The Impossible Possibility


If it’s hurt, it’s probably worth it…

Yes, that’s once said by a wise man. Bisa jadi terasa sakit karena memang hal yang terpaksa kita lepaskan atau terlanjur hilang tersebut cukup berharga untuk dipertahankan dan dijaga dengan baik. Sampai beberapa waktu yang lalu pemahaman saya baru sebatas itu, hingga akhirnya hari Minggu yang lalu ketika saya memutuskan untuk berkunjung ke Istiqlal setelah cukup lama tidak dapat siraman rohani yang rutin dengan mudah didapatkan dahulu kala.

As I mentioned, saya akhirnya bertandang ke Istiqlal dimana ada AA Gym dan Ust. Salim A. Fillah disana. Temanya kurang lebih tentang ‘mensyukuri kepahitan hidup’. Lah.. kepahitan hidup kok disyukuri?? Ya memang seharusnya begitu, karena sebenarnya kepahitan hidup yang diberikan kepada kita tidak lain hanya bentuk kasih sayangNya untuk membersihkan dan menggugurkan dosa-dosa kita juga untuk menyampaikan pelajaran tentang hubungan vertical kita yang parameternya tidak bisa diukur dengan parameter duniawi.

Tersampaikanlah beberapa hal tentang kepahitan hidup yang sempat saya catat dalam notebook kecil saya, tapi yang paling saya ingat adalah statement beliau kurang lebih begini “Ketika kehilangan sesuatu/seseorang terasa sakit, coba cek ke-Ilahi-annya, jangan-jangan selama ini kita telah menuhankannya dengan menjadikan hal tersebut diatas Tuhan.” Astagfirullah, saya serta merta mengelus dada dan beristighfar, jujur saya pernah merasakan kehilangan akan sesuatu atau seseorang, jangan-jangan pada saat itu posisi hal tersebut sudah diatas Pencipta kita. Wajar saja jika suatu saat kelak kita dipisahkan dari hal yang lebih kita cintai tersebut, karena sebenarnya Pencipta kita hanya ingin kita kembali sadar bahwa seharusnya kita tempatkan Dia sebelum hal lainnya.

Sebenarnya mudah saja untuk menghindari keterjebakan diri dalam kepahitan atau kesulitan hidup yang menghampiri, selain dengan mengembalikan segala hal yang dialami kepada Sang Pembuat Skenario terbaik agar bisa diperoleh ikhlas dalam menghadapinya, kita juga bisa meminimalisirnya dengan mempersiapkan diri terhadap semua probability. When we decide to choose something, make sure we spare some room for the impossible possibility. Iya, siapkan juga diri untuk menghadapi kemungkinan yang tidak mungkin. Misalnya, kita berencana lulus kuliah tepat waktu dengan IP cumlaude, akan tetapi ternyata kenyataan yang terjadi malah sebaliknya, dan karena hal tersebut tidak pernah masuk dalam rencana akhirnya kita dibuat terjebak dalam kekecewaan seolah-olah kita telah benar-benar gagal dalam mengeksekusi rencana kita.

Memang kita harus berbaik sangka dengan tetap berpikir bahwa target-target kita dapat tercapai selama kita keep on track and obedient on every deadline we’ve decided tapi sebenarnya berbaik sangka yang paling baik adalah dengan tidak lupa untuk mengestimasikan persentase hak prerogative pemilik kita dalam menentukan mana yang terbaik untuk kita pada akhirnya. Kita kan hanya diberikan kemampuan melihat yang kasat mata dan merasakan yang tidak kasat mata, yang tau semua alur cerita ya hanya Sang Pencipta.

Ngomong-ngomong nie, yang saya maksud disini bukan hanya kemungkinan terhadap hal-hal yang kurang baik yang mungkin terjadi saja tapi juga hal-hal yang mungkin terjadinya jaaaauuuhhh lebih baik dari yang kita harapkan. Jangan sampai lupa, bahwa kebahagiaan itulah sebenar-benarnya ujian. Ketika kita berkesempatan untuk mendapatkan nama baik dimata orang lain, sanjungan, pujian, sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanya kemurahan Pencipta kita kepada hambaNya. Hanya karena kemurahanNya yang masih berkenan menutupi aib-aib kita, hanya karena kemurahanNya yang mengizinkan kita untuk merasakan bagaimana rasanya dianugerahi kehormatan. Dan kita, sebaiknya jangan lengah, pintar-pintarlah mencari celah untuk bersyukur. Ucapkan Alhamdulillah atas kenikmatan yang diberikan, astagfirullah untuk ujian menyandang hal-hal yang bisa melenakan, dan innalillah untuk segala hal yang selayaknya hanya untukNya kita kembalikan.

Menyenangkan sekali rasanya bisa menulis tentangNya di pagi ini, rasanya rasa kangen ini tidak pernah ada ujungnya. Bicara soal kangen, apakabar ya ‘dia’ yang sedang dalam perjalanan? Semoga kamu baik-baik disana. Semoga ketika kita bertemu, rasa kangenku padaNya bahkan berlipat-lipat lagi jumlahnya.

Jakarta, 170212, 08:49

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s