If We were Them


Setiap saya pulang dari BI senin malam, saya selalu bertemu dengan seorang anak laki-laki bersama cup bekas pop mie yang digunakan untuk menampung recehan berharap ada yang tersentuh hatinya. Suatu kali saya pulang sekitar jam 9 malam, saya lihat anak laki-laki tersebut masih dengan baju yang (sepertinya) sama dengan yang saya lihat sebelumnya dengan posisi yang membuat saya benar-benar ingin berhenti dan segera menawarkan bantal dan kasur yang empuk. Ya, persis seperti dibawah ini, anak ini yang saya sebut sejak awal.

Saat melihat anak laki-laki ini terlelap yang lelapnya terlihat seperti pelarian dari lelah yang terlanjur membebani begitu beratnya, saya benar-benar hati-hati mengambil langkah berharap tidak sampai membangunkan tidur nyenyaknya. Perlahan-lahan tanpa suara. Posenya terlelap mengendap dalam memori saya untuk beberapa waktu, apa yang bisa saya lakukan?

***

Dua minggu selanjutnya, masih dengan rutinitas yang sama, kembali saya berpapasan lagi dengan anak laki-laki tersebut di jam yang sama. Kali ini, anak tersebut masih terjaga, ditemani buku pelajaran dan pulpen. Ah, saya benar-benar tidak bisa untuk tidak sekedar menyapa anak tersebut. Saya hampiri dan menyempatkan bertanya “Masih sekolah dek? Kelas berapa? Dimana? Disini sampai jam berapa?”, dijawab oleh anak kecil tersebut “Masih kak, kelas 3, di ________, disini sampai jam 11.” Ya Allah, saya benar-benar tidak bisa berpikir dan langsung buru-buru pulang. Kebetulan sedang ada adik saya yang sedang berkunjung, dan saya langsung menceritakan semuanya. Oh Allah, terlepas dari apakah memang anak kecil tersebut melakukan rutinitas mangkal di tempat tersebut untuk sebenar-benarnya membantu biaya sekolahnya atau tidak, saya tetap merasa bersedih dan bersyukur.

Sedihnya saya (diluar dari kemudahan saya tersentuh oleh anak-anak) disebabkan oleh teringatnya saya dengan adik-adik yang masih kurang lebih seumur anak kecil tersebut. Saya merasa seperti melihat adik saya melakukan itu. Ah, mereka seharusnya hanya tau bermain dan bersenang-senang, menimbun memorinya dengan berbagai keceriaan dan kejahilan masa kecil, sedang anak kecil tersebut kehilangan masa kecilnya. Saya tidak tau apa yang ia lakukan disiang hari, tapi semoga saja masih ada satu waktu untuknya bisa mengenyam keindahan masa kecil. Saya teringat dengan segala hal yang terjadi pada saya dan keluarga, saya mungkin tidak bisa membantu banyak, tapi yang harus saya pastikan, adik-adik saya tidak kehilangan masa-masa kecil yang bahagia.

Saya bersyukur, dipertemukannya saya dengan adik kecil tersebut membuat saya merasa jauh lebih beruntung daripada orang lain. Allah tidak pernah tidak adil, Allah adil kepada semua makhluknya sesuai dengan porsinya. Dan saya yakin, Allah tidak hanya memberikan ujian kepada anak kecil tersebut, selain bahu yang lebih lebar dari ujian yang dibebankan, Allah juga pasti menganugrahi kenikmatan yang mungkin tidak terlihat secara kasat mata oleh saya bahkan mungkin oleh anak kecil tersebut.

Ah, saya tau saya tidak membantu banyak dan anak tersebut sudah memberi banyak pelajaran pada saya, saya mungkin hanya bisa membantu doa, semoga dia tegar dan bisa melihat segalanya sebagai sebentuk hal yang patut disyukuri. Bagaimana jika saya jadi anak tersebut? Rasanya tidak terbayangkan, dan lagi-lagi saya patut berterima kasih atas segala hal yang telah diberikan oleh Allah pada saya sampai saat ini.

Selalu ada langit diatas langit, dan ada lapisan bumi lainnya dibawah bumi..

Jakarta, 260612, 10:18

Advertisements

4 thoughts on “If We were Them

  1. mantappppppppppppppp, menyadarkan akan kenikmatan yang sudah kita miliki dan kita nikmati. walau terkadang kita melupakanya……….. thanks histor god bless you

    • iya, bener tuh, kan kita harus saling mengingatkan, semoga tulisan ini selain mengingatkan histor juga bisa mengingatkan yang lainnya…
      makasih udah mampir,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s