Everything happens for a reason


Nothing ever made with no purpose, not (even) a second occurred unplanned, every single thing happened based on God master plan. We just have to put some faith in it that what’s given is the best God nicely destined for us.

***

Jika saya kembali mengurut-urut potongan hidup saya, segala yang terjadi di masa lalu, baik maupun kurang baik, segalany berperan penting membentuk saya di hari ini. Tidak hanya pribadi saya tapi juga dimana saya berada saat ini, apa saja yang saya miliki dan apa yang tidak dimiliki, kebaikan dan kelemahan, cara berpikir dan cara mengelola hati. Segalanya benar-benar hasil dari apa yang terjadi di masa lalu.  Terjadi karena ada tujuannya. Seperti kata Marilyn Monroe

People change so that you can learn to let go. Things go wrong so that you appreciate them when they’re right, you believe lies so you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together.

Bottom line, nothing is useless. Kita dihadapkan pada kehilangan, kekecewaan, kebohongan, keputus-asaan, dan hal-hal yang melemahkan lainnya mungkin karena itu jadi satu-satunya jalan terbaik untuk akhirnya kita bisa memahami pelajaran yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita. Selain ingin menyampaikan pelajaran berharga dibalik setiap hal yang mungkin bisa melemahkan kita sebagai manusia? Tuhan juga ingin mengetahui apakah kita akan berakhir padaNya jika menghadapi masalah yang sulit disolusikan dengan jawaban-jawaban duniawi? Apakah kita juga kemudian ikut menghitamkan sebelanga susu dan menghardik pemberi susu hanya karena kita tidak berhasil memurnikan kembali susu tersebut? Apakah kemudian kita akan menjadi seseorang yang kufur nikmat, yang tidak mampu menukil hikmah dan segudang nikmat disamping satu kesulitan?

 

Seperti kutipan dari Fanspage Tere Liye

Segelas jus pare itu terasa pahit, karena ada di satu gelas, lantas kita minum. Coba tuangkan segelas jus pare itu ke dalam kolam renang, apa masih pahit air kolamnya?

Begitulah pula kehidupan. Rasa sakit, sesak, kesedihan, kesusahan, kesulitan yg kita alami, itu terasa pahit kalau dilihat dari satu titik waktu, coba dibentangkan lebih luas demi masa depan yg lebih baik, demi manfaat bagi sekitar, maka apa tetap terasa pahit?

Jadi, jangan lantas mengkambing-hitamkan pare dengan fitrah rasanya yang pahit hanya karena kita tidak berhasil menemukan gula untuk mentawarkan rasa pahitnya. Itu sama saja dengan mengakui bahwa kita sebagai manusia memang benar-benar tidak luput dari ketidaksempurnaan yang terbatas kreatifitasnya. Ah, jadi inget status teman saya, If you’re still worrying, you’re not praying hard enough.  Jangan-jangan ketika kita mentok, putus asa, dan merasa tidak lagi ada kemungkinan keadaan akan membaik karena kita tidak cukup dekat dengan Tuhan. Jika saja dari awal segala yang kita lakukan diiringi dengan keimanan kepada Tuhan, maka tidak ada harapan yang berujung pahit, tidak ada kenyataan yang terlalu sakit, dan tidak ada perjalanan yang teramat berat.

 

Wallahuallam deh, yang pasti, jangan pernah gagal menangkap pelajaran disetiap peristiwa karena everything happens for a reason dan seminimalnya reason yang didapatkan adalah pelajaran untuk perbaikan masa datang.. Tjiaaooo….

 Jakarta, 260912, 17:03

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s