangan, tapi tidak juga berlama-lama.

Kita dibentuk dari bagaimana kita bereaksi untuk melewati ujian demi ujian, dan tidak ada ujian yang mudah jadi jangan heran kalau kita sampai harus tergopoh-gopoh melewatinya. Akhir kata, seperti kata temen saya “Padi tumbuh tak berisik”, jadi teruslah belajar tanpa disertai keluhan-keluhan, sebaliknya seimbangkan dengan kesyukuran-kesyukuran.

Semakin lebar senyum tidak selalu berarti semakin bahagia seseorang, justru bisa jadi semakin berat beban yang disembunyikan, hanya saja mereka memilih untuk menghadapinya dengan senyuman berharap setidaknya apa-apa yang dihadapi bisa terasa lebih ringan.

Jakarta, 021012, 14.14

Advertisements

7 thoughts on “Yang Terbaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s