Repeat The Miracles


Saya ingin bercerita, tentang salah seorang atasan wanita di kantor saya. Sebut saja dia ‘Hana’. So far, she treats me well in a professional way. Hubungan saya dan dia ya sebatas teman kantor saja. Sesekali atasan saya tersebut membantu mengajari beberapa hal baru yang penting untuk saya ketahui. I believe she is a nice person, but as a new comer berasa masih ada batasan, n I think it should be that way, agar kerja kita tetap professional dan kita tetap bisa saling menghargai satu sama lain.

Sampai suatu hari, dia —yang sepertinya tau kondisi saya yang baru kerja dan hidup mandiri tentunya tidak bisa disetarakan dengan teman-teman lain yang mungkin dari penghasilan juga jauuhh lebih besar mengingat pengabdian mereka yang jauhhh lebih lama dari saya— menawarkan untuk mentraktir saya beberapa hal yang tidak bisa saya jabarkan disini. Lebih tepatnya bukan menawarkan tapi berkeras agar saya tidak perlu mengorek pundi-pundi rupiah saya dan membolehkan dia men-treat saya as her sister, her daughter, or as her niece (I may mention as I like). Wah, saya yang sama sekali tidak mengharapkan hal tersebut tentu saja merasa sangat tidak enak, tapi saya benar-benar dipaksa untuk menerima fasilitas yang dia berikan. Saya benar-benar terharu. Atasan saya tersebut mungkin memang tidak menunjukkan bahwa she fond of me, tapi dari actionnya saya bisa merasakan betapa perhatiannya dia. Saya sangat bersyukur atas hal tersebut.

Beberapa waktu selanjutnya, saya dan atasan tersebut lebih akrab, lebih tepatnya sie sudah terasa chemistrynya. Dan suatu waktu, saya bercerita betapa excitednya saya untuk menghadiri undangan PA gathering di kediaman wakil dubes US. “I’m really looking forward to it”, begitulah saya mengekspresikannya, dia pun menanggapi dengan sama senangnya. Tidak lama kemudian setelah atasan saya kembali ke ruangannya, dia kembali lagi dan mengajak saya berbicara “Histo chan, how about using my car to go to the PA gathering?” what?? Saya langsung speechless. She’s just too kind!! Ya Allah terima kasih. Saya jawab lagi dengan diawali rasa terima kasih kemudian saya sampaikan bahwa saya benar-benar hanya ingin berbagi cerita dan saya bisa menyambangi tempat tersebut dengan taxi, kemudian dia menjawab lagi “I know you can use taxi, but my car is not in use, so why don’t you have it for this event.” Lagi-lagi saya dipaksa menerima kebaikannya, dia menjelaskan bahwa dia tau saya hidup sendiri tidak seperti yang lain yang mungkin sudah berkeluarga dan bisa difasilitasi oleh suami-suami mereka. Owhh, how thoughtful she is!! I have no more words to say. Dengan berat hati (sesungguh2nya berat hati) saya terima tawarannya. Bukan apa-apa, karena mobil yang dipinjamkan ber-plat CD yang artinya mobil diplomatic dan saya agak merasa risih saja gitu menerima kebaikan hatinya. Selain menghubungi langsung supir pribadinya, atasan saya tersebut sampai-sampai meng-intruksikan untuk supirnya menunggu saya sampai acara selesai (not just dropping me off) kemudian mengantarkan saya kembali ke apartemen saya (kosan kaliii) baru kembali ke apartemennya. Ah, terima kasih..

***

Saya sebut itu keajaiban.

Bagi saya, salah satu definisi sederhana dari keajaiban adalah mendapatkan sesuatu yang tidak pernah terlintas akan diperoleh sebelumnya. Apalagi kalau bukan keajaiban apa yang sudah saya alami diatas?

Dari dua kejadian tersebut ada pernyataan yang sama yang saya lontarkan menanggapi kebaikan-kebaikan atasan saya tersebut, “How can I pay you back?”. Dan jawabannya selalu sama, “When you come to my age, I hope you can do the same, you’ll know what you can do for other young people”. And I promise I will never forget her important message. Bottom line, she want me to repeat the miracle and pass that to other people. What a nice heart she has. Saya tidak mengkategorikan dia sebagai orang yang baik lantaran saya mendapatkan banyak hal dari dia, tapi karena kebaikannya sampai dan sangat terasa di hati saya, seriously.

The next day, we’re remain the same like the day before. Dia yang sudah melakukan kebaikan tidak membuatnya mengkategorikan saya sebagai seorang yang berhutang budi padanya (walaupun saya merasa demikian, berhutang kebaikan lebih tepatnya) kemudian membuatnya merasa bisa menyuruh saya melakukan apa-apa yang dia mau, berbeda dengan kebanyakan orang yang sepertinya memposisikan orang yang dibantu sebagai seseorang yang selanjutnya berada dibawah tangannya dan bisa disetir untuk melakukan apa-apa yang mereka kehendaki.

Ah, scenarioNya untuk saya bisa belajar memang terlalu cantik untuk bisa dikira-kira, lagi-lagi saya belajar tanpa merasa dipaksa untuk belajar.

Jakarta, 090712, 11:57

Advertisements

3 thoughts on “Repeat The Miracles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s