Rejeki – Pelajaran dari seorg teman


Suka berbicara lama-lama ditelpon tidak berarti saya hanya menghabiskan waktu luang tanpa memperoleh pelajaran apapun dari pembicaraan panjang saya dan teman, seperti kali ini, ketika saya dan teman berbicara mengenai rejeki.

Teman saya yang satu ini cukup unik dengan segala hal yang berada disekitarnya, dan kalau berbicara mengenai rejeki, dia salah seorang yang pantas untuk didulang ilmunya karena sudah banyak kejadian-kejadian ‘ajaib’ (kaitannya dengan rejeki) yang dia alami. Dimulai dari (dari mana ya??) salah satu topik komparasi mengenai pekerja dan wirausaha, diawali dengan ngotot-ngototan (sebagai pekerja yang tidak mau dipandang rendah) dan diakhiri dengan mengangguk-angguk tanda setuju. Teman saya ini menyampaikan bahwa pekerja itu ibarat kambing gembala, yang kemudian saya pakai istilah ini untuk manusia pada umumnya. Ya, manusia pada umumnya seperti kambing gembala, kenapa demikian? Coba teman-teman perhatikan kambing gembala (atau hewan gembalaan lainnya), kambing gembala akan dengan segera berkumpul ketika penggembala membawa rumput yang menjadi makanan pokok mereka, sebaliknya ketika pemilik tanah (yang tanahnya dipakai sebagai tempat tumbuhnya rumput-rumput) datang, tidak ada satu kambing pun yang tertarik untuk menghampiri.

Itulah manusia (termasuk saya), yang sering sekali lupa bahwa rasa terima kasih itu hakikatnya bukan untuk mereka (manusia lainnya entah itu bos, teman atau stranger sekalipun) yang menjadi perantara sampainya rejeki ke tangan kita. Rasa terima kasih seharusnya diberikan kepada Sang Pemilik Tanah (ALLAH) yang telah dengan murah hatinya membiarkan rumput-rumput rejeki tumbuh subur dan telah dengan baiknya membuat si perantara rejeki (penggembala) menemukan rumput-rumput rejeki tadi untuk sampai ke tangan kita. Oh, Allah, sangat sering sekali saya dan manusia lainnya salah memposisikan engkau setelah makhluk lainnya. Astagfirullah. Mudah-mudahan dengan bantuan analogi kambing gembala ini, kita bisa lebih sering ingat untuk meminta dan berterimakasih kepadaNya lebih dulu sebelum yang lainnya. Amin…

Setelah berbicara tentang rejeki dan bersentuhan langsung dengan kasus-kasus pemohon rejeki yang desperately menginginkan sekarung uang jatuh dari langit, suatu hari saya termenung dan sampai pada satu kesimpulan sederhana menyambung pernyataan teman saya yang menyampaikan bahwa kita tidak perlu takut rejeki kita akan tertukar atau tersasar dijalan menuju kita. Sudah janji Allah kan bahwa ketika terlahir ke dunia manusia sudah memiliki jodoh rejeki dan mautnya masing-masing. Istilahnya (menurut teman saya) tanpa berusaha pun rejeki tetap akan sampai kepada kita, tapi untuk sampai pada rejeki tersebut memang kita diharuskan untuk berusaha. Nah, terkait dengan pernyataan teman saya tersebut dan kembali pada perenungan saya tadi, saya sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya sangat tidak baik menyebut sesuatu yang memberikan hasil negatif dengan ‘bukan rejeki kita’. Menurut saya, segala sesuatu yang sampai pada kita, baik maupun kurang baik (menurut kita) sebenarnya adalah rejeki yang terbaik dari Allah. Sejak perenungan saat itu, saya jadi berhati-hati dengan kata-kata ‘bukan rejeki’. Allah sudah punya rencana sendiri untuk kita dan masa depan kita jauhhh lebih baik dari apa yang bisa kita khayalkan. InsyaAllah.

Nah, jika saat ini kita kehilangan harta, berdoalah semoga kita diberikan kerelaan hati untuk mengikhlaskan apa-apa yang pada awalnya memang bukan milik kita, dan jika kita diberikan nikmat rejeki berlimpah, berdoalah semoga nikmat (yang terkadang hanyalah bentuk lain dari ujian) ini tidak menjauhkan kita dari jalan Allah.

Selamat menjadi lebih baik teman-teman…
Jakarta, 150112, 15:53

Aurora Borealis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s