Pesan Ibu (2)


2008

Tunjukkan pada ibu bahwa bumi itu kecil dan ujung dunia itu dekat, hingga bisa dijangkau dalam satu hari.

Itu adalah pesan ibu saya ketika pertama kali saya akan membuat sejarah berjalan-jalan ke negeri ginseng, Korea. Ibu selalu bilang, kita boleh saja miskin harta tapi kita tidak boleh miskin ilmu dan informasi. Tapi kenapa harus miskin harta kalau ternyata kaya ilmu bisa membuat kita kaya hati dan kaya harta pula, hehehe. Kalau kata pak Dahlan Iskan sie “Miskin Bermartabat, Kaya Bermanfaat”. Pilih kaya bermanfaat deh kalau begitu. Kalau bisa jadi orang kaya harta kan jalan untuk meningkatkan keimanan dan kelimpahan hati pun jadi lebih lebar. Anyway, bukan soal kaya yang mau saya bahas. Saya ingin bercerita tentang bagaimana orang tua saya terutama ibu saya menanamkan jiwa-jiwa pembentuk sejarah dalam diri saya dan adik-adik sehingga saya selalu terus berusaha untuk menjadi berbeda dan lebih baik. Bukan, bukan lebih baik dari orang lain, tapi lebih baik dari diri saya di masa lalu.

Banyak orangtua yang menangis melepas anaknya yang akan menuntut ilmu di sebrang pulau, bahkan sebagian orangtua sampai merelakan terlepasnya kesempatan hanya karna kekhawatiran keselamatan anak ketika jauh dari mereka. Tidak dengan orangtua saya. Saya dan adik-adik dididik untuk tangguh dan kuat. Terkhusus untuk saya, saya selalu jadi yang pertama mengajukan diri untuk tinggal jauh dari orang tua demi menuntut ilmu dan mengejar suatu hal yang mereka yakini akan berimbas baik bagi saya di masa datang. Tak perlu waktu lama, mereka pun akan mengiyakan selama resiko masih dalam perbandingan yang wajar dengan hasil yang akan diperoleh. Dari sini pula saya tanpa sadar telah diajari bagaimana cara bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pilihan yang saya ambil.

2012

Tunjukkan pada ibu bahwa hati itu besar sehingga bisa dengan mudah kita kuasai.

Dan kata-kata diatas disampaikan ibu saya ditahun ini, tahun dimana cobaan sudah lebih tinggi dari hanya sekedar menerima kekecewaan. Ibu bilang, “Buktikan bahwa hati itu besar nak, tapi tetap bisa kita kendalikan dengan baik. Buktikan bahwa hati kita cukup besar dan cukup kuat untuk menghadapi setiap tantangan yang diberikan Pencipta. Buktikan bahwa hati kita cukup besar dan cukup luas untuk mampu berbagi dalam ketiadaan. Buktikan bahwa hati kita cukup besar dan cukup bersih untuk memberi tanpa mengharap imbalan.”

Seringkali untuk dapat menemukan kebesaran hati kita harus melakukan perjalanan hati dan berhadapan berkali-kali dengan tantangan yang menguji kekuatan hati. Sometimes it takes a good fall to know where you stand, how high you are from the bottom, and how well you can bear the fall. Lebih dari hanya sekedar membuktikan kebesaran hati, tapi juga membuktikan bahwa hati kita cukup kuat untuk menerima segala macam hal yang mampir dan menjejak memori.

Energy will flow where the attention goes. So pay attention on the good things in life, it will give a good impact to you. Most of the times, it seems like a big waste of energy, but remember, good result take a little more patience, and requires a lot of faith but it (seriously) worth the wait. Fight for what you want or else don’t cry for what you lost.

As usual, I end up write anything passing by my mind. It’s probably nothing for you, but as Bryan Dyson said “Value has a value only if its value is valued”, I guarantee you that you’ll find something only if this value is valued. Hahaha… Last but not least, let’s love our parents to the fullest, we might have been growing up, but they’re also growing old. Before it’s too late to have them close, we better hug them tight.

Have a nice weekend… See you 10 days later… Hohohohooo…

Jakarta, 200412, 15.15

Advertisements

2 thoughts on “Pesan Ibu (2)

  1. Dear Histor…. benar2 banget apa yang ibu Histor bilang.. 🙂 Aku juga punya cerita berkesan menjelang perjalanan pertamaku.. waktu itu tahun 2008, menjelang program IELSP. Ibu memberiku kain batik pertama, dengan motif “sekar jagat”, motif yang terbilang jarang dipakai… Lalu ibu bilang, ke manapun km pergi, mekarlah jadi bunga yang indah.. T_T. Siapa menyangka, itu adalah langkah awal dari perjalananku sekarang.. Dan kemanapun pergi, kain itu selalu kubawa. 🙂

    • Wuaaahhh riaaa,, sejarah itu tuh yang gak boleh dilupa, karena kalimat ibu kita itu yang jadi doa sampai kita seperti kita saat ini… Ah, tapi kalau mau di compare sama ria, aku sie maluuu,,,, g ada apa-apanya dibanding Ria yang udah banyak gelar dan pengalaman dimana-mana…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s