Belajar Meng-cover


Heyhooo.. apakabar readers??? Hope you all fine..

Saya mau berbagi nie ceritanya, tentang cover-mengcover. Belajar dari apa yang dilakukan adik saya dan pacarnya kepada saya yang setiap pulang selalu ketitipan Keripik Pisang berbagai rasa sebagai tanda pulang-kampungnya saya.

Jadi ceritanya, saya selalu minta dibelikan keripik pisang untuk oleh-oleh, dan adik saya selalu menyediakannya. Ah, memang dia mah reliable. Setiap memberi dia selalu bilang “Kak, ini kemarin tuh adek kan mau nitip beliin keripik ke temennye Fulan (sebut saja demikian – pacar adik saya), eh ternyata Fulan udah nyiapin keripik 5kg macem-macem rasanya buat kakak pulang.”. Dan saya suka terharu, baik banget sie. Lama-lama saya analisis, mungkin memang kadang pacarnya ikut memberikan oleh-oleh tapi tidak sebanyak yang adik saya berikan, atau kadang hanya inisiatif adik saya, intinya adik saya membaikkan nama pacarnya dihadapan saya. Well, bukan berarti kurang baik, saya sendiri dekat dengan pacarnya, tapi jadi lebih baik lagi nama pacar adik dihadapan saya dengan usahanya mengcover.

Kali yang lain misalnya, kepada keluarga yang tidak terlalu saya kenal dekat dan jarang bertemu. Tak jarang ibu membelikan baju atau menyisipkan sejumlah uang kepada anak-anak mereka dengan mengatasnamakan titipan saya yang sedang bekerja di Jakarta. Saya (lagi-lagi) suka terharu, padahal boro-boro terlintas di kepala saya, kadang saya suka bertanya, ibu, itu om yang mana ya, atau itu anaknya siapa ya, sangking jarangnya saya bertemu keluarga besar (yang jauh-jauh). Apa yang adik dan ibu saya lakukan intinya untuk menjaga nama baik orang-orang yang ingin dilindungi, bukan sekali dua kali malah nama kita menjadi baik karena inisiatif perbuatan orang lain.

Saya akui, saya memang kurang peka. Artikel ini pun saya tulis untuk menjadi pengingat saya dikemudian hari tentang bagaimana caranya melakukan inisiatif-inisiatif untuk menjaga nama baik orang-orang yang seharusnya kita jaga namanya. Satu diantaranya adalah pasangan. Penting sekali apalagi bagi kita (kaum wanita) yang memang bertugas menjadi pakaian bagi pasangannya, yang ditugaskan menjaga nama baik pasangan kita.

Ini tidak hanya tentang inisiatif menyenangkan hati orang lain, tapi juga tentang melindungi hal-hal yang tidak seharusnya sampai kepada pihak yang tidak seharusnya mendengar. Ini juga tentang menjaga hal-hal yang sebaiknya disimpan sendiri dan tidak seharusnya sampai kepada mereka-mereka yang akan resah hati ketika mendengarnya. Ini tidak dimaksudkan membiarkan masalah mengendap, mengeruh dan menjadi makin buruk, hanya saja tidak semua yang saya dan pasangan alami lantas disampaikan tanpa penyaringan sebelumnya. Ada yang pantas dipikirkan bersama-sama dengan melibatkan orang lain, orang tua, atau keluarga besar, ada juga yang sebaiknya hanya disimpan berdua untuk menjaga kebaikan nama keduanya dan menjaga ketenangan hati mereka-mereka yang tidak seharusnya mendengar.

Jadi, yuk kita belajar mengcover (membaikkan) nama orang lain. Entah ini masuknya golongan white lie atau bukan tapi menurut hemat saya hal-hal seperti ini perlu dilakukan terutama dalam menjaga nama baik pasangan dikeluarga masing-masing.

Jakarta, 300812, 12.45

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s