Sahabat (Mono[dia]log)


Ini tentang seorang sahabat baik, yang keberadaannya membuat saya berpikir bahwa saya akan baik-baik saja meski tanpa pendamping. Seorang sahabat yang benar-benar tau siapa saya dan bagaimana cara menghadapi saya di segala situasi. Ini tentang proses belajar menjadi lebih baik, yang karenanya saya dan sahabat membuat setiap hari kami penuh dengan pembelajaran untuk membaikkan satu sama lain. Ini tentang proses mengenal manusia melalui banyak sisi, banyak peristiwa, banyak cerita, dan banyak cara penyikapan.

Apa yang membuat pemahaman bisa begitu mendalam? Yang membuat riak-riak kecil tak kunjung menjadi gelombang yang meniadakan? Yang membuat aku dan kamu tetap terus bisa saling mempertahankan? Ah, ternyata kita telah lama bersama.. Ternyata bukan baru kemarin kamu mengenalku.. Bukan hanya hari ini kita pernah terpisah, bertengkar, dan saling merindukan..

Ternyata kita telah lama bersama,,, Ada waktu yang berperan disana… Ada masa tunggu yang membuat semua menjadi berbeda,,, Ada berkali-kali retak yang membuat partikel kita semakin kuat mengumandangkan symbol ‘sahabat’ diantaranya. Ternyata sudah lama kita saling mengekang dan melonggarkan, lalu terciptalah penyesuaian hingga kau dan aku tetap bertahan menjadi sahabat. Sahabat yang sering tergambar seperti sepasang sandal jepit, yang katamu harus berbeda sisi kita agar terjalankan fungsinya dengan baik.

Lalu, bagaimana jika esok hari ada dia yang akan hadir menjadi pendampingku? Apa sebelumnya aku harus menapaki tiap detik waktu hingga menjelma masa yang panjang agar dia bisa mengenalku seperti kamu mengenalku dengan begitu baiknya? Bukankah tidak baik melewati masa perkenalan yang terlalu lama? Lalu bagaimana aku akan yakin dia bisa hidup bersamaku dengan segala kekuranganku? Tidakkah itu terlalu beresiko membuatnya hanya bertahan sebentar lalu pergi?

Lalu kau berkata “Bersahabat tentu berbeda dengan mencari pendamping, mungkin pada awalnya dia memang tidak akan mengenalmu seperti aku mengenalmu, tapi bukan berarti dia tidak akan bertahan selama kita bertahan menjadi sahabat. Tidak perlu juga meminta waktu saling mengenal terlalu lama jika hal tersebut tidak pula menjamin penerimaannya akanmu semakin besar. Kau cukup menanyakan hal-hal yang mendasar, selama dia bisa menerimamu, aku akan membantu mengenalkanmu kepadanya.

Bukankah itu fungsiku, mempercepat pengenalan tentangmu dan menyingkat masa panjang kita bersahabat agar dia bisa lebih cepat meyakini bahwa kamu adalah seorang yang baik. Dan bukankah memilih pendamping tidak hanya berlaku satu arah seperti saat pertama kita bersahabat yang hanya menangkap pheromone yang diingini? Kau pun harus berusaha untuk menerima dan mengerti akannya yang memang benar-benar tidak mengenal siapa dirimu sebelumnya. Penyesuaiannya kelak akan terjalin dua arah, dan aku akan berada diluar sini jika kalian membutuhkan tempat bertanya.”

“Apa aku akan baik-baik saja? Apa memilih pendamping akan membuatku lebih bahagia daripada bersahabat?”

“Kau akan baik-baik saja, sebaik bertahun-tahun kita bersama dengan segala macam ujian yang menghampiri. Kau pun akan lebih bahagia, lebih dari bahagianya kita bersahabat. Kelak, kau akan lebih mengingat pendampingmu daripada aku, kelak kau akan memprioritaskan dia diatasku, kelak kau akan tau, tak peduli seberapa lebih lama waktu kita bersama, pendampingmu akan lebih kau utamakan disbanding aku. Dan memang seharusnya begitu. Aku jadi sahabat terbaikmu hanya sampai kau bertemu pendampingmu, aku harap, kelak kau bisa membuatnya menjadi sahabat terbaikmu. Aku tak akan kenapa-kenapa meski hanya menempati posisi setelahnya.”

“Begitukah? Lalu, akankah seromantis persahabatan kita? Akankah setidak membosankan persahabatan kita? Apa benar-benar akan lebih membahagiakan?”

“Hey, bukankah kau sudah sering bercerita padaku, apa-apa yang kita bayangkan biasanya jauh lebih menyenangkan kenyataan yang dijalani. Aku tidak pernah berkata bahwa semua akan berjalan dengan lancar tanpa cela, tapi duri-duri yang hadir diantaranya akan membuatmu menikmati prosesnya dan menyampaikanmu pada bahagia yang sesungguhnya, bahagia setelah mengarungi perjuangan yang tidak mudah. Sama seperti awal dulu kita bersahabat. Aku yakin dan percaya, pendampingmu akan membantumu menemukan kenikmatan yang membahagiakan meski harus berpeluh disepanjang perjalanannya, pendampingmu tentu bisa menciptakan keromantisan lebih dari persahabatan kita, dan pendampingmu akan menyadari bahwa kau mudah bosan dan akan berusaha membuat hari demi harinya berbeda dan tak kunjung membosankan.”

“Aku tidak berani banyak bicara, aku hanya bisa menjanjikan bahwa menemukan pendamping pasti akan lebih membahagiakan dari sekedar bersahabat, meski harus dibandingkan dengan persahabatn kita yang taka da bandingannya.”

“Aku harap kau tetap ada disana menjadi sahabatku, meski janji kebahagiaan lebih meluap-luap ketika kelak aku temukan pendamping hidupku. Aku harap kita tidak kehilangan ikatan ini meski kelak pendampingku akan lebih mendominasi pikir dan rasaku. Aku harap kau tetap bisa membedakan kapan aku inginkan kau menjadi sahabatku. Dan aku harap kau pun bisa mendapatkan apa-apa yang kau janjikan padaku tentang pendamping hidup masa datang.”

Sahabat, andai kau tau, telah banyak hari yang kita indahkan bersama, telah banyak ruang yang kita ramaikan berdua, telah banyak peristiwa yang kita meriahkan saat melewatinya. Bisa jadi hanya kamu yang menjadikan semuanya menjadi berwarna karena aku belum mampu berbuat sebaik dirimu. Maaf, aku hanya bisa berdoa dan berbuat semampuku, semoga kamu juga sebahagia aku menjalani persahabatan ini.

Jakarta, 230812, 16.00

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s