Drop your pride for a little while


Drop your pride, in your most critical time..

Saya pernah mengenal beberapa orang yang memiliki gengsi yang sangat tidak tanggung-tanggung dijunjung, bahkan sepertinya saya pun bagian dari orang-orang bergengsi tinggi tersebut beberapa waktu yang lalu. Gengsi yang tidak mengenal tempat, waktu dan situasi, selalu dijunjung tinggi dan tak pernah tergadaikan bahkan meski harus terkorbankan hal lain yang semestinya bisa diselamatkan hanya dengan menurunkan sedikiiiitt saja kadar gengsi tadi.

Tersebutlah seorang kakak yang akhirnya tanpa sadar (dalam pandangan saya yang serba terbatas) mengorbankan adiknya karena gengsi yang terlambat dilepas hanya untuk meminta tangkupan tangan dermawan agar adiknya bisa menyelamatkan pendidikannya. Bukankah selama kita berusaha maka akan selalu ada jalan menuju rejeki? Ya, rejeki yang sebenarnya sudah tersaji begitu jelasnya dan menanti untuk dihampiri dengan sedikit usaha untuk bertanya dan menanyakan. Gengsi dalam kasus seperti ini membuat pertolongan yang sudah didepan mata tidak diindahkan alih-alih harga diri yang begitu tinggi untuk tidak mau direndahkan orang lain. Pada akhirnya pertolongan tetap dipinta namun ketidaktepatan waktu membuat pertolongan tersebut jadi nonsense dan sama sekali tidak berefek apa-apa.

Saya analogikan seperti seorang yang sedang dalam kondisi sangat kelaparan dimana ia diharuskan mengkonsumsi makanan apapun agar tidak kambuh mag yang dideritanya. Namun pada saat itu kondisinya sedang tidak memiliki uang sepeserpun dan stok makanan pun tak lagi tersisa. Karena biasa menjadi orang yang berkecukupan kebutuhannya dan saat ini harus dihadapkan dengan kondisi serba kekurangan membuat gengsi akan penilaian orang terhadapnya sebagai orang yang serba ada pun menghentikan selintas pemikiran untuk meminta pertolongan teman. Lama berpikir sampai akhirnya ketika perutnya sudah mulai terasa melilit barulah diutarakan permintaan tolongnya kepada teman terdekat saat itu. Gengsi dan harga diri pada akhirnya tetap harus dilepaskan sejenak dari pundak kepongahan namun pertolongan tak lagi sampai di waktu yang tepat. Mag tidak tertangguhkan dan temannya tetap tahu kondisinya saat itu yang sedang kekurangan. Nah, kondisi seperti ini nie yang seharusnya bisa dipertimbangkan untuk sejenak mengesampingkan pride dan menyelamatkan yang semestinya bisa terselamatkan.

Kita harus sekali mempertahankan harga diri kita agar tetap dapat berjalan tegak meski dalam kondisi serba kekurangan, akan tetapi bukan berarti penjunjungan harga diri tersebut dilakukan tanpa kenal waktu. Ada waktu-waktu kritis yang memang mengharuskan kita bijaknya mengesampingkan gengsi dan harga diri demi menyelamatkan hal yang lebih besar lagi. Untuk kondisi-kondisi seperti yang saya analogikan diatas kita sama sekali tidak sedang menggadaikan harga diri kita, justru kita sedang dalam ujian kedewasaan dalam pengambilan keputusan yang bijak untuk kondisi-kondisi krusial seperti ini.

Seperti lazimnya tulisan saya yang bisa disambung-sambungkan kemana saja saya mau, dan seperti yang sudah bisa teman-teman perkirakan , kali ini pun saya akan menghubungkannya dengan masalah ‘rasa’, gengsi ini juga biasa terjadi dalam kasus X dan Y (Adam dan Hawa). Kali ini saya ingin memberikan contoh kasus dari salah satu film korea favorit saya “Playful Kiss”. Kisah tentang seorang wanita, Oh Ha Ni, yang sudah blak-blakan bertahun-tahun flirting kepada seorang pemuda tampan dan pintar yang menjadi pujaan wanita-wanita disekelilingnya, Baek Seung Jo. Begitu banyak usaha yang ia lakukan hanya untuk bisa berada lebih dekat dan memperhatikan lebih baik lelaki pujaannya.

Tidak perlu saya ceritakan bagaimana usaha-usaha Oh Hani untuk bisa meraih hati Baek Seungjo sang pangeran pujaan hati, langsung saja pada adegan ketika seorang teman sekolahnya (yang juga tak kalah lama telah menaruh hati pada Oh Hani), Jong Gu, menyatakan keseriusannya ingin menjadikan Oh Hani tidak hanya menjadi wanita pujaannya tetapi menjadi wanita miliknya (pasangan hidup). Oh Hani yang pada saat itu sedang berada diposisi hampir menyerah pun sempat menimbang-nimbang dengan serius untuk pada akhirnya memilih Jong gu yang sudah setia sejak dulu menanti dia apa adanya dengan segala kecerobohan dan kebodohannya.

Baek Seungjo yang awalnya tak tau menau soal lamaran Jong gu akhirnya mendengar rencana Oh hani untuk memberikan jawaban diwaktu dirinya mendengar berita tersebut. Baek Seungjo yang mulai menyadari bahwa dia pun menyukai Oh Hani kemudian berkata dengan egoisnya “You always like me, and I know you can’t like anybody except me.”. Hani pun serta merta menjawab “Yes, I always been in like with you, but you never look at me even once, should I hold on to this feeling while Jong gu is always there waiting for me and ready to grant me a happy life?”.

Well, memang saya lebih-lebihkan percakapannya, ditambah luapan emosi pribadi sebagai seorang penonton yang suka mendramatisir. Percakapan tidak akan saya teruskan, yang pasti pada akhirnya setelah Baek Seungjo berani mengesampingkan sedikit harga dirinya sebagai seorang yang nyaris sempurna dan mau mengakui bahwa dirinya menyukai Oh Hani yang amat berbeda darinya ternyata cinta pun terselamatkan, dan dia tidak harus kehilangan seseorang yang begitu tulus menyukainya sekian lama. Ini sie endingnya masih membahagiakan, bagaimana jika saja Baek Seungjo terlambat mengutarakan rasanya setelah Oh Hani menjawab lamaran Jong gu? Yang tersisa hanya sesal, karena belum tentu ada orang lain yang bisa menyukainya sebesar kesukaan Oh Hani padanya.

Luruhnya gengsi dan harga diri dalam mengakui kekalahan yang sebenarnya membawa kita pada kebahagiaan ternyata perlu kita lakukan at some critical situation. Tantangannya adalah kita harus bisa peka menyadari when will be the right time for us to drop our pride for several things that worth to keep alive time?. That’s why kita harus sering mengasah kebijakan kita dengan sering-sering menilai baik dan buruknya sebelum mengambil keputusan yang tidak tepat yang akan menyisakan sesal sepanjang sisa hidup kita.

Kenapa? Karena selalu ada waktu yang menjadi pembatas alaminya.
Waktu yang membatasi kemampuan lambung untuk mempertahankan ke-basa-annya. Waktu juga yang membatasi kesungguh-sungguhan serta kekonsistenan rasa dari seorang yang sebenarnya amat sangat pantas kita pertimbangkan untuk menjadi teman hidup kita. Seperti kekonsistenan saya saat ini dalam menunggu seseorang yang saya yakini terbatasi waktu hingga pada akhirnya saya diharuskan untuk move on and make a life rather than wasting my time on having an eyes for some random man that don’t even have a glare on me.

Untuk teman-teman yang merasa selama ini terlalu menjunjung gengsi dan harga diri, hati-hati, karena tidak tau sampai kapan seorang yang sangat layak kita pilih mampu bertahan untuk tetap menjadi salah satu pilihan kita. Untuk teman-teman yang selama ini terus melihat pada satu orang yang sama, tetaplah konsisten tapi beri tenggat waktu karena hidup harus tetap berjalan, you like it or not. Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi dengan tidak berusaha menjadi lebih bijak dan baik dari hari kemarin. There might be someone else worth your love and your sincerity.

Untuk kamu yang terus tertangkap sudut mata ini, semoga kamu menyadari bahwa aku mungkin punya nilai berbeda yang bisa menutupi kekosonganmu dibandingkan mereka yang kau anggap ideal.

Jakarta, 200212, 23.42

Aurora Borealis

Advertisements

One thought on “Drop your pride for a little while

  1. mengambil keputusan adalah fitrah bagi manusia, walau terkadang “merasa” salah dalam mengambil keputusan. sejatinya mengambil keputusan bukanlah akhir melaikan awal untuk sebuah kejadian. maka ambillah keputusan dan yakinkan dalam diri keputusan yang diambil adalah yang terbaik pada masanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s