Disitu (seharusnya) Langit Dijunjung


danbo

Saya rasa sudah banyak teman-teman yang mendengar berita tentang terbunuhnya seorang wanita Jepang oleh pekerja yang merenovasi rumahnya yang disinyalir terpicu karena emosi dan sakit hati atas perkataan almarhumah. Miris sekali mendengar berita ini, pertama karena beliau adalah teman sekantor saya, meskipun tidak kenal dekat tapi sempat beberapa kali berpapasan dan terlihat bahwa beliau adalah orang yang ramah dan santun. Kedua, penyebab kematiannya membuat saya banyak menyayangkan, tidak seharusnya semudah itu menghabisi nyawa orang lantaran sakit hati.

Diluar kemirisan saya atas kejadian tersebut, saya banyak mengambil hikmah dari kepergian salah seorang rekan kerja ini. Hikmah paling pertama yang saya dapatkan adalah tidak terputusnya doa untuk meminta akhir hidup yang baik, yang Khusnul Khotimah. Siapa pernah menyangka, orang sebaik dan seramah beliau menemui akhir hidup dengan cara yang mengenaskan. Dan kita sama sekali tidak tau bagaimana kali terakhir kita menghembuskan napas nanti, akankah kita masih diberi kesempatan untuk kembali bersyahadat dan meninggal dengan cara yang baik? Ataukah kita akan mengalami sakaratul maut yang tak terkira rasa sakitnya? Astagfirullah.. Naudzubillahimindzalik,, Wallahuallam…

Selain hikmah tersebut, saya benar-benar merasa diingatkan sebagai manusia yang tak luput dari dosa, termasuk dosa yang sering tanpa sengaja tercipta dari ucapan yang menyakitkan hati atau sikap yang merendahkan orang lain. Wallahuallam bagaimana almarhum bersikap terhadap pekerja yang merenovasi rumahnya yang mungkin bisa jadi diposisikan lebih inferior dari dirinya, tapi yang pasti saya jadi merasa diingatkan untuk lebih hati-hati dalam berkata dan bersikap. Sempat terdengar hipotesis mengenai perbedaan nilai dan cara bersikap orang Jepang dan orang Indonesia. Bisa jadi sebenarnya bagi orang Jepang mengucapkan hal A tidak seharusnya membuat hati dan atau harga diri seseorang terlukai and they will count that as a professional matters begitupun sebaliknya. Sedang bagi orang Indonesia, even if it’s clearly reasonable to be judged as the one responsible on a mistake in profesional matters, Indonesian wills categorize that as a social value or we used to name it ‘common sense’.

Untuk kasus ini, bisa jadi penyebabnya sepele tapi karena perbedaan nilai dan cara pandang tadi menyebabkan hal kecil bagi pihak A menjadi hal besar bagi pihak B. Ini pentingnya menyesuaikan diri untuk menjunjung langit ditempat dimana kita memijak bumi. Bahkan Almarhum rekan kerja saya yang sudah bekerja bertahun-tahun di Indonesia (dan notabene sudah terdaftar menjadi WNI) pun masih mungkin menerapkan nilai yang berbeda yang memang telah ditanamkan dari tanah kelahirannya tempat dimana ia tumbuh dan berkembang.

Begitu pentingnya menyesuaikan diri di tempat kita berada, menyesuaikan dengan norma-norma kebaikan yang dijunjung di tempat tersebut dengan tidak mengesampingkan hal-hal prinsip yang kita jadikan nilai hidup kita pribadi.

Mari lebih aware untuk menghargai nilai-nilai setempat, dan mari menjaga sikap dan perkataan kita. Let’s be better!!

Jakarta, 060612, 11.27

Advertisements

6 thoughts on “Disitu (seharusnya) Langit Dijunjung

  1. tidak semua yang nampak mengenaskan adalah suul khatimah, dan tidak semua yang nampak indah adalah khusnul khatimah, kriteria ini dikembalikan kepada niatan yang di pegang saat nyawa meregang… maaf sekedar berbagi pemahaman…. 🙂

  2. Semoga arwahnya diterima disisi Tuhan YME..sungguh kejam banget pembunuhnya, semoga Allah memberikan balasan yang setimpal kepada nya..salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s