No such thing as ready


“No such thing as ready, you’re just jump on a moving train and try not to die.”
Movie Quotes

Saya sering bertanya, kapan ya kita taunya kita sudah siap untuk menghadapi hal-hal ‘besar’ yang kita khawatirkan? Bukan sering, tapi sering sekali… terutama disaat harus berpindah dari satu episode ke episode baru dalam hidup dengan tanggung jawab, resiko, dan konsekuensi yang lebih besar. Contoh sederhananya ketika saya masih memakai seragam putih abu dan harus membayangkan dunia perguruan tinggi dimana kita harus mengatur jadwal sendiri, mengejar-ngejar dosen, dsb sepertinya jadi satu tantangan yang wuaahh, g kebayang kalo gak udah bener-bener dijalani dengan menjadi mahasiswa langsung. Seperti juga ketika harus memasuki dunia kerja dengan segala aturan yang mau gak mau harus diikuti dan terpaksa meninggalkan dunia kuliah dengan segala kebebasannya.

Nah, dari pengalaman-pengalaman tersebut dan beberapa pengalaman lainnya, saya menyimpulkan bahwa kesiapan itu kita peroleh disaat tantangan tersebut sampai. Sebenarnya, kalau kita jeli melihat setiap peristiwa yang terangkai menjadi satu masa lalu, kita bisa menemukan kejadian-kejadian di masa tersebut dimana kita sedang diberikan part by part bekal-bekal yang dibutuhkan untuk menghadapi hal besar di hari ini. Yeap, sebenarnya siapnya kita itu kadang sulit terdeteksi sebelum kejadian, tapi yakin deh ketika hal besar tersebut terjadi itu artinya kita sudah dipercaya dan sudah dianggap siap untuk menerimanya. Jadi, jangan lagi bertanya siap atau tidak, tapi yakinkan diri bahwa “Saya sudah siap!” dan layakkan diri untuk menjadi orang yang siap menerima tanggung jawab baru tersebut.

Kita memang akan tau kesiapan kita setelah mengalaminya, dan kadang kita terlambat menyadari bahwa kita sudah disiapkan sebelumnya melalui banyak peristiwa, tapi bukan berarti kita hanya bisa terjun tanpa bekal apa-apa. Kalaupun mau terjun harus tau berapa ketinggian maksimal yang masih bisa ditolerir, bagaimana caranya meminimalisir kemungkinan sakit karena terjatuhnya, seperti apa caranya memperkecil hambatan angin dan hal-hal lain yang membuat kita jatuh jauh dari titik sasarannya, dan lain sebagainya.

The scariest moment is always just before you start – Stephen King
Yeap, sebenarnya terlihat mengerikan pada awalnya, setelah kita masuk dan jadi bagian didalamnya, ya gak semengerikan itu kok, dan yakinlah saat itu kita memang sudah layak dan dianggap pantas untuk berada disana. Sama seperti ketika dulu saya ikut seleksi Lomba Karya Tulis Mahasiswa bersama 2 kakak kelas yang menjadi satu tim dengan saya. Wuaahh, itu yang namanya gak pede abis-abisan dan berasa salah tempat dan gak layak berada ditengah-tengah mahasiswa-mahasiswa lain yang sepertinya mencurahkan lebih banyak waktunya untuk belajar, meneliti, menganalisis dan menghasilkan karya. Karena mau gak mau udah nyemplung n no turn back jadilah dihadapi juga, dan ternyata sebenernya saya dan 2 kakak kelas saya mampu-mampu juga mengejar ritme yang lainnya, dari situ saya benar-benar belajar ya memang kalo dilihat dari luar seolah-olah tidak terjangkau, tapi setelah kita memberanikan diri untuk bergabung didalamnya ternyata kita mau tidak mau jadi bisa menyesuaikan diri dengan sendirinya.

Nothing comes easy…
Well, I’m not trying to make it simpler so that you can underestimate the whole new challenge you’re about to get in. It is easy, indeed, but it won’t be easy if you give no effort at all. Nothing comes easy for those who keep imagining n do no action about it. Hal-hal besar yang akan kita hadapi itu jadi mudah dan kita pun jadi merasa siap dengan, pertama : tidak menggampangkannya dan kedua : menghilangkan prasangka-prasangka yang membuat kita merasa kecil dan tidak mampu menghadapinya. Saya jadi ingat, saya tidak pernah tau bagaimana datangnya satu hal besar kepada saya dan bagaimana kesiapan saya saat itu, dan ketika dihadapi akhirnya saya menemukan, satu bentuk kesiapan yang saya temukan adalah ketika tuntutan-tuntutan yang menjadi parameter kesiapan saya sebelumnya itu tidak lagi jadi pertimbangan utama dan lebih focus kepada hal-hal substansi yang benar-benar mempengaruhi keputusan besar yang akan kita ambil.

Ah, udah deh, kesiapan mah gak ada parameter ukuran mutlak, there’s no such thing as ready, you just have to be ready anyhow, and you have to believe whenever it comes it means you’re ready enough to deal with it.

Jakarta, 110912, 15.25

 

No such thing as ready

Advertisements

4 thoughts on “No such thing as ready

  1. untuk memahami sesuatau secara mutlak adalah dengan melakukannya, dan apakah pemilik blog ini sudah siap menikah, dengan berbagai asumsi yang ada dalam tulisan ini maka saya nyatakan beliau ini siap, hanya saja belum mantap 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s